Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

cerpen

WARUNG PAKDE
oleh : Mala Nopita Sari

Begitu jam kuliah telah usai, tepatnya jam 12 siang, aku bersama teman-temanku bergegas meninggalkan ruang kelas. Setibanya di depan gedung A kampus, mataku langsung tertuju ke depan warung kecil yang telah ramai dikunjungi para pembeli. Warung kecil itu sering ku sebut “Warung Pakde”. Ketika kakiku menuruni anak tangga gedung kampus dan menuju ke warung Pakde pemandangan ramai riuh sudah terlihat disana sampai-sampai Pakde si pemilik warung itu sama sekali tak terlihat wajahnya.
Warung itu memang bisa dibilang kecil dan memiliki ruang yang sangat terbatas mungkin hanya sekitar 20 orang yang bisa masuk di dalamnya, warung itu juga sangat pengap dan panas dikarenakan tidak ada jendela ataupun fentilasi di langit-langit udara tetapi selalu saja banyak mahasiswa dan juga mahasiswi yang berkunjung kesana, mungkin jajanan yang murah meriah dan tempat yang nyaman untuk sekedar berkumpul dan mengobrol menjadi alasan untuk tetap menjadi pelanggan setia Pakde.
Warung Pakde menjual makanan kecil atau camilan yang enak dan juga cocok untuk kantong kami para mahasiswa. Makanan kecil itu berupa tahu bulat, cireng dengan aneka rasa seperti rasa sosis, ayam, baso, keju dan masih banyak lagi rasa yang lainnya. Bukan hanya sekedar makanan ringan Pakde juga menjual minuman teh yang sering disebut teh poci. Teh poci Pakde itu dijual seharga 3.000 rupiah, cara menyajikan teh poci pun dengan menggunakan mesin pemanas untuk merekatkan gelas plastik dengan tutup yang terbuat dari plastik pula. Gelas teh poci itu pun sangat beragam gambarnya dan terkadang aku sering memilih gambar yang aku senangi. Di dalam warung Pakde itu hanya terdapat enam meja yang diatasnya terdapat dua botol sedang yang berisikan bubuk cabai dan juga garam. Bubuk cabai dan garam itu dicampurkan bersama tahu bulat panas memang menjadi santapan nikmat jika sudah disatukan.
Tepat di pojok warung Pakde terdapat satu kompor gas besar yang berfungsi untuk memasak tahu bulat dan juga merebus air panas untuk teh poci. Di pinggir kompor tersebut terdapat westafel kecil yang seharusnya digunakan untuk mencuci piring dan juga gelas tetapi westafel itu tidak berfungsi karena tidak mengeluarkan air, sehingga jika Pakde ingin mencuci piring Pakde harus mengambil air di warung sebelah dengan satu buah ember kecil miliknya. Satu etalase besar menempel di dinding dekat westafel, di kaca etalase itu terdapat tulisan “Sedia Soto Ayam” tetapi ketika mataku melihat ke arah etalase tersebut aku sama sekali tidak melihat panci besar berisi soto atau irisan bawang dan juga potongan jeruk nipis disana, yang kulihat hanyalah tumpukan-tumpukan piring dan gelas plastik untuk teh poci yang masih rapat tidak terbuka. Ternyata setelah aku selidiki, Pakde memang menjual soto ayam tetapi Pakde menjual soto tersebut hanya jika malam tiba.
Dinding-dinding yang terdapat di setiap warung kampus itu hanya dibatasi oleh triplek-triplek kayu yang jika diketuk menghasilkan bunyi yang terdengar oleh warung sebelah. Dinding itu pun sangat kotor dan kusam dikarenakan banyaknya asap dari rokok setiap pengunjung. Pakde berjualan tidak sendiri, disana Pakde di temani oleh istri dan juga satu pegawainya. Pegawai Pakde itu bernama Sugeng. Sugeng itu sangat asik jika diajak bercanda dan mengobrol tetapi terkadang Sugeng juga genit dan sering menggodai setiap pembeli terutama pembeli wanita.
Bau asap tembakau di dalam ruangan itu selalu menyesakkan hidung, asap itu berasal dari seorang wanita yang berambut panjang dan berbadan kurus yang memiliki tinggi sekitar 160 cm dengan rambut yang terlihat tidak tertata rapi dan baju yang berpenampilan seadanya untuk ukuran mahasiswa. Wanita itu selalu terlihat duduk dipojok warung dekat etalase, entah apa yang sedang dia pikirkan yang jelas wajahnya itu nampak kusam sekali. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-gerik tingkanhya, nampaknya dia sangat cemas dan mulai melihat handphone genggam miliknya dan bergegas lari meninggalkan warung Pakde. Aku sangat lega karena bau asap tembakau itu mulai hilang seiring dengan berlalunya wanita tersebut.

