Digital clock

Minggu, 05 April 2015

cerpen

WARUNG PAKDE
oleh : Mala Nopita Sari

Begitu jam kuliah telah usai, tepatnya jam 12 siang, aku bersama teman-temanku bergegas meninggalkan ruang kelas. Setibanya di depan gedung A kampus, mataku langsung tertuju ke depan warung kecil yang telah ramai dikunjungi para pembeli. Warung kecil itu sering ku sebut “Warung Pakde”. Ketika kakiku menuruni anak tangga gedung kampus dan menuju ke warung Pakde pemandangan ramai riuh sudah terlihat disana sampai-sampai Pakde si pemilik warung itu sama sekali tak terlihat wajahnya.
Warung itu memang bisa dibilang kecil dan memiliki ruang yang sangat terbatas mungkin hanya sekitar 20 orang yang bisa masuk di dalamnya, warung itu juga sangat pengap dan panas dikarenakan tidak ada jendela ataupun fentilasi di langit-langit udara tetapi selalu saja banyak mahasiswa dan juga mahasiswi yang berkunjung kesana, mungkin jajanan yang murah meriah dan tempat yang nyaman untuk sekedar berkumpul dan mengobrol menjadi alasan untuk tetap menjadi pelanggan setia Pakde.
Warung Pakde menjual makanan kecil atau camilan yang enak dan juga cocok untuk kantong kami para mahasiswa. Makanan kecil itu berupa tahu bulat, cireng dengan aneka rasa seperti rasa sosis, ayam, baso, keju dan masih banyak lagi rasa yang lainnya. Bukan hanya sekedar makanan ringan Pakde juga menjual minuman teh yang sering disebut teh poci. Teh poci Pakde itu dijual seharga 3.000 rupiah, cara menyajikan teh poci pun dengan menggunakan mesin pemanas untuk merekatkan gelas plastik dengan tutup yang terbuat dari plastik pula. Gelas teh poci itu pun sangat beragam gambarnya dan terkadang aku sering memilih gambar yang aku senangi. Di dalam warung Pakde itu hanya terdapat enam meja yang diatasnya terdapat dua botol sedang yang berisikan bubuk cabai dan juga garam. Bubuk cabai dan garam itu dicampurkan bersama tahu bulat panas memang menjadi santapan nikmat jika sudah disatukan.
Tepat di pojok warung Pakde terdapat satu kompor gas besar yang berfungsi untuk memasak tahu bulat dan juga merebus air panas untuk teh poci. Di pinggir kompor tersebut terdapat westafel kecil yang seharusnya digunakan untuk mencuci piring dan juga gelas tetapi westafel itu tidak berfungsi karena tidak mengeluarkan air, sehingga jika Pakde ingin mencuci piring Pakde harus mengambil air di warung sebelah dengan satu buah ember kecil miliknya. Satu etalase besar menempel di dinding dekat westafel, di kaca etalase itu terdapat tulisan “Sedia Soto Ayam” tetapi ketika mataku melihat ke arah etalase tersebut aku sama sekali tidak melihat panci besar berisi soto atau irisan bawang dan juga potongan jeruk nipis disana, yang kulihat hanyalah tumpukan-tumpukan piring dan gelas plastik untuk teh poci yang masih rapat tidak terbuka. Ternyata setelah aku selidiki, Pakde memang menjual soto ayam tetapi Pakde menjual soto tersebut hanya jika malam tiba.
Dinding-dinding yang terdapat di setiap warung kampus itu hanya dibatasi oleh triplek-triplek kayu yang jika diketuk menghasilkan bunyi yang terdengar oleh warung sebelah. Dinding itu pun sangat kotor dan kusam dikarenakan banyaknya asap dari rokok setiap pengunjung. Pakde berjualan tidak sendiri, disana Pakde di temani oleh istri dan juga satu pegawainya. Pegawai Pakde itu bernama Sugeng. Sugeng itu sangat asik jika diajak bercanda dan mengobrol tetapi terkadang Sugeng juga genit dan sering menggodai setiap pembeli terutama pembeli wanita.
Bau asap tembakau di dalam ruangan itu selalu menyesakkan hidung, asap itu berasal dari seorang wanita yang berambut panjang dan berbadan kurus yang memiliki tinggi sekitar 160 cm dengan rambut yang terlihat tidak tertata rapi dan baju yang berpenampilan seadanya untuk ukuran mahasiswa. Wanita itu selalu terlihat duduk dipojok warung dekat etalase, entah apa yang sedang dia pikirkan yang jelas wajahnya itu nampak kusam sekali. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-gerik tingkanhya, nampaknya dia sangat cemas dan mulai melihat handphone genggam miliknya dan bergegas lari meninggalkan warung Pakde. Aku sangat lega karena bau asap tembakau itu mulai hilang seiring dengan berlalunya wanita tersebut.