Cerpen

Dayung ketika Banjir
Oleh : Mala Nopita Sari

Sore itu sekitar pukul tiga, suasana mulai tak bersahabat. Matahari tiba-tiba mulai redup, yang ada hanyalah awan gelap yang sudah mengeluarkan suara-suara halilintar yang sangat mengganggu telinga. Hujan turun dengan derasnya, angin kencang mulai menembus kulit dan membuat bulu kudukku berdiri seketika. Aku tidak henti-hentinya mengusap kedua tanganku dan berharap aku akan mendapatkan rasa hangat sejenak dan hujan pun akan berhenti.
Saat ini aku sangat cemas, hujan tak kunjung reda melainkan turun dengan derasnya. Jam tanganku sudah menunjukan pukul tiga lewat lima belas menit, TELAT gumamku dalam hati. Aku memang harus pergi mengajar tepat di jam tiga tetapi hujan benar-benar telah menghambat waktuku. Dengan sigap aku langsung mengeluarkan mantel dalam jok motorku dan aku segera memakainya. Tak peduli hujan deras, tak peduli percikannya dapat menghalangi pandanganku saat mengendarai motor, yang aku pikirkan hanyalah sampai di tempat mengajar dan bertemu dengan murid-muridku yang telah menungguku.
Motor matic hitamku melaju dengan kencangnya, kupacu sampai kecepatan lima puluh kilometer. Brakkk... aku tersentak kaget, motorku melewati jalan berlubang. Aku sama sekali tak melihat lubang itu karena lubang itu telah tergenangi air yang kedalamnya mencapai lima belas centimeter. Selain hujan yang menghalangi waktuku, macet pun juga menjadi penghalang keduaku untuk sampai di tempat mengajar. Kemacetan itu berada tepat di depan sekolah Kristen Penabur. Aku melihat jam tanganku, pantas saja sekarang sudah tepat jam setengah empat. Murid-murid sekolah Penabur itu memang baru pulang sekolah jadi banyak sekali yang lalu lalang di jalan dan masuk ke dalam mobil-mobil mewahnya.
Pukul tiga lebih empat puluh lima menit, aku sudah terbebas dari kemacetan itu dengan berusaha menerobos dan mencari jalan keluar agar terbebas dari kerumunan mobil-mobil mewah milik para koko dan cici. Sebenarnya jarak dari rumahku dengan tempat mengajar tidaklah terlalu jauh kira-kira sekitar dua kilometer, tetapi dikarenakan kemacetan itu yang terjadi setiap hari menjadikan perjalanan seakan-akan menjadi sepuluh kilometer.
Aku kembali menjalankan motorku dengan hati-hati. Ketika sampai di depan perumahan tempat aku mengajar aku sangat kaget dan bingung sekali. Perumahan itu sudah tergenang air dengan ketinggian mencapai dengkul orang dewasa. Lagi-lagi banjir menjadi penghambat ketigaku dalam perjalananku mengajar Selasa itu. Aku menghentikan laju kendaraanku dan mulai berpikir apakah motorku bisa menerobos genangan air yang begitu tinggi sedangkan keadaan mesin motorku pada waktu itu sedang tidak baik.
Aku melihat lagi jam tanganku yang sudah mulai basah karena percikan air hujan. Pukul empat kurang lima menit, gumamku. Aku sudah tidak berpikir banyak saat itu, aku langsung melaju dan melewati banjir yang memang baru pertama kali ku alami selama mengajar disana. Aku melihat rumah-rumah di sekelilingku yang sudah tergenangi oleh air, sebagian dari mereka sedang sibuk mengangkut barang-barang berharga miliknya untuk dibawa ke lantai atas rumah mereka. Aku baru sadar perumahan tempatku mengajar memiliki nama-nama yang unik yaitu ada Dayung, Sampan dan juga Layar. Aku mengajar di jalan Dayung, mungkin arti kata Dayung diambil dari perumahan yang memang sering sekali tergenang air dan mengakibatkan banjir ketika hujan. Aku tersenyum sambil memikirkan itu.
Aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan si hitamku ini. Untunglah aku sampai di tempat mengajarku, sebuah rumah kecil yang menjadi tempat di mana aku mengajar membaca, menulis, berhitung dan juga mengaji. Rumah tempat mengajarku ini tidak tergenang oleh air, dikarenakan ada tanjakan kecil yang membuat air tidak bisa untuk masuk kedalamnya. Aku langsung melepaskan mantel dan merapikan kerudungku yang berantakan kesana-kemari. Waktu saat ini sudah menunjukan pukul empat, aku langsung memasuki rumah dan mengetuk pintu, ternyata yang membukakan pintu adalah si manis yang bernama Karimah. Karimah menyambut tanganku dan mulai menyalaminya seraya sambil berkata “Tangan Bu Mala dingin”, aku hanya tersenyum. Ternyata murid-muridku tidak ada yang datang dan hanya Karimahlah yang menemaniku. Aku mulai membuka buku dan mengajari Karimah menulis huruf A-Z, dia adalah muridku yang sangat pandai.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, keadaan di luar sudah tidak hujan, air pun sudah mulai surut. Karimah pun sudah selesai menulis dan aku mulai membereskan semua peralatan tulisku. Aku duduk sejenak di teras sambil menikmati udara dingin yang memang sangat menyentuh kulitku, hembusan angin yang membuat bunga-bunga di pot menjadi bergoyang dan seakan-akan melambaikan daunya di hadapanku. Pemandangan itu seakan-akan membuat hatiku sejuk dan melupakan sejenak kejadian yang menimpa diriku sekitar tiga puluh menit yang lalu. Aku lalu berpamitan kepada Karimah dan bergegas untuk kembali pulang ke rumah.

MODIFIKASI DONGENG

Modifikasi dongeng dengan akhir cerita yang diubah


TAMPE RUMA SANI
oleh : Mala Nopita Sari
Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Alkisah pada zaman dulu, tinggallah seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani. Semua orang di kampungnya mengenal dia, sebab setiap hari ia menjajakan ikan hasil tangkapan ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Di rumahnya ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya yang masih kecil. Ia memasak nasi untuk ayah dan adiknya. Kasihan Tampe Ruma Sani yang masih kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
Pada suatu hari, seorang janda menyapa Tampe Rurna Sani, “Sudah habis ikanmu Nak? Tiap hari saya lihat ikanmu cepat habis, apa rahasianya?”

“Saya menjual lebih murah dari yang lain, agar cepat habis, karena saya harus segera pulang menanak nasi untuk ayah dan adik saya. Juga pekerjaan rumah tangga yang lain harus saya kerjakan”, jawab Tampe Rurna Sani sambil berjalan cepat.