Cerpen

Dayung ketika Banjir
Oleh : Mala Nopita Sari

Sore itu sekitar pukul tiga, suasana mulai tak bersahabat. Matahari tiba-tiba mulai redup, yang ada hanyalah awan gelap yang sudah mengeluarkan suara-suara halilintar yang sangat mengganggu telinga. Hujan turun dengan derasnya, angin kencang mulai menembus kulit dan membuat bulu kudukku berdiri seketika. Aku tidak henti-hentinya mengusap kedua tanganku dan berharap aku akan mendapatkan rasa hangat sejenak dan hujan pun akan berhenti.
Saat ini aku sangat cemas, hujan tak kunjung reda melainkan turun dengan derasnya. Jam tanganku sudah menunjukan pukul tiga lewat lima belas menit, TELAT gumamku dalam hati. Aku memang harus pergi mengajar tepat di jam tiga tetapi hujan benar-benar telah menghambat waktuku. Dengan sigap aku langsung mengeluarkan mantel dalam jok motorku dan aku segera memakainya. Tak peduli hujan deras, tak peduli percikannya dapat menghalangi pandanganku saat mengendarai motor, yang aku pikirkan hanyalah sampai di tempat mengajar dan bertemu dengan murid-muridku yang telah menungguku.
Motor matic hitamku melaju dengan kencangnya, kupacu sampai kecepatan lima puluh kilometer. Brakkk... aku tersentak kaget, motorku melewati jalan berlubang. Aku sama sekali tak melihat lubang itu karena lubang itu telah tergenangi air yang kedalamnya mencapai lima belas centimeter. Selain hujan yang menghalangi waktuku, macet pun juga menjadi penghalang keduaku untuk sampai di tempat mengajar. Kemacetan itu berada tepat di depan sekolah Kristen Penabur. Aku melihat jam tanganku, pantas saja sekarang sudah tepat jam setengah empat. Murid-murid sekolah Penabur itu memang baru pulang sekolah jadi banyak sekali yang lalu lalang di jalan dan masuk ke dalam mobil-mobil mewahnya.
Pukul tiga lebih empat puluh lima menit, aku sudah terbebas dari kemacetan itu dengan berusaha menerobos dan mencari jalan keluar agar terbebas dari kerumunan mobil-mobil mewah milik para koko dan cici. Sebenarnya jarak dari rumahku dengan tempat mengajar tidaklah terlalu jauh kira-kira sekitar dua kilometer, tetapi dikarenakan kemacetan itu yang terjadi setiap hari menjadikan perjalanan seakan-akan menjadi sepuluh kilometer.
Aku kembali menjalankan motorku dengan hati-hati. Ketika sampai di depan perumahan tempat aku mengajar aku sangat kaget dan bingung sekali. Perumahan itu sudah tergenang air dengan ketinggian mencapai dengkul orang dewasa. Lagi-lagi banjir menjadi penghambat ketigaku dalam perjalananku mengajar Selasa itu. Aku menghentikan laju kendaraanku dan mulai berpikir apakah motorku bisa menerobos genangan air yang begitu tinggi sedangkan keadaan mesin motorku pada waktu itu sedang tidak baik.
Aku melihat lagi jam tanganku yang sudah mulai basah karena percikan air hujan. Pukul empat kurang lima menit, gumamku. Aku sudah tidak berpikir banyak saat itu, aku langsung melaju dan melewati banjir yang memang baru pertama kali ku alami selama mengajar disana. Aku melihat rumah-rumah di sekelilingku yang sudah tergenangi oleh air, sebagian dari mereka sedang sibuk mengangkut barang-barang berharga miliknya untuk dibawa ke lantai atas rumah mereka. Aku baru sadar perumahan tempatku mengajar memiliki nama-nama yang unik yaitu ada Dayung, Sampan dan juga Layar. Aku mengajar di jalan Dayung, mungkin arti kata Dayung diambil dari perumahan yang memang sering sekali tergenang air dan mengakibatkan banjir ketika hujan. Aku tersenyum sambil memikirkan itu.
Aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan si hitamku ini. Untunglah aku sampai di tempat mengajarku, sebuah rumah kecil yang menjadi tempat di mana aku mengajar membaca, menulis, berhitung dan juga mengaji. Rumah tempat mengajarku ini tidak tergenang oleh air, dikarenakan ada tanjakan kecil yang membuat air tidak bisa untuk masuk kedalamnya. Aku langsung melepaskan mantel dan merapikan kerudungku yang berantakan kesana-kemari. Waktu saat ini sudah menunjukan pukul empat, aku langsung memasuki rumah dan mengetuk pintu, ternyata yang membukakan pintu adalah si manis yang bernama Karimah. Karimah menyambut tanganku dan mulai menyalaminya seraya sambil berkata “Tangan Bu Mala dingin”, aku hanya tersenyum. Ternyata murid-muridku tidak ada yang datang dan hanya Karimahlah yang menemaniku. Aku mulai membuka buku dan mengajari Karimah menulis huruf A-Z, dia adalah muridku yang sangat pandai.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, keadaan di luar sudah tidak hujan, air pun sudah mulai surut. Karimah pun sudah selesai menulis dan aku mulai membereskan semua peralatan tulisku. Aku duduk sejenak di teras sambil menikmati udara dingin yang memang sangat menyentuh kulitku, hembusan angin yang membuat bunga-bunga di pot menjadi bergoyang dan seakan-akan melambaikan daunya di hadapanku. Pemandangan itu seakan-akan membuat hatiku sejuk dan melupakan sejenak kejadian yang menimpa diriku sekitar tiga puluh menit yang lalu. Aku lalu berpamitan kepada Karimah dan bergegas untuk kembali pulang ke rumah.

Mendeskripsikan Cerita

Deskripsi Dengan Pengembangan Observasi Menurut Spasi dan Waktu


Pasar Malam
Oleh: Mala Nopita Sari

Pukul tujuh, tepat di malam minggu yang ramai. Langit gelap yang sudah memancarkan cahaya bulan sabit yang berbentuk lengkung menyerupai buah pisang dan pantulan ribuan cahaya bintang yang begitu bersinar membuat pemandangan malam ini terasa begitu indah walaupun dengan keadaan yang ramai, tetapi aku tetap merasakan betapa indahnya malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Sekarang ini aku sedang berada di tengah keramaian yang sebagian besar jumlahnya adalah anak-anak kecil, selebihnya lagi adalah para ibu-ibu yang sedang asik mengobrol dan juga berbelanja di tengah pasar malam ini. Terdengar suara tangisan dari salah satu anak kecil yang merengek meminta dibelikan mainan oleh ibunya, kini suara itu tiba-tiba menghilang dan semakin tenggelam oleh alunan musik dangdut yang terdengar sangat keras dari salah satu abang pedagang kaset bajakan yang mengenakan topi baret dan jaket berwarna biru kusam.
Banyak sekali para pedagang yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya kepada para pembeli. Pedagang itu selalu mengeluarkan jurus-jurus rayuan ampuh kepada pembeli agar para pembeli ingin membeli barang dagangan mereka. Saat ini di sebelahku terdengar suara tawar-menawar dari seorang ibu-ibu yang berbadan besar dengan menggunakan daster berwarna ungu dan mengenakan jilbab yang sewarna pula. Ibu itu membawa kantong kresek besar berisikan sayuran-sayuran hijau yang baru saja dia beli dari pedagang sayur di seberang jalan sana.
Di sekelilingku juga terdengar bunyi suara es kenong milik bapak–bapak tua. Penjual es kenong itu tidak henti-hentinya memukul benda yang bentuknya mirip dengan gong tetapi sangat kecil, dia memukulnya dengan bersemangat. Hanya satu dua kali pukulan saja, bapak tua itu mampu mengundang para anak-anak kecil untuk datang dan membeli es kenong miliknya, mereka lalu menyodorkan uang yang mereka kepalkan di tangan dan menggantinya dengan secangkir plastik kecil berisikan es kenong yang pastinya membuat lidah tidak henti-hentinya ingin melahapnya.
Suara musik odong-odong juga turut menemani keramaian di pasar malam. Samar-samar terdengar suara musik khusus anak-anak yang diputar dalam odong-odong, di sela-sela suara musik dangdut, suara tangisan anak kecil, dan suara tawar-menawar para ibu-ibu. Semakin malam pasar malam ini semakin ramai saja. Satu demi satu mereka mulai berdatangan. Lapangan yang menjadi tempat pasar malam itu kini berubah seakan-akan menjadi gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh dua orang saja dan sangatlah berdesakan. Rata-rata sebagian dari mereka kesini hanya untuk mencari hiburan.
Dari ujung lapangan sana terlihat kerumunan gadis-gadis muda yang sedang menaiki permainan ombak dalam komidi putar. Memang dalam pasar malam kali ini sangat berbeda, selain para pedagang yang meramaikan tempat ini permainan komidi putar juga sudah mulai mendominasi keadaan. Terdengar suara teriakan-teriakan yang keluar dari mulut mereka disaat permainan ombak mulai berjalan, disaat abang pengendali ombak itu memutar dengan lebih cepat, teriakan mereka pun jelas terdengar dan  menjadi jauh lebih keras. Tidak jarang dari mereka ketika telah usai dari permainan itu dan kembali turun ada yang terlihat mual dan juga pucat, mungkin dikarenakan putaran permainan ombak itu terlalu kencang dan juga cepat.
Sebentar lagi waktu menujukan pukul setegah sepuluh dan pasar malam pun akan segera di tutup. Sesudah itu lapangan tempat pasar malam tadi digelar akan menjadi sepi dan sunyi. Para pedagang yang sudah menjajakan dagangannya dari sore hari kelihatan bersiap-siap akan pulang, sebagian dari mereka pulang dengan wajah gembira karena uang sudah banyak terkumpul. Lampu-lampu di lapak mereka sebagian sudah dimatikan. Tepat pukul sepuluh para pembeli dan pedaganag sudah meninggalkan pasar malam, yang tersisa hanyalah dua orang pemulung yang memang bertugas mencari botol-botol plastik untuk kemudian dijual kembali. Aku pun berjalan pulang menuju rumah, sementara lapangan itu akan menjadi tempat sunyi dan sepi sepanjang jam sepuluh sampai pagi tiba.