“Siapa nama adikmu?”
“Mahama Laga Ligo”, jawab Tampe Rurna Sani. “Mengapa bukan adikmu yang memasak?”
“Adikku masih kecil, belum bisa memasak.” Bermacam-macam pertanyaan janda itu kepada Tampe Ruma Sani.
“Sampaikan salamku kepada ayahmu! Aku mau membantu kalian dan tinggal di rumah ayahmu. Aku mau membuat tembe (sarung), sambolo (destar) dan ro sarowa (celana) untuk ayahmu”, kata janda itu dengan manis.
Baik Bu, akan saya sampaikan kepada ayah.” Singkat cerita janda itu kini telah kawin dengan ayah mereka, dan menjadi ibu tirinya.
Kini Tampe Ruma Sani lidak lagi memasak. Pekerjaannya hanya menjajakan ikan saja. Sekali-sekali ikut menumbuk padi. Setiap menumbuk padi, ibunya selalu berpesan agar beras yang utuh dipisahkan dengan yang hancur.
Pada mulanya, ibu tirinya sangat baik kepada Tampe Ruma Sani dan adiknya. Namun, lama-kelamaan sikapnya berubah. Tampe Rurna Sani dan Mahama Laga Ligo mendapat perlakuan yang kurang baik, lebih-lebih kalau ayahnya tidak berada di rumah.
Pada suatu hari, ayahnya baru pulang menangkap ikan. Sang ibu tiri segera menyiapkan makanan yang enak-enak untuknya. Sedang untuk anak ttrinya disediakan nasi menir (nasi dari beras yang hancur kecil-kecil). Melihat hal itu, Tampe Ruma Sani memberanikan diri lapor kepada ayahnya, “Ayah dan ibu makan nasi yang bagus dan ikannya yang enak-enak, sedang saya dan adik nasinya kecil-kecil dan tidak ada ikannya”. Mendengar hal itu ayahnya bertanya, “Mengapa makanan anak-anak berbeda dengan makanan kita Bu?” 

“Oo tidak Pak, sebenarnya sama saja, lihatlah sisa makanan yang ada di kepala Mahama Laga Ligo,” jawab istrinya.

Sebenarnya nasi yang ada di kepala Mahama Laga Ligo sengaja ditaruh oleh ibu tirinya menjelang ayahnya datang. Hal yang demikian telah dilakukan berkali-kali. Ibunya sangat marah kepada Tampe Ruma Sani yang berani melaporkan kepada ayahnya. Setelah suaminya pergi, sang ibu tiri menghajar Tarnpe Ruma Sani sampai babak belur. Tampe Ruma Sani menangis sejadi-jadinya. Melihat kakaknya dihajar, Mahama Laga Ligo pun ikut menangis.

“Kalau kalian berani melapor kepada ayahmu akan kubunuh kalian!” ancamnya.
Perlakuan kasar telah biasa diterima oleh kedua anak itu. Mereka tidak berani melaporkan kejadian itu kepada ayahnya, karena takut ancaman ibu tirinya.

Kini kedua anak itu sudah besar dan menginjak dewasa. Kakak beradik itu bermaksud pergi meninggalkan orang tuanya untuk mencari nafkah sendiri, karena tidak tahan lagi menerima siksaan ibu tirinya. Maksud itu pun disampaikan kepada ayahnya, “Ayah, kami sekarang sudah besar, ingin pergi mencari pengalaman. Oleh karena itu, izinkanlah saya dan Mahama Laga Ligo pergi”. 

“Mengapa engkau mau meninggalkan rumah ini? Tetaplah di sini. Rumah ini nanti akan sepi.” kafa ayahnya. Ibu tirinya segera menyahut, “Benar kata Tampe Ruma Sani. Dia kini sudah besar. Bersama adiknya tentu ingin mandiri. Maka sebaiknya ayah mengizinkan mereka pergi.” Ibu tirinya memang sudah tidak senang dengan anak-anak tirinya yang dirasa sangat mengganggu.

Akhirnya, ayahnya pun dengan berat mengizinkan, berkat desakan istrinya yang terus-menerus.
Pagi hari sesudah sholat subuh, kedua anak itu meninggalkan rumahnya. Ibu tirinya memberi bekal nasi dalam bungkusan. Ayahnya mengantarkan sampai ke batas desa.

Alkisah, kedua anak itu berjalan menyusuri hutan dan sungai. Sesekali mereka membicarakan ibu tirinya yang kejam. Sesekali juga membicarakan ayahnya yang kena pengaruh ibu tirinya. Setelah seharian berjalan, Mahama Laga Ligo merasa capai.

“Kak, saya capai dan lapar. Istirahat dulu ya Kak”, katanya dengan nada menghimbau.
“Bolehlah. Kita cari dulu tempat yang teduh, lalu kita makan bekal yang diberikan ibu tadi,” kata kakaknya. Ketika mau duduk dekat adiknya yang mulai membuka bekalnya, tercium bau kotoran.

“Pindah dulu, di sekitar sini ada kotoran, kata Tampe Ruma Sani, sambil mengamati di mana kotoran itu berada. Namun, di sekitar tempat itu bersih. Lalu ia duduk lagi dan meneruskan membuka bekal yang dipegang adiknya. Ketika bekal itu dibuka bau itu tercium lebih keras. Akhinya, tahulah sumber bau itu. Bau itu temyata berasal dari bekal yang dibawanya. Rupanya ibu tirinya sangat jahat, sehingga sampai hati memberi bekal yang dicampuri kotoran manusia. Lalu, bungkusan itu pun dibuang, dengan perasaan marah dan sedih.

Dengan mengikat perutnya kencang-kencang, kedua kakak beradik itu pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama herjalan, dilihatnya sebuah rumah di tengah hutan. Kedua anak itu merasa senang. Segeralah keduanya menaiki tangga dan mengetuk pintu. Namun, setelah beberapa saat tidak terdengar jawaban. Diketuknya sekali lagi, tetap tiada jawaban. Lalu, keduanya mendorong pintu rumah itu sedikit demi sedikit. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Dengan perlahan-lahan, ia memeriksa seluruh penjuru rumah, temyata rumah itu tidak ada penghuninya. Di sebuah sudut rumah itu ada tiga buah karung. Setelah diperiksa, ternyata karung itu berisi merica, cengkih, dan pala. Di atas meja tersedia makanan. Di sekitar rumah ditumbuhi rumput yang tinggi, yang tampak tidak pernah dijamah manusia maupun binatang.

“Mari kita duduk di dalam rumah menunggu pemiliknya” kata Tampe Ruma Sani kepada adiknya.
Mereka duduk-duduk. Tak berapa lama, karena kecapaian, mereka tertidur. Pada saat terbangun hari telah pagi. Penghuni rumah itu belum juga muncul. Makanan di atas meja masih tetap utuh. Mereka heran, makanan itu masih hangat. Karena kelaparan, makanan itu pun mereka makan sampai habis.
Tiga hari sudah mereka berada di rumah itu. Setiap mereka bangun pagi, makanan hangat telah tersedia. Mereka semakin terheran-heran, namun tidak mampu berpikir dari mana semuanya itu.
Untuk menjaga kemungkinan makanan tidak tersedia lagi, mereka bermaksud menjual rempah-rempah dalam karung itu. Pada hari keempat, Maharna Laga Ligo berkata kepada kakak perempuannya, “Kak, biarlah saya yang menjual rempah-rempah ini sedikit demi sedikit ke pasar. Sementara saya pergi, kakak di dalam rumah saja. Kalau ada orang datang, jangan sekali-sekali kakak membukakan pintu”.

“Baiklah, pergilah, tetapi jangan lama-lama”, jawab kakaknya.
Tersebutlah hulubalang raja yang sedang berburu di hutan. Setelah beberapa lama, mereka sangat heran di tengah hutan itu ada sebuah rumah. Selama ini, di daerah itu tidak pernah ada seorang pun berani tinggal. Maka salah seorang hulubalang itu menaiki tangga rumah itu dan mengetuk pintunya. Tampe Ruma Sani tidak berani menjawab, apalagi membuka pintu. Ia bersembunyi di bawah meja dengan sangat ketakutan. Dalam hati berdoa semoga adiknya cepat datang.

.............

Hulubalang itu terus mengetuk pintu dengan keras, tetapi Tampe Ruma Sani tetap tidak membukakan pintu itu, sampai akhirnya hulubalang mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya. Hulubalang itu terkejut mendapati seorang gadis muda yang sedang duduk di pojok kasur sambil menundukan kepalanya dengan penuh ketakutan, lalu hulubalang itu berkata dengan kasar “Hai gadis muda yang kotor dan menjijikan, sedang apa kau berada di rumah ini, kau sedang mencuri yah? tanya hulubalang tersebut. Tampe Ruma Sani menjawab dengan terbata-bata. “Tiiidaakk aku tidakk mencuri, aku hanya menumpang saja di dalam rumah ini” jawab Tampe Ruma Sani. “Bohong kau...? ” Tanya hulubalang tidak percaya.
Belum sempat Tampe Ruma Sani menjawab, hulubalang itu sudah berkata “Sudah kita bawa saja gadis ini ke istana, kita adukan masalah ini kepada paduka raja”. Para hulubalang yang lain langsung menghampiri Tampe Ruma Sani sambil membawa sebuah borgol besar untuk diikatkan ke tangan Tampe Ruma Sani. Tampe Ruma Sani menolak dan dia berteriak “Lepaskan aku, aku bukan pencuri.. lepaskaannn” ucapan Tampe Ruma Sani tidak dihiraukan oleh para hulubalang, mereka langsung bergegas pergi meninggalkan rumah itu.

Mahama Laga Ligo yang sejak tadi pergi menjual rempah-rempah di pasar datang dengan membawa uang yang banyak tetapi sesampainya di rumah, Mahama Laga Ligo terkejut melihat pintu rumah yang sudah terbuka lebar dan ketika Mahama Laga Ligo masuk ke dalam betapa terkejutnya lagi dia mendapati kakak perempuannya sudah tidak ada. Mahama Laga Ligo mencari kakaknya ke semua penjuru rumah tetapi dia tidak ada, Mahama Laga Ligo pun terus mencari kakaknya ke luar rumah lalu dia mengitari seluruh hutan tetapi dia benar-benar tidak menemukan kakaknya. Mahama Laga Ligo mulai kelelahan dan dia duduk di atas sebuah batu besar sambil menangis dan menyesali kepergian kakaknya, “Mengapa tadi aku meninggalkan kakak sendiri? seandainya aku tetap berada di dalam rumah dan menjaga kakak, kakak tidak mungkin hilang seperti ini. Aku harus kemana lagi mencari kakak?” Mahama Laga Ligo terus menangis sambil mencari kakaknya yang hilang.

Sementara itu Tampe Ruma Sani sudah berada di dalam sebuah istana yang begitu mewah dan megah. Hulubalang itu menurunkan Tampe Ruma Sani dengan sangat kasar. Hulubalang itu berkata kepada Raja “Wahai paduka Raja aku membawakan seorang gadis kotor dan kumuh yang kudapati dia sedang mencuri di dalam rumah di tengah hutan.” Tampe Ruma Sani berkata “Aku bukanlah seorang pencuri paduka Raja, aku hanya menumpang tidur di rumah itu karena aku bersama adikku mengalami perjalanan yang cukup jauh, jadi kamu memutuskan untuk beristirahat di rumah itu”.

Raja itu bernama Raja Burhan. Raja Burhan merupakan raja yang terkenal dengan kesombongan dan juga keangkuhannya, bukan hanya itu saja Raja Burhan pun sangat tidak suka dengan rakyat miskin, jika beliau sedang jalan-jalan di sekitar negrinya dan dia melihat seorang pedagang kecil dia langsung menendangi daganganya dan mengusir pedagang itu dari hadapannya.
“Hahahahahah....” Raja itu tertawa. Raja itu lalu menghampiri Tampe Ruma Sani dan dia langsung menarik rambut Tampe Ruma Sani dengan keras, Tampe Ruma Sani pun menjerit sejadi-jadinya “Auuwwww,, sakit”. Raja itu lalu berkata “Aku tidak peduli apakah kau seorang pencuri apakah kau itu gadis suci yang baik hati, yang aku butuhkan sekarang adalah seorang pelayan yang bisa ku perintahkan sesuka hatiku”. Raja Burhan pun menjadikan Tampe Ruma Sani pelayan kerajaan. Tampe Ruma Sani selalu diperlakukan kasar oleh Raja Burhan, setiap harinya Tampe Ruma Sani selalu diperintahkan oleh Raja Burhan mengerjakan perkerjaan istana seperti menyapu, mengepel, mencuci dan juga merawat ternak-ternak yang dimiliki oleh Raja Burhan.