Mendeskripsikan Cerita

Deskripsi berbagai Kejadian Dalam Waktu Yang Lama


PEMANCINGAN KELAPA DUA
Oleh : Mala Nopita Sari

Sekitar pukul sembilan pagisaya dan ayah berada di pemancingan Kelapa Dua. Pemancingan yang berada tepat di persimpangan jalan Kelapa dua ini memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar 15 meter, pemancingan ini sedikit demi sedikitsudah mulai dipadati oleh para pemancing yang memang sering menghabiskan waktu liburannya di pemacingan Kelapa Dua ini. Pada pukul sembilan seperti ini pemancingan sudah mulai dibuka, satu persatu dari para pekerja pemancingan sedang sibuk merapikan saung-saung yang memang menjadi tempat para pemancing untuk duduk dan menunggu ikan tangkapanya.
Para pekerja sudah selesai merapikan tempat pemancingan dan halaman parkir pun sudah di penuhi oleh kendaraan dari para pemancing. Sebagian dari mereka datang bersama keluarganya tetapi tidak sedikit pula yang datang hanya seorang diri, mereka lalu bergegas masuk ke area pemancingan dan memilih saung untuk tempat mereka memancing. Saung yang terdiri dari sepuluh buah ini semuanya terbuat dari bambu yang berwarna kuning kecoklatan, setiap saung memiliki keunikan masing-masing. Saung pertama sampai kelima yang berada di sebelah kiri yang memiliki ukuran lebih lebar diberi hiasan patung ikan patin dengan warna merah mencolok, sedangkan di saung sebelah kanan yang memiliki ukuran tidak terlalu besar dibandingkan sebelah kiri diberi hiasan patung ikan bawal dengan warna kuning keemasan. Aku dan ayah memilih duduk di bawah saung dengan hiasan ikan bawal yang ukurannya tidak terlalu besar, karena aku hanya datang berdua dengan ayah dan dari sini aku bisa melihat pemandangan danau yang begitu luas.
Para pedagang makanan, minuman dan juga perlengkapan alat pancing yang memang berada di dalam pemancingan itu, satu demi satu sudah mulai membuka warung mereka. Hampir semua rumah makan yang berada dalam pemancingan ini menjual aneka varian ikan bakar. Ada pula pedagang yang menawarkan berbagai perlengkapan alat pancing, dan tidak sedikit pula pedagang ikan hias yang mencari peruntungan di pemancingan kelapa dua ini. Sepanjang jalan pemancingan dipadati oleh pedagang tanaman hias, mulai dari ujung jalan Kelapa Dua sampai menuju kampus Gunadarma yang memang tepat berada di depan gerbang pemancingan.
Air yang berada dalam pemancingan ini merupakan aliran air dari danau Kelapa Dua yang memang berada di wilayah utara, aliran air itu tidak hanya digunakan sebagai tempat pemancingan tetapi juga dijadikan objek wisata keluarga, di belakang pemancingan terdapat kolam renang yang cukup luas, biasanya kolam renang itu akan dibuka sekitar pukul sebelas siang. Di samping pemancingan para petugas sedang sibuk merapikan beberapa permainan air yang sebentar lagi akan diramaikan oleh para pengunjung, disana terdapat dua buah perahu karet sedang, lima buah permainan bebek-bebek air, dan tiga buah balon-balon besar. Di loket permainan itu sudah banyak anak-anak kecil yang mengantre untuk membeli tiket dan menaiki permainan air tersebut, lima menit kemudian para petugas sudah selesai merapikan dan anak-anak kecil yang sudah menunggu itu akhirnya bisa menaiki permainan air.
Hari sudah menjelang siang, pada saat sekarang ini pengunjung semakin bertambah banyak. Ayahku masih sibuk dengan alat pancingnya. Perutku sudah berbunyi dan menunjukan tanda-tanda lapar, akhirnya aku meninggalkan ayahku dan memutuskan untuk mencari makan. Mataku terarah kepada seorang bapak tua dengan menggunakan kaos oblong dan juga sebatang rokok yang berada di tangannya yang membuat dia tidak henti-hentinya mengepulkan asap rokoknya ke udara. Bapak tua itu menuju saung ikan patin, aku pun mengikuti arah langkahnya, terdengar sayup-sayup suara tawa yang begitu ramai dari dalam saung tersebut. Ternyata di dalam saung itu banyak sekali bapak-bapak yang sedang melemparkan alat pencingnya ke dalam kolam pemancingan. Setiap mereka mendapatkan ikan, mereka akan tertawa dengan riangnya dan selalu berkata kepada teman sebelahnya“Gua yang dapet..”. Aku baru menyadari bahwa mereka sedang mengikuti perlombaan memancing, perlombaan ini memang rutin diadakan setiap akhir bulan, aku beruntung sekali bisa menyaksikan perlombaan ini. Pemenang dalam perlombaan ini akan membawa hasil tangkapan ikan dari seluruh peserta dengan gratis dan ternyata yang memenangkan lomba adalah si bapak tua dengan menggunakan kaos oblong yang ku temui tadi.
Karena asik melihat perlombaan memancing aku jadi lupa dengan perut laparku. Aku pun meninggalkan perlombaan itu dan lanjut untuk mencari makan. Aku melihat sebuah rumah makan yang memang tepat berada di sisi danau. Rumah makan itu sangat unik sekali, semuanya terbuat dari bambu. Aku memilih duduk di pojok kiri dekat permainan bebek-bebek air, pemandangan indahnya danau sangat terlihat sekali di sini. Hembusan angin yang sangat kencang membuat aroma ikan bakar sangat terasa di hidungku dan membuatku tidak berhenti mengambi nafas panjang untuk menghirup aromanya.
Setelah mengisi perutku yang lapar tadi, aku langsung mengahampiri ayah dan melihat hasil tangkapan ayah. Ayah hanya mendapat dua buah ikan bawal yang tidak terlalu besar. Di saung sebelahku aku melihat seorang anak laki-laki yang berbadan besar yang sedang serius menatap alat pancingnya dengan menopang dagu di tangannya, dia sama sekali tidak menyentuh alat pancing itu. Sekali-kali dia terlihat mengerutkan kening sambil menghela nafas panjang dan terduduk lemas. Lima menit berselang anak itu melompat dari tempat duduknya dengan mengejutkan ku. Ternyata dia melompat kegirangan karena mendapatkan seekor ikan patin kecil. Anak itu lalu berkata “Hore...dapet ikan, Hore.. dapet ikan”, kata-kata itu terus ia ucapkan sampai akhirnya dia pergi menuju kasir. Waktu sudah menunjukan pukul tiga. Aku dan ayahku memutuskan untuk pulang dan meninggalkan pemancingan. Sebelum pulang ayah harus membayar ikan hasil tangkapannya ke kasir dekat halaman parkir. Kedua ikan bawal hasil tangkapan ayah memiliki berat satu kilo dan ayah harus membayar seharga 25.000 rupiah.
Sore harinya sekitar pukul lima, aku bersama seorang temanku sedang berjalan-jalan menikmati udara sore hari dengan mengayuh sepeda. Kami berjalan melewati pemancingan Kelapa Dua. Ada pemandangan berbeda di halaman parkir pemancingan. Tempat parkir yang tadi siang digunakan untuk mobil dan motor kini berubah menjadi sebuah pasar malam yang ramai dengan dipenuhi para pedagang lesehan ataupun pedagang dengan menggunakan gerobak. Para pedagang itu tidak hanya berada di halaman parkir pemancingan, tetapi juga banyak dari mereka yang berdagang di pinggir pemancingan atau di sisi trotoar jalan. Sebagian besar yang berdagang di sisi jalan itu adalah para pedagang sepatu dan sandal, sedangkan yang berada di dalam parkiran adalah para pedagang sayur, pedagang buah, pedagang kaset, dan juga para pedagang baju.
Setelah adzan maghrib, pengunjung di pasar malam itu bertambah ramai dan juga sangat padat. Lampu-lampu neon yang berada di setiap lapak para pedagang menjadikan malam ini menjadi lebih terang, alunan musik dari pedagang kaset mengiringi langkahku untuk masuk lebih dalam menuju lapangan parkir pemancingan. Aku bersama temanku sedang mengantre untuk membeli secangir es krim vanila segar, pedagang es krim itu menjajakan dagangannya dengan mengunakan mobil kijang tua berwarna merah marun. Ketika aku sedang menunggu antrean es krim, aku melihat di seberang jalan tepatnya di depan kampus Gunadarma banyak sekali orang berkumpul, sepertinya mereka sedang melihat aksi tontonan yang begitu seru. Suara tepuk tangan dan juga sorak-sorai dari mereka semua, membuat aku semakin penasaran dan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi disana.
Es krim vanila sudah berada di tanganku, aku pun langsung mengajak temanku untuk melihat apa yang sedang terjadi di seberang sana. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa yang membuat mereka tertawa dikarenakan penonton yang penuh sesak dan juga postur badan mereka yang terlalu tinggi membuatku harus berjinjit untuk dapat melihat semua. Sekilas nampak sosok anak muda berbadan kekar dengan membawa obor api di tangan kanannya, sekali-kali dari mulut anak muda itu keluar semburan api panas yang begitu besar. Mataku kini beralih ke sebelah pemuda itu dan melihat seorang gadis cantik sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki diborgol dan juga mulut yang disekap oleh kain berwarna hitam. Gadis itu kemudian di masukan ke dalam kotak sedang yang hanya bisa ditempati oleh dirinya saja. Di sebelah kotak sudah berdiri seorang bapak tua dengan membawa pisau berukuran besar dan juga tajam, pisau itu kini ia tusukan ke dalam kotak yang memang di dalam kotak itu berisi seorang gadis cantik yang sudah diborgol tadi. Semua pisau sudah ditusukkan ke dalam kotak, tetapi ketika kotak itu dibuka gadis cantik itu keluar dengan keadaan sama seperti sebelumnya. Benar-benar tidak ada luka sama sekali, para penonton semakin bertepuk tangan kagum. Ternyata itu semua adalah atraksi sulap. Aku baru pertama kali melihat aksi sulap yang memang berada di tengah-tengah pasar malam.
Hari sudah semakin malam. Ketika aku dan temanku melewati pemancingan, langkahku terhenti sejenak untuk menikmati keindahan lampu-lampu lilin yang berada di tiap meja-meja makan para restoran seafood yang aku lihat tadi siang. Suasana ini benar-benar sangat romantis dengan dibalut taburan bintang yang nampak terang dari kejauhan. Di dalam saung pemancingan juga terlihat cahaya terang dari lampu petromak yang menggantung di sisi saung. Pada jam segini masih ada saja orang yang  memancing. Ternyata setelah aku tanyakan kepada petugas parkir memang pemancingan ini ditutup sampai jam sepuluh malam, dikarenakan pemancingan ini tutup sampai larut malam membuat para pemancing mania selalu saja datang ke pemancingan ini tanpa kenal waktu.
Sebentar lagi pukul sepuluh malam. Semua aktifitas yang berada di kawasan Kelapa Dua itu akan berakhir. Restoran yang memiliki lampu lilin yang begitu indah kini satu persatu sudah mulai dipadamkan, lampu-lampu petromak yang berasal dari saung pemancingan kini sudah tidak terlihat lagi cahaya kemerahannya, sedangkan lapak dari para pedagang pasar malam kini sudah mulai dibongkar dan mereka semua telah bersiap-siap untuk pulang dengan membawa uang hasil dagangan mereka. Akan tetapi keesokan harinya tempat ini akan tetap menjadi halaman parkir yang di tempati oleh mobil dan juga motor milik para pemancing.