Tampe Ruma Sani hanya mendapatkan makanan sisa dari piring sang Raja, sering sekali sisa makanan itu hanyalah tinggal tulang-tulang saja dan tidak jarang pula Tampe Ruma Sani diberikan piring kosong dari makanan Raja Burhan. Tampe Ruma Sani hanya bisa menangis dengan semua keadaan ini, dia hanya berdoa agar dia bisa keluar dari istana ini dan dia bisa bertemu dengan adiknya. Tampe Ruma Sani selalu memikirkan adiknya, dimanakah adiknya berada saat ini, pasti adiknya sangat bingung mencari keberadaanya sekarang.

Suatu pagi Tampe Ruma Sani disuruh oleh Raja Burhan membeli buah-buahan di pasar. “Hai kau gadis lusuh, pergilah kau ke pasar untuk membelikan aku buah-buahan segar” kata Raja Burhan, “Baiikk paduka Raja, hamba segera pergi ke pasar” jawab Tampe Ruma Sani.
Kesempatan seperti ini tidak disia-siakan oleh Tampe Ruma Sani, dalam hatinya dia berkata “Ini adalah kesempatan ku untuk pergi dan melarikan diri dari istana ini, aku sudah tidak tahan lagi berada di istana ini”.
Tampe Ruma Sani terus berlari dan melarikan diri dari istana, tetapi ketika dia berlari dia bergumam dalam hatinya “Aku harus pergi kemana? aku tidak tahu jalanan pasar ini. Bagaimana kalau aku tersesat? Bagaimana jika aku bertemu orang jahat lagi seperti Raja Burhan?” Tampe Ruma Sani bertanya-tanya dalam hatinya. Tampe Ruma Sani pun mulai menangis dan benar-benar merasa sendiri, dia sangat rindu dengan adik dan juga ayahnya.

Tiba-tiba datanglah seorang pria berkuda dengan menggunakan baju kerajaan yang sangat gagah dan juga tampan, pria itu menghampiri Tampe Ruma Sani sambil berkata “Hai, nona sedang apa kau sendiri disini? mengapa kau menangis?”. Tampe Ruma Sani kaget dan dia langsung pergi menghindar dari pria itu, tetapi pria tampan itu mengejar Tampe Ruma Sani sampai akhirnya Tampe Ruma Sani terjatuh dan tidak bisa berdiri karena kakinya luka tersandung batu. “Nona, jangan takut. Aku adalah seorang Pangeran dari negri sebrang, Namaku adalah Pangeran Adipati, aku tidak akan melukaimu. Astaga.. kakimu terluka, sini biar ku bantu obati luka di kakimu”. Tampe Ruma Sani sangat ketakutan dan dia mulai menatap pangeran itu “Kau bukan orang Jahat? kau tidak akan menyakitiku bukan?” Tanya Tampe Ruma Sani. “Tenang nona, aku bukanlah orang jahat”. mendengar perkataan itu Tampe Ruma Sani tersenyum sambil terus menatap pangeran itu dengan malu-malu.

Di sisi lain Mahama Laga Ligo terus mencari keberadaan kakaknya, dia terus berjalan sampai akhirnya dia merasa lelah, uang yang ia bawa hasil dari menjual rempah-rempah lalu, kini semakin menipis dan mulai habis. Dia sama sekali tidak tahu harus berjalan sampai sejauh apa lagi untuk menemukan kakanya. Sampai suatu hari ketika perut Mahama Laga Ligo mulai berbunyi karena ia merasa lapar dan uang di saku celananya sudah tidak ada, Mahama Laga Ligo memutuskan untuk mencuri buah dari pedagang pasar. Mahama Laga Ligo langsung mengambil buah sebanyak mungkin ketika pedagang buah itu sedang asik mengobrol dengan pedagang lain, tetapi aksi dari Mahama Laga Ligo terlihat oleh pedagang lain dan pedagang itu meneriaki Mahama Laga Ligo dengan “Pennccuuurriiiiii.....”. Mahama Laga Ligo sangat panik dan dia langsung lari dengan kencang untuk menghindari kemarahan dari para pedagang lain, tetapi sayangnya Mahama Laga Ligo tertangkap oleh pedagang sayur yang sudah menghalau laju Mahama Laga Ligo. Semua pedagang memukuli Mahama Laga Ligo tanpa hentinya.

Tampe Ruma Sani tidak menyadari kalau dia sedang berada di pasar yang sama dengan adiknya Mahama Laga Ligo, tetapi ketika mendengar suara gaduh yang terjadi akibat pencurian di pasar. Tampe Ruma Sani bersama Pengeran Adipati langsung berlari melihat kejadian itu dan betapa terkejutnya dia, ternyata yang sedang dipukuli oleh para pedagang pasar adalah adiknya sendiri, Tampe Ruma Sani pun mencoba untuk menghentikan aksi dari para pedagang itu. Tampe Ruma Sani menangis melihat keadaan adiknya yang penuh dengan luka.

Pangerang Adipati pun mengajak Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo ke istananya. Mahama Laga Ligo dirawat dengan baik oleh Pangeran Adipati dan para pengawalnya. Setelah beberapa hari Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo tinggal di istana Pangerang Adipati. Pangeran pun mulai memiliki rasa cinta terhadap Tampe Ruma Sani, akhirnya Pangeran Adipati memutuskan untuk meminang Tampe Ruma Sani menjadi istrinya, Tampe Ruma Sani pun menerima pinangan itu dan mereka menikah dengan pernikahan yang sangat megah. Mereka pun akhirnya hidup bahagia.