MODIFIKASI DONGENG

Modifikasi dongeng dengan akhir cerita yang diubah


TAMPE RUMA SANI
oleh : Mala Nopita Sari
Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Alkisah pada zaman dulu, tinggallah seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani. Semua orang di kampungnya mengenal dia, sebab setiap hari ia menjajakan ikan hasil tangkapan ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Di rumahnya ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya yang masih kecil. Ia memasak nasi untuk ayah dan adiknya. Kasihan Tampe Ruma Sani yang masih kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
Pada suatu hari, seorang janda menyapa Tampe Rurna Sani, “Sudah habis ikanmu Nak? Tiap hari saya lihat ikanmu cepat habis, apa rahasianya?”

“Saya menjual lebih murah dari yang lain, agar cepat habis, karena saya harus segera pulang menanak nasi untuk ayah dan adik saya. Juga pekerjaan rumah tangga yang lain harus saya kerjakan”, jawab Tampe Rurna Sani sambil berjalan cepat.

“Siapa nama adikmu?”
“Mahama Laga Ligo”, jawab Tampe Rurna Sani. “Mengapa bukan adikmu yang memasak?”
“Adikku masih kecil, belum bisa memasak.” Bermacam-macam pertanyaan janda itu kepada Tampe Ruma Sani.
“Sampaikan salamku kepada ayahmu! Aku mau membantu kalian dan tinggal di rumah ayahmu. Aku mau membuat tembe (sarung), sambolo (destar) dan ro sarowa (celana) untuk ayahmu”, kata janda itu dengan manis.
Baik Bu, akan saya sampaikan kepada ayah.” Singkat cerita janda itu kini telah kawin dengan ayah mereka, dan menjadi ibu tirinya.
Kini Tampe Ruma Sani lidak lagi memasak. Pekerjaannya hanya menjajakan ikan saja. Sekali-sekali ikut menumbuk padi. Setiap menumbuk padi, ibunya selalu berpesan agar beras yang utuh dipisahkan dengan yang hancur.
Pada mulanya, ibu tirinya sangat baik kepada Tampe Ruma Sani dan adiknya. Namun, lama-kelamaan sikapnya berubah. Tampe Rurna Sani dan Mahama Laga Ligo mendapat perlakuan yang kurang baik, lebih-lebih kalau ayahnya tidak berada di rumah.
Pada suatu hari, ayahnya baru pulang menangkap ikan. Sang ibu tiri segera menyiapkan makanan yang enak-enak untuknya. Sedang untuk anak ttrinya disediakan nasi menir (nasi dari beras yang hancur kecil-kecil). Melihat hal itu, Tampe Ruma Sani memberanikan diri lapor kepada ayahnya, “Ayah dan ibu makan nasi yang bagus dan ikannya yang enak-enak, sedang saya dan adik nasinya kecil-kecil dan tidak ada ikannya”. Mendengar hal itu ayahnya bertanya, “Mengapa makanan anak-anak berbeda dengan makanan kita Bu?” 

“Oo tidak Pak, sebenarnya sama saja, lihatlah sisa makanan yang ada di kepala Mahama Laga Ligo,” jawab istrinya.

Sebenarnya nasi yang ada di kepala Mahama Laga Ligo sengaja ditaruh oleh ibu tirinya menjelang ayahnya datang. Hal yang demikian telah dilakukan berkali-kali. Ibunya sangat marah kepada Tampe Ruma Sani yang berani melaporkan kepada ayahnya. Setelah suaminya pergi, sang ibu tiri menghajar Tarnpe Ruma Sani sampai babak belur. Tampe Ruma Sani menangis sejadi-jadinya. Melihat kakaknya dihajar, Mahama Laga Ligo pun ikut menangis.

“Kalau kalian berani melapor kepada ayahmu akan kubunuh kalian!” ancamnya.
Perlakuan kasar telah biasa diterima oleh kedua anak itu. Mereka tidak berani melaporkan kejadian itu kepada ayahnya, karena takut ancaman ibu tirinya.

Kini kedua anak itu sudah besar dan menginjak dewasa. Kakak beradik itu bermaksud pergi meninggalkan orang tuanya untuk mencari nafkah sendiri, karena tidak tahan lagi menerima siksaan ibu tirinya. Maksud itu pun disampaikan kepada ayahnya, “Ayah, kami sekarang sudah besar, ingin pergi mencari pengalaman. Oleh karena itu, izinkanlah saya dan Mahama Laga Ligo pergi”. 

“Mengapa engkau mau meninggalkan rumah ini? Tetaplah di sini. Rumah ini nanti akan sepi.” kafa ayahnya. Ibu tirinya segera menyahut, “Benar kata Tampe Ruma Sani. Dia kini sudah besar. Bersama adiknya tentu ingin mandiri. Maka sebaiknya ayah mengizinkan mereka pergi.” Ibu tirinya memang sudah tidak senang dengan anak-anak tirinya yang dirasa sangat mengganggu.

Akhirnya, ayahnya pun dengan berat mengizinkan, berkat desakan istrinya yang terus-menerus.
Pagi hari sesudah sholat subuh, kedua anak itu meninggalkan rumahnya. Ibu tirinya memberi bekal nasi dalam bungkusan. Ayahnya mengantarkan sampai ke batas desa.

Alkisah, kedua anak itu berjalan menyusuri hutan dan sungai. Sesekali mereka membicarakan ibu tirinya yang kejam. Sesekali juga membicarakan ayahnya yang kena pengaruh ibu tirinya. Setelah seharian berjalan, Mahama Laga Ligo merasa capai.

“Kak, saya capai dan lapar. Istirahat dulu ya Kak”, katanya dengan nada menghimbau.
“Bolehlah. Kita cari dulu tempat yang teduh, lalu kita makan bekal yang diberikan ibu tadi,” kata kakaknya. Ketika mau duduk dekat adiknya yang mulai membuka bekalnya, tercium bau kotoran.

“Pindah dulu, di sekitar sini ada kotoran, kata Tampe Ruma Sani, sambil mengamati di mana kotoran itu berada. Namun, di sekitar tempat itu bersih. Lalu ia duduk lagi dan meneruskan membuka bekal yang dipegang adiknya. Ketika bekal itu dibuka bau itu tercium lebih keras. Akhinya, tahulah sumber bau itu. Bau itu temyata berasal dari bekal yang dibawanya. Rupanya ibu tirinya sangat jahat, sehingga sampai hati memberi bekal yang dicampuri kotoran manusia. Lalu, bungkusan itu pun dibuang, dengan perasaan marah dan sedih.

Dengan mengikat perutnya kencang-kencang, kedua kakak beradik itu pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama herjalan, dilihatnya sebuah rumah di tengah hutan. Kedua anak itu merasa senang. Segeralah keduanya menaiki tangga dan mengetuk pintu. Namun, setelah beberapa saat tidak terdengar jawaban. Diketuknya sekali lagi, tetap tiada jawaban. Lalu, keduanya mendorong pintu rumah itu sedikit demi sedikit. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Dengan perlahan-lahan, ia memeriksa seluruh penjuru rumah, temyata rumah itu tidak ada penghuninya. Di sebuah sudut rumah itu ada tiga buah karung. Setelah diperiksa, ternyata karung itu berisi merica, cengkih, dan pala. Di atas meja tersedia makanan. Di sekitar rumah ditumbuhi rumput yang tinggi, yang tampak tidak pernah dijamah manusia maupun binatang.

“Mari kita duduk di dalam rumah menunggu pemiliknya” kata Tampe Ruma Sani kepada adiknya.
Mereka duduk-duduk. Tak berapa lama, karena kecapaian, mereka tertidur. Pada saat terbangun hari telah pagi. Penghuni rumah itu belum juga muncul. Makanan di atas meja masih tetap utuh. Mereka heran, makanan itu masih hangat. Karena kelaparan, makanan itu pun mereka makan sampai habis.
Tiga hari sudah mereka berada di rumah itu. Setiap mereka bangun pagi, makanan hangat telah tersedia. Mereka semakin terheran-heran, namun tidak mampu berpikir dari mana semuanya itu.
Untuk menjaga kemungkinan makanan tidak tersedia lagi, mereka bermaksud menjual rempah-rempah dalam karung itu. Pada hari keempat, Maharna Laga Ligo berkata kepada kakak perempuannya, “Kak, biarlah saya yang menjual rempah-rempah ini sedikit demi sedikit ke pasar. Sementara saya pergi, kakak di dalam rumah saja. Kalau ada orang datang, jangan sekali-sekali kakak membukakan pintu”.