Selasa, 03 September 2013

cerpen tentang lingkungan


Payung Pelangi
oleh: Mala Nopita Sari

Sore itu di sebuah kampung pemulung yang sumpek terdapat rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu-kayu triplek. Jumlah rumah-rumah itu lumayan banyak. Mereka tidak memikirkan tinggal di lahan orang, yang mereka pikirkan adalah bisa memiliki rumah kecil untuk singgah dan berteduh padahal mereka tahu resiko yang akan dihadapi yaitu akan kehilangan rumah kapan saja karena digusur. Di salah satu kampung pemulung itu terdapat rumah triplek yang begitu sempit di dekat tempat pembuangan sampah. Rumah itu dihuni oleh satu keluarga, dari dalam rumah itu terdengar suara gaduh seorang bapak yang mencoba membangunkan anaknya.
“Pelangi, ayo bangun! awan sudah mulai gelap, sebentar lagi pasti akan turun hujan. Kamu ingin ngojek tidak hari ini ?”.
“Iya iya pak, Pelangi ingin ngojek hari ini” jawab Pelangi dengan semangat.
Pelangi pun langsung mengambil payung yang berada di bawah kasur. Ia menarik payung besar berwarna kuning. Payung itu merupakan payung satu-satunya yang Pelangi miliki, dari payung itulah Pelangi mendapatkan rupiah setiap harinya. Payung itu memang sudah tidak sekokoh pada saat pertama Pelangi memilikinya. Payung itu sekarang warnanya sudah pudar, salah satu rangkanya sudah tidak berfungsi lagi sehingga payung itu tidak mengembang dengan sempurna. Tetapi menurut Pelangi itu tak jadi masalah selagi payung kebanggaannya itu masih dapat membuat orang-orang yang memerlukan jasanya tidak kehujanan.
Pelangi lalu berpamitan kepada bapaknya dan langsung berjalan menggunakan sendal jepit dan bergegas menuju halte bus. Pelangi sangat senang menjadi seorang pengojek payung walaupun memang usia Pelangi masih sangat kecil yaitu sembilan tahun tetapi Pelangi sudah mengetahui betul betapa repotnya mencari uang. Waktu itu Pelangi pernah bertanya kepada bapaknya.
“Pak, kenapa bapak begitu semangat mencari sampah dari pagi sampai sore, padahal uang yang bapak bawa tidak mampu untuk mengembalikan ibu ke dalam rumah ini pak ?”
“Pelangi, bapak ini memulung sampah agar bisa mendapatkan uang dan agar kita bisa makan setiap harinya, kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan tidak boleh mengeluh karena Tuhan sangat membenci itu. Soal ibu, itu memang sudah menjadi pilihan ibu untuk tidak tinggal bersama kita, yang harus Pelangi lakukan adalah Pelangi harus selalu mendoakan ibu agar ibu bisa hidup bahagia bersama keluarga barunya” Jelas bapaknya.
Memang sudah dua tahun ini ibunya pergi meninggalkannya dan belum pernah sekalipun ibunya datang untuk sekedar menengoknya. Pelangi tahu bahwa ibunya adalah orang yang keras yang selalu menuntut bapak untuk mendapatkan uang yang banyak setiap harinya dan jika bapak tidak mendapat uang, ibunya akan marah-marah seperti orang kesurupan. Pelangi masih ingat betul kata-kata yang diucapkan ibunya ketika ibu dan bapaknya bertengkar hebat.
“Aku sudah muak hidup bersama denganmu, aku ingin pergi jauh dan ingin hidup lebih layak tidak seperti di sini sudah bau, sumpek, kotor. Aku ingin mencari laki-laki lain yang memiliki banyak uang agar aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku”.
Pelangi sudah tidak ingin lagi mengingat kejadian itu. Baginya sekarang adalah dia harus mampu mencari uang dengan mengojek payung walaupun masih amatir tetapi Pelangi begitu yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan Bagas dan juga Retno para seniornya. Hari ini Pelangi yakin akan mendapatkan uang lebih banyak dari hari kemarin. Kemarin Pelangi hanya mendapatkan uang lima belas ribu, hari ini Pelangi harus mampu mengantongi uang dua puluh sampai dua puluh lima ribu syukur-syukur dia bisa mendapatkan lebih dari apa yang dibayangkan.
Pelangi mulai menyusuri jalan-jalan sempit untuk menuju halte bus. Sepanjang perjalanannya Pelangi tak henti-hentinya tersenyum sambil bernyanyi riang. “Tik.. tik tik bunyi hujan di atas genting. Tik.. tik tik bunyi hujan di atas genting”. Pelangi hanya menyanyi pada bait itu saja karena dia tidak begitu hafal, lagu itu pun ia dengar seminggu yang lalu di radio milik Susi tetangganya. Selain terus bernyanyi Pelangi juga terus membayangkan pundi-pundi uang yang akan dia dapatkan nanti dan dari hasil uang itu sebagian akan ia belikan payung baru yang bagus dan juga besar. Pelangi selalu ingin mengganti payung yang memang sudah butut ini.
Kini Pelangi sudah sampai di pangkalan ojek payungnya yaitu di sekitar halte bus dekat trotoar. Mobil-mobil saat ini sudah sangat padat dan tidak bisa melaju dengan kencang dikarenakan jalanan ibu kota yang selalu macet ketika hujan seperti ini. Di sebrang sana sudah nampak payung-payung berwarna-warni, rupanya teman-teman Pelangi sudah datang lebih dulu. Pelangi pun tidak ingin kecolongan dia langsung bergegas lari menuju sebrang halte seraya melambaikan tangannya kepada pengguna mobil.
“Hai, Pelangi rupanya kau ketagihan menjadi pengojek payung?”. Tanya Bagas dengan ketus.
“Ia dong, aku kan ingin seperti kamu yang bisa mendapatkan uang banyak”.
“Enak saja kau, hanya aku yang boleh mendapatkan uang banyak tidak ada satupun yang mampu menandingiku”. Jawab Bagas sombong.
“Oke, Kita lihat saja nanti”. Jawab Pelangi dengan penuh keyakinan.