“Baiklah, pergilah, tetapi jangan lama-lama”, jawab kakaknya.
Tersebutlah hulubalang raja yang sedang berburu di hutan. Setelah beberapa lama, mereka sangat heran di tengah hutan itu ada sebuah rumah. Selama ini, di daerah itu tidak pernah ada seorang pun berani tinggal. Maka salah seorang hulubalang itu menaiki tangga rumah itu dan mengetuk pintunya. Tampe Ruma Sani tidak berani menjawab, apalagi membuka pintu. Ia bersembunyi di bawah meja dengan sangat ketakutan. Dalam hati berdoa semoga adiknya cepat datang.

.............

Hulubalang itu terus mengetuk pintu dengan keras, tetapi Tampe Ruma Sani tetap tidak membukakan pintu itu, sampai akhirnya hulubalang mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya. Hulubalang itu terkejut mendapati seorang gadis muda yang sedang duduk di pojok kasur sambil menundukan kepalanya dengan penuh ketakutan, lalu hulubalang itu berkata dengan kasar “Hai gadis muda yang kotor dan menjijikan, sedang apa kau berada di rumah ini, kau sedang mencuri yah? tanya hulubalang tersebut. Tampe Ruma Sani menjawab dengan terbata-bata. “Tiiidaakk aku tidakk mencuri, aku hanya menumpang saja di dalam rumah ini” jawab Tampe Ruma Sani. “Bohong kau...? ” Tanya hulubalang tidak percaya.
Belum sempat Tampe Ruma Sani menjawab, hulubalang itu sudah berkata “Sudah kita bawa saja gadis ini ke istana, kita adukan masalah ini kepada paduka raja”. Para hulubalang yang lain langsung menghampiri Tampe Ruma Sani sambil membawa sebuah borgol besar untuk diikatkan ke tangan Tampe Ruma Sani. Tampe Ruma Sani menolak dan dia berteriak “Lepaskan aku, aku bukan pencuri.. lepaskaannn” ucapan Tampe Ruma Sani tidak dihiraukan oleh para hulubalang, mereka langsung bergegas pergi meninggalkan rumah itu.

Mahama Laga Ligo yang sejak tadi pergi menjual rempah-rempah di pasar datang dengan membawa uang yang banyak tetapi sesampainya di rumah, Mahama Laga Ligo terkejut melihat pintu rumah yang sudah terbuka lebar dan ketika Mahama Laga Ligo masuk ke dalam betapa terkejutnya lagi dia mendapati kakak perempuannya sudah tidak ada. Mahama Laga Ligo mencari kakaknya ke semua penjuru rumah tetapi dia tidak ada, Mahama Laga Ligo pun terus mencari kakaknya ke luar rumah lalu dia mengitari seluruh hutan tetapi dia benar-benar tidak menemukan kakaknya. Mahama Laga Ligo mulai kelelahan dan dia duduk di atas sebuah batu besar sambil menangis dan menyesali kepergian kakaknya, “Mengapa tadi aku meninggalkan kakak sendiri? seandainya aku tetap berada di dalam rumah dan menjaga kakak, kakak tidak mungkin hilang seperti ini. Aku harus kemana lagi mencari kakak?” Mahama Laga Ligo terus menangis sambil mencari kakaknya yang hilang.

Sementara itu Tampe Ruma Sani sudah berada di dalam sebuah istana yang begitu mewah dan megah. Hulubalang itu menurunkan Tampe Ruma Sani dengan sangat kasar. Hulubalang itu berkata kepada Raja “Wahai paduka Raja aku membawakan seorang gadis kotor dan kumuh yang kudapati dia sedang mencuri di dalam rumah di tengah hutan.” Tampe Ruma Sani berkata “Aku bukanlah seorang pencuri paduka Raja, aku hanya menumpang tidur di rumah itu karena aku bersama adikku mengalami perjalanan yang cukup jauh, jadi kamu memutuskan untuk beristirahat di rumah itu”.

Raja itu bernama Raja Burhan. Raja Burhan merupakan raja yang terkenal dengan kesombongan dan juga keangkuhannya, bukan hanya itu saja Raja Burhan pun sangat tidak suka dengan rakyat miskin, jika beliau sedang jalan-jalan di sekitar negrinya dan dia melihat seorang pedagang kecil dia langsung menendangi daganganya dan mengusir pedagang itu dari hadapannya.
“Hahahahahah....” Raja itu tertawa. Raja itu lalu menghampiri Tampe Ruma Sani dan dia langsung menarik rambut Tampe Ruma Sani dengan keras, Tampe Ruma Sani pun menjerit sejadi-jadinya “Auuwwww,, sakit”. Raja itu lalu berkata “Aku tidak peduli apakah kau seorang pencuri apakah kau itu gadis suci yang baik hati, yang aku butuhkan sekarang adalah seorang pelayan yang bisa ku perintahkan sesuka hatiku”. Raja Burhan pun menjadikan Tampe Ruma Sani pelayan kerajaan. Tampe Ruma Sani selalu diperlakukan kasar oleh Raja Burhan, setiap harinya Tampe Ruma Sani selalu diperintahkan oleh Raja Burhan mengerjakan perkerjaan istana seperti menyapu, mengepel, mencuci dan juga merawat ternak-ternak yang dimiliki oleh Raja Burhan.

Tampe Ruma Sani hanya mendapatkan makanan sisa dari piring sang Raja, sering sekali sisa makanan itu hanyalah tinggal tulang-tulang saja dan tidak jarang pula Tampe Ruma Sani diberikan piring kosong dari makanan Raja Burhan. Tampe Ruma Sani hanya bisa menangis dengan semua keadaan ini, dia hanya berdoa agar dia bisa keluar dari istana ini dan dia bisa bertemu dengan adiknya. Tampe Ruma Sani selalu memikirkan adiknya, dimanakah adiknya berada saat ini, pasti adiknya sangat bingung mencari keberadaanya sekarang.

Suatu pagi Tampe Ruma Sani disuruh oleh Raja Burhan membeli buah-buahan di pasar. “Hai kau gadis lusuh, pergilah kau ke pasar untuk membelikan aku buah-buahan segar” kata Raja Burhan, “Baiikk paduka Raja, hamba segera pergi ke pasar” jawab Tampe Ruma Sani.
Kesempatan seperti ini tidak disia-siakan oleh Tampe Ruma Sani, dalam hatinya dia berkata “Ini adalah kesempatan ku untuk pergi dan melarikan diri dari istana ini, aku sudah tidak tahan lagi berada di istana ini”.
Tampe Ruma Sani terus berlari dan melarikan diri dari istana, tetapi ketika dia berlari dia bergumam dalam hatinya “Aku harus pergi kemana? aku tidak tahu jalanan pasar ini. Bagaimana kalau aku tersesat? Bagaimana jika aku bertemu orang jahat lagi seperti Raja Burhan?” Tampe Ruma Sani bertanya-tanya dalam hatinya. Tampe Ruma Sani pun mulai menangis dan benar-benar merasa sendiri, dia sangat rindu dengan adik dan juga ayahnya.