Pelangi dengan semangat menawarkan payungnya. Satu demi satu payung Pelangi mulai berlalu-lalang mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuannya. Pelangi tidak begitu suka jika penumpangnya itu adalah seorang laki-laki karena menurutnya sebagian laki-laki tidak pernah kasihan padanya. Mereka selalu membawa payung Pelangi dengan terburu-buru tanpa menghiraukan Pelangi yang kehujanan sambil mengejar payung itu dan hasil upahnya tidak seberapa, padahal Pelangi sudah mengantar cukup jauh dan juga kehujanan. Lain halnya dengan penumpang perempuan yang masih memiliki rasa iba pada dirinya, terkadang Pelangi tidak harus berjalan di belakang melainkan berjalan sejajar di bawah payung dan tidak kehujanan, upah yang diberikan juga lumayan. Mereka pun selalu berkata “Jangan lupa membeli obat agar tidak sakit nantinya”. Pelangi pun membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.
Sore ini hujan memang turun begitu deras. Pelangi sudah mulai letih tetapi hasil yang ia dapat belum mampu untuk membeli payung impiannya itu. Pelangi pun tetap semangat, di sampingnya ada Bagas yang sedang menatap dengan sinis tetapi Pelangi tidak memperdulikan itu. Tatapan sinis bagas dibalas dengan senyuman hangat dari Pelangi.
Adzan Maghrib sudah mulai berkumandang. Pelangi memutuskan mengakhiri pekerjaannya hari ini, hujan pun sudah mulai reda. Halte bus yang sedari tadi dipenuhi oleh pekerja kantor sekarang sudah mulai sepi, hanya ada satu atau dua orang saja yang duduk menunggu bus datang. Pelangi memilih duduk di bawah pohon untuk mengistirahatkan diri sejenak. Tangan-tangannya keriput, bibirnya beku dan membiru, bajunya basah kuyup dan Pelangi tidak henti-hentinya meghapus air yang keluar dari hidungnya dengan ujung bajunya tetapi semuanya ini tidak sia-sia Pelangi mendapatkan uang yang lumayan banyak empat puluh lima ribu rupiah. Pelangi sangat senang senyuman itu mulai mengembang kembali di kedua bibirnya yang membiru, tidak henti-hentinya Pelangi mengucap syukur kepada Tuhan, hal itulah yang selalu diajarkan bapaknya setiap kali kita di beri nikmat.
Pelangi bangkit dari tempat duduknya, sebelum pulang Pelangi mampir dulu ke pasar dia ingin membeli payung yang sedari sore tadi telah menjadi khayalannya. Pelangi benar-benar tidak sabar untuk memiliki payung yang lebih bagus dari payungnya sekarang ini. Payung yang sekarang ada di tangannya ini nanti sudah tidak akan Pelangi pakai lagi karena sudah ada payung baru yang akan menggantikan posisi payung yang lama. Tetapi Pelangi ingat daripada payung ini menjadi bangkai lebih baik di jual saja di Pak Tarno juragan sampah di kampugnya, semua pemulung menjual barang-barang hasil memulungnya di tempat Pak Tarno walaupun uang hasil penjualannya tak seberapa yang penting Pelangi mendapatkan sedikit uang untuk bisa ditabung.
Toko-toko di pasar sudah banyak yang tutup karena memang jika hujan pasti sepi pembeli dan dagangan tidak akan laku tetapi ada satu toko yang masih buka dan memang menjual perabotan rumah tangga dan juga payung-payung yang bergelantung dengan sangat cantik. Mata Pelangi langsung tertuju kepada satu payung, Pelangi sangat suka payung itu indah, bagus, rangkanya kokoh, sangat berwarna-warni seperti pelangi seperti dirinya yang bernama Pelangi.
Payung itu kini sudah menjadi milik Pelangi. Dia sudah tidak sabar untuk memberi tahu bapak bahwa dia telah membeli payung yang begitu bagus dengan uang hasil keringatnya. Langkah kaki Pelangi berhenti ketika tiba-tiba Bagas datang menghadang Pelangi dengan melempar batu ke arah Pelangi. Pelangi sangat terkejut dan heran mengapa Bagas datang secara tiba-tiba.
“Hei, bocah ingusan sini payungmu buatku saja, kau tidak pantas memiliki payung sebagus itu”. Bagas berusaha mengambil paksa payung milik Pelangi.
Pelangi tidak menjawab dia hanya berusaha untuk memegang kedua payung miliknya dengan keras. Jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya begitu cemas dia sangat takut, bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan. Tetapi sayangnya tidak ada siapa-siapa di sini semua toko sekarang sudah benar-benar tutup. Pelangi mencoba untuk lari dengan kencang tetapi Bagas terus mengejar Pelangi. Pelangi pun terjatuh karena tersandung batu, jempol kakinya terluka dia sudah tidak bisa bangkit lagi. Pelangi menggigit bibirnya karena menahan sakit, Bagas yang melihat Pelangi terjatuh merasa senang dan tertawa puas.
Bagas berusaha mengambil payung Pelangi dengan paksa tetapi Pelangi masih memegang payung itu dengan kuat. Bagas lalu mendorong Pelangi sampai tersungkur ke tanah lalu payung itu lepas dari tangan Pelangi, badan Pelangi sangat sakit. Air matanya sudah tidak kuasa lagi ia tahan Pelangi pun menangis tersedu-sedu. Bagas langsung mengambil kedua payung Pelangi dan meludahi Pelangi sebelum akhirnya Bagas pergi meninggalkan Pelangi sendiri. Pelangi mencoba untuk berdiri, darah di kakinya terus mengucur ke tanah. Kedua payung itu sekarang sudah lenyap, Pelangi hanya bisa menangis dalam kesedihan.
Hujan kembali turun, tetesan air hujan membahasi pipi Pelangi bersamaan dengan tetesan air matanya. Tiba-tiba dia ingat dengan bapak tidak mungkin dia menceritakan kejadian ini kepada bapak bisa-bisa bapak akan naik pitam dan menghajar Bagas. Pelangi tidak ingin hal ini terjadi dia tidak ingin bapak terluka nantinya, mungkin Pelangi harus berbohong kepada bapak. Langkah kaki Pelangi begitu lambat, tubuhnya begitu lemas. Sudah tidak ada lagi semangat dalam diri Pelangi, sudah tidak ada lagi senyuman yang menghias di wajahnya seperti beberapa jam yang lalu yang ada kini hanyalah duka dan juga perasaan sangat kehilangan.