Tiba-tiba datanglah seorang pria berkuda dengan menggunakan baju kerajaan yang sangat gagah dan juga tampan, pria itu menghampiri Tampe Ruma Sani sambil berkata “Hai, nona sedang apa kau sendiri disini? mengapa kau menangis?”. Tampe Ruma Sani kaget dan dia langsung pergi menghindar dari pria itu, tetapi pria tampan itu mengejar Tampe Ruma Sani sampai akhirnya Tampe Ruma Sani terjatuh dan tidak bisa berdiri karena kakinya luka tersandung batu. “Nona, jangan takut. Aku adalah seorang Pangeran dari negri sebrang, Namaku adalah Pangeran Adipati, aku tidak akan melukaimu. Astaga.. kakimu terluka, sini biar ku bantu obati luka di kakimu”. Tampe Ruma Sani sangat ketakutan dan dia mulai menatap pangeran itu “Kau bukan orang Jahat? kau tidak akan menyakitiku bukan?” Tanya Tampe Ruma Sani. “Tenang nona, aku bukanlah orang jahat”. mendengar perkataan itu Tampe Ruma Sani tersenyum sambil terus menatap pangeran itu dengan malu-malu.

Di sisi lain Mahama Laga Ligo terus mencari keberadaan kakaknya, dia terus berjalan sampai akhirnya dia merasa lelah, uang yang ia bawa hasil dari menjual rempah-rempah lalu, kini semakin menipis dan mulai habis. Dia sama sekali tidak tahu harus berjalan sampai sejauh apa lagi untuk menemukan kakanya. Sampai suatu hari ketika perut Mahama Laga Ligo mulai berbunyi karena ia merasa lapar dan uang di saku celananya sudah tidak ada, Mahama Laga Ligo memutuskan untuk mencuri buah dari pedagang pasar. Mahama Laga Ligo langsung mengambil buah sebanyak mungkin ketika pedagang buah itu sedang asik mengobrol dengan pedagang lain, tetapi aksi dari Mahama Laga Ligo terlihat oleh pedagang lain dan pedagang itu meneriaki Mahama Laga Ligo dengan “Pennccuuurriiiiii.....”. Mahama Laga Ligo sangat panik dan dia langsung lari dengan kencang untuk menghindari kemarahan dari para pedagang lain, tetapi sayangnya Mahama Laga Ligo tertangkap oleh pedagang sayur yang sudah menghalau laju Mahama Laga Ligo. Semua pedagang memukuli Mahama Laga Ligo tanpa hentinya.

Tampe Ruma Sani tidak menyadari kalau dia sedang berada di pasar yang sama dengan adiknya Mahama Laga Ligo, tetapi ketika mendengar suara gaduh yang terjadi akibat pencurian di pasar. Tampe Ruma Sani bersama Pengeran Adipati langsung berlari melihat kejadian itu dan betapa terkejutnya dia, ternyata yang sedang dipukuli oleh para pedagang pasar adalah adiknya sendiri, Tampe Ruma Sani pun mencoba untuk menghentikan aksi dari para pedagang itu. Tampe Ruma Sani menangis melihat keadaan adiknya yang penuh dengan luka.

Pangerang Adipati pun mengajak Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo ke istananya. Mahama Laga Ligo dirawat dengan baik oleh Pangeran Adipati dan para pengawalnya. Setelah beberapa hari Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo tinggal di istana Pangerang Adipati. Pangeran pun mulai memiliki rasa cinta terhadap Tampe Ruma Sani, akhirnya Pangeran Adipati memutuskan untuk meminang Tampe Ruma Sani menjadi istrinya, Tampe Ruma Sani pun menerima pinangan itu dan mereka menikah dengan pernikahan yang sangat megah. Mereka pun akhirnya hidup bahagia.

BERITA SOFT NEWS

SOFT NEWS, PROFIL


Sehat yang Utama, Prestasi Belakangan

Pukul tujuh malam minggu, saya bertemu dengan Ade Surya Tohaga atau Surya panggilan akrabnya. Saya bertemu di tempat dia melatih yaitu di aula SMK Sasmita Jaya. Ketika saya sudah sampai di gerbang sekolah Sasmita Jaya, saya harus berjalan menuju lorong panjang di sudut ruangan sekolah itu. Ketika saya sampai dan melihat dari kejauhan, ruangan itu bagi saya tidak terlalu cocok untuk latihan Taekwondo seperti ini. Ruanganya cukup sempit dan benar-benar tersisihkan dari ruangan lainnya.
Suara gemuruh hujan diluar yang terdengar jelas di dalam ruangan bercampur dengan suara teriakan-teriakan dari murid-murid Surya, suara-suara itu terus mengiringi langkah saya untuk bertemu dengan Surya. Saya takjub melihat begitu banyak murid Surya saat itu, kurang lebih sekitar 25 anak. Dari 25 anak itu memang lebih banyak anak laki-laki dibandingkan anak perempuannya. Mereka semua berseragam rapi dengan baju dan celana putih yang menjadi ciri pemain Taekwondo.  Surya pun menyambut kedatangan saya dengan hangat.
Surya sudah tiga tahun melatih Taekwondo di Universitas Pamulang bahkan dia sendiri yang mendirikan kegiatan Taekwondo ini sejak tahun 2010. “Saya membuka pertama kali kegiatan Taekwondo ini, alasannya sih hanya satu biar anak-anak UNPAM bisa latihan dan menjadi sehat semua, masalah prestasi sih itu belakangan yang terpenting sehat untuk diri masing-masing”. ujar Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika semester akhir ini.
Surya melatih Taekwondo bukan saja di Universitas Pamulang melainkan juga di TK dan SD Alfath (Cirende), Pesantren Al-Manar Azhari (Cinere), Pesantren Al Hamidiyah (Depok), SMP Yadika 12 (Cinere) dan SD Lazuardi (Cinere). Ia melatih murid-muridnya dalam satu pertemuan kurang lebih antara satu sampai tiga jam tergantung kepada situasi dan juga kondisi cuacanya. Bukan hal mudah bagi Surya untuk membagi jadwal melatihnya tetapi dia memiliki waktu kosong untuk beristirahat pada hari rabu dan juga kamis.
Surya sendiri belajar Taekwondo dari umur 12 tahun dan selama itu dia selalu berlatih dengan rajin sampai akhirnya dia mendapat black belt pada 5 Maret 2011. Mendapatkanblack belt sendiri itu tidak mudah harus melewati greading atau kurikulum dasar sampai dengan tingkat atas.
“Dalam Taekwondo ada sepuluh tingkatan seperti: putih, kuning, kuning strip, hijau, hijau strip, biru, biru strip, merah, merah strip, dan terakhir hitam. Dan banyak tes yang harus dihadapi misal tendangan, pukulan, tangkisan, kuda-kudaan dan ada teknik dasar  juga teknik jurusnya” jelas Surya.
Taekwondo sendiri menurut Surya adalah olahraga yang tidak memiliki batasan usia. "Memang lebih baik belajar Taekwondo itu sejak dini karena memang kalau belajar sejak dini akan menjadi lebih paham dan memiliki bekal yang cukup, tetapi tidak ada salahnya juga kalau memang orang tua ingin belajar Taekwondo asalkan memiliki kemauan dan juga usaha yang kuat, pasti akan tercapai semuanya" kata Surya.
Dua medali perak dan juga satu medali perunggu pernah dipersembahkan murid-murid Surya untuk Universitas Pamulang. Tiga medali itu diraih oleh Cathy Aqmerilda (Sastra Inggris) dan Yeremia Lubis (Teknik Mesin) yang mendapat medali perak, dan medali perunggu diraih oleh Siti Syarafina Haryono (Manajemen). Semua medali itu di dapat dalam kejuaraan Jakarta Taekwondo festival 7 Sejabodetabek untuk even pemula pada tahun 2012. Penghargaan itu Merupakan kebanggaan tersendiri bagi Surya sebagai pelatih mereka.
Surya mendirikan Unit kegiatan Taekwondo ini tidak ada fasilitas biaya atau gaji dari pihak kampus. Pendapatan yang dia dapat hanyalah 35.000 ribu rupiah setiap bulan dari anak muridnya. Uang tidaklah menjadi alasan utamanya untuk melatih yang utama baginya adalah membuat semua orang menjadi sehat dan juga berbagi ilmu kepada semuanya.


Nama               : ADE SURYA TOHAGA
Lahir                : Jakarta, 30 Desember 1987
Pendidikan      : Fakultas Teknik Informatika


SASTRA

DUNIA ANAK, DUNIA SASTRA

Ditulis oleh seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), 
buku ini membahas mengenai nilai-nilai moral yang dapat diajarkan kepada anak melalui sastra.
Bukan sekedar nilai moral melainkan nilai edukasi dan imajinasi yang harus dikembangkan oleh anak sedini mungkin.

Oleh Mala Nopita Sari
Mendongeng memang merupakan cara yang paling ampuh untuk memperkenalkan sastra kepada anak. Kebiasaan mendongeng atau bercerita kepada anak membuat anak memiliki kemampuan yang luas dan juga berwawasan. Pemahaman karya sastra juga tidak terlepas dari kegiatan membaca, karena membaca merupakan langkah awal dalam memahami karya sastra.
  


Dunia Anak dalam Sastra Anak
Sebagai seorang pengarang dan pengajar, ia prihatin mengenai perkembangan keterampilan anak saat ini. Keterampilan anak saat ini terbatas, karena memang buku-buku yang disajikan mengenai anak relatif sedikit. Anak yang penuh dengan dunia imajinasinya sangat terwakili dengan sastra. Lewat sastra anak dapat mengetahui dunia yang indah, lucu, sederhana dan nilai pendidikan yang menyenangkan. Cerita merupakan peran yang sangat penting untuk menambah nilai moral dalam diri anak.
Kenyataan mengenai cerita sering terjadi ketika setiap malam orang tua yang mendongeng dan bercerita kepada anaknya sebagai pengantar tidur. Hal seperti ini bertujuan untuk meningkatkan budi pekerti terhadap anak. Orang tua lebih senang mengajarkan anak-anaknya mengenai buku-buku bacaan sejak dini. Seperti contoh “membaca” kebiasaan membaca merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan apapun, karena segala ilmu pengetahuan hanya bisa dipelajari dengan membaca (hlm 2). Demikian pula bahasa yang dipergunakan dalam sastra anak, bahasa yang memang harus dipahami oleh anak. Pesan yang disampaikan pun harus nilai-nilai moral dan pendidikan yang disesuaikan pada tingkat perkembangan dan pemahaman anak (hlm 5).
Penulis juga menunjukkan bahwa anak bisa memahami dunia cerita (sastra), ketika anak berusia dua sampai tiga tahun, yang pada usia ini anak sudah bisa mulai masuk lembaga pendidikan. Disinilah secara formal anak-anak dikenalkan kepada cerita, walaupun masih dipadukan dengan gambar-gambar. Dengan pengenalan pada karya sastra, maka kemampuan berbahasa anak, baik dalam kemampuan kosakata dan bahasa akan berkembang pesat. Aspek lainnya karena bahasa dalam sastra adalah bahasa yang sifatnya kreatif, misalnya ada permainan bunyi pada puisi dan pantun. Maka dengan membaca inteks karya sastra anak semakin kreatif berbahasanya (hlm 50).
Pendekatan sastra yang dilakukan penulis mengenai mimetik, pragmatik, ekspresif, dan objektif akan mampu membingkai antara pengarang, karya sasta dan juga pembaca. Setiap pendekatan tidaklah bisa berdiri sendiri karena secara keseluruhan pendekatan itu saling berhubungan.

Dunia Anak, Imajinasi Anak
Pengelompokan terhadap beberapa jenis karya sastra anak terjadi karena memang jumlahnya yang sangat beragam. Pengelompokan itu terjadi menjadi puisi, fiksi dan drama. Puisi anak yang memang sangat berbeda dengan puisi dewasa, puisi yang memiliki kesederhanaan, pendek dan juga penuh irama. Fiksi anak berhubungan dengan kehidupan anak yang menceritakan mengenai persahabatan dan kerjasama. Komik anak juga merupakan karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan juga gambar-gambar. Gambar juga merupakan media belajar yang sangat baik bagi anak karena memang imajinasi anak yang sangat kuat membuat kreativitas anak semakin bertambah.
Memang cerita merupakan nilai yang paling efektif bagi anak baik dalam bentuk puisi, fiksi dan juga drama, seperti yang tertulis di sampul belakang. Menulis cerita anak harus memiliki ide yang kreatif misalkan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Menulis sebuah cerita janganlah ditunda-tunda jika memang sudah mengetahui bahan yang ingin dibahas sebaiknya segera menuliskannya. Banyak yang belum mengerti bahwa menulis sebuah karya sastra mengenai anak sangatlah mengasikan dan juga memiiki hiburan tersendiri. Karena kita akan menemukan seberapa jauh kreatifitas dan juga imajinasi kita terhadap sebuah tulisan.
Buku tipis berwarna sampul hitam dan hijau ini sangat menarik dan perlu dibaca. Ini akan membuat anda memahami bagaimana sesungguhnya dunia anak dan karakter yang dimiliki oleh setiap anak. Imajinasi yang tertanam dalam diri anak perlu diasah lagi dengan kemampuan membaca dan juga bercerita, karena membaca dapat membuat anak menjadi lebih paham lalu dia dapat berimajinasi dengan bacaan-bacaanya.
Dengan latar belakang sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membuat penulis paham mengenai hubungan antara dunia anak dan juga sastra. Dalam keterampialn berbahasa: menyimak, berbicara, membaca dan menulis itu merupakan bekal anak dalam memahami sastra. Dengan menyimak anak bisa tertarik untuk mendengarkan cerita atau dongeng, dengan kemampuan berbicaranya anak dapt bercerita tentang pengalaman sehari-harinya, dengan kemampuan membaca anak sudah bisa memahamu cerita-cerita dari buku-buku sastra dan dengan menulis anak sudah bisa mengarang dan membuat cerita. Imajinasi anak harus dikembangkan sedini mungkin.

MALA NOPITA SARI
Fakultas Sastra
Jurusan Sastra Indonesia
Universitas Pamulang