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerpen Cinta


Cintaku Berat di Badan
Oleh: Mala Nopita Sari

Sore ini sinar matahari sudah mulai redup. Pancaran sinarnya yang begitu menyengat siang tadi kini sudah mulai menyelinap di antara pohon-pohon bambu yang begitu tinggi. Angin pun mulai bertiup dengan pelan, daun-daun bambu pun mulai bergoyang kesana-kemari dengan serempak. Aku yang sedari pagi sudah berkutat dengan semua rumus matematika yang begitu membuatku pusing, kini mulai bernafas lega karena jam kuliah telah usai. Aku langsung bergegas meninggalkan ruangan kelas lalu aku menuju halte metromini di depan kampus. Jam sudah menunjukan pukul lima, seperti biasa pada jam-jam seperti ini semua angkutan umum selalu dipenuhi oleh mereka para karyawan kantor yang sudah pulang kerja. Keadaan Jakarta yang begitu padat membuat mobil metromini ini sangat sesak karena terlalu banyak penumpang. Badanku yang besar memang sangat memakan tempat, jadi wajar saja jika aku sering dimarahi oleh penumpang lain karena menghalanginya untuk turun.
“Mba misi dong! saya mau turun nih. Mba sih gemuk banget saya jadi gk bisa lewat kan”. Tegur penumpang itu dengan sinis.
“Maaf mba”, hanya kata itu yang bisa ku lontarkan.
Aku sebenarnya malu dengan keadaan berat badanku yang sudah mencapai angka 70 kg, tetapi mau bagaimana lagi aku sudah berusaha untuk diet tetapi tetap saja aku tidak dapat menahan nafsuku untuk tidak makan coklat karena coklat merupakan makanan favoritku, jika sehari saja aku tidak makan coklat badanku ini bisa gatal-gatal.
Aku sudah turun dari mobil metromini, lega rasanya bisa menghirup udara luar setelah selama tiga puluh menit aku harus menghirup seribu satu aroma yang tidak sedap di dalam metromini tersebut. Aku sudah sampai di tempat kostku. Jarak rumah yang cukup jauh dengan kampus membuatku memutuskan untuk tinggal mengekost, sebenarnya biaya kost itu terhitung lebih mahal dibandingkan dengan tinggal di rumah sendiri, karena mamah harus mengeluarkan uang lebih tiap bulan untuk membayar kost, membiayai hidup untuk makan, harus mengerjakan sesuatu sendiri tanpa dibantu mamah.
Aku memiliki teman sekamar bernama Alin. Alin adalah perempuan yang cantik, seksi, langsing, tinggi, rambutnya lurus, matanya indah, pokoknya benar-benar wanita sempurna. Aku sangat iri terhadap kecantikan yang Alin punya. Aku mendekatkan wajahku ke cermin, kutatap bagian wajahku. Wajah yang lusuh, muka bulat dengan sebagian jerawat kecil di pipi yang tembem, mata sipit yang selalu terhalangi oleh kacamata tebal, rambut kriting tidak beraturan, hidung besar seperti jambu air, belum lagi badanku yang penuh dengan lemak di bagian perut yang begitu menumpuk, hanya kulit putih yang menjadi kelebihanku satu-satunya di antara anggota badan yang lain. Arrgghhh, aku menghela napas panjang, hidup ini memang tidak adil dan sangat tidak adil, aku sangat kesal menatap diriku sendiri yang sangat jauh dari kata cantik. Alin pernah bilang sesuatu yang membuatku senang.
“Pril, setiap orang itu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tidak ada kata sempurna dalam dunia ini. Kamu memiliki kelebihan yang tidak aku punya yaitu prestasimu yang begitu membanggakan, aku sangat iri dengan kepintaran yang kamu punya”.
Memang sih, aku dari kelas satu SD selalu mendapatkan peringkat pertama. Sampai di bangku kuliah ini aku juga selalu mendapatkan beasiswa, tetapi tetap saja aku tidak banyak dipandang oleh semua laki-laki karena prestasiku, laki-laki sekarang ini hanya memandang perempuan dari kecantikannya jadi wajar saja kalau aku sering uring-uringan dengan kondisi badanku.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, aku masih membereskan buku-buku untuk dibawa hari ini ke kampus. Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan naik ojek di depan gang kostanku, kulihat sekumpulan tukang ojek sedang duduk menunggu penumpang. Aku segera menuju pangkalan ojek itu dan tukang ojek itu langsung menoleh ke arahku.
“Ojek mba?” tanya tukang ojek itu.
“iya bang ke Kampus depan yah, berapa duit bang? tanyaku.
“Sepuluh ribu aja mba, gimana mba? murah kan?” jawab abang tukang ojek kurus itu dengan senyumnya. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menjawab, “Oke deh bang”. Sebenarnya aku sedikit khawatir diboncengi olehnya karena melihat badan abang tukang ojek yang begiu kurus jadi sepanjang perjalanan aku selalu menginggatkannya.
“Bang pelan-pelan ajah yah, jangan ngebut-ngebut. Saya kan berat nanti takut jatuh”.
“Tenang aja mba, saya udah biasa bawa yang ukuran jumbo” jawab abang tukang ojek itu dengan meyakinkan. Sudah setengah perjalanan aku mulai merasa kalau ada yang tidak beres dengan keadaan motornya. Benar saja disaat melewati polisi tidur secara tiba-tiba saja posisi si tukang ojek lebih tinggi dari pada aku. Aku langsung merosot ke bagian belakang dan seketika itu aku langsung jatuh tersungkur ke aspal. Aku merasakan sakit di bagian pantatku. Untuk menghindari rasa malu aku langsung bangkit dari tempatku terjatuh tapi tiba-tiba saja terdengar bunyi Breettt. Masyaallah, celanaku robek tepat di bagian belakang pantatku. Aku bingung harus berbuat apa, untung saja tidak ada yang melihat kejadian ini. Abang tukang ojek benar-benar merasa bersalah dan dia terus meminta maaf kepadaku, aku langsung memaafkannya dan memberikannya uang sepuluh ribu tetapi dia menolaknya dan bilang “Tidak usah mba, saya kan sudah membuat mba jatuh jadi tidak usah bayar”. Aku langsung pergi dan berjalan menuju kampus. Aku menutupi celana robekku dengan tasku. Untung saja tidak terlambat datang ke kelas, aku langsung duduk dengan rasa gelisah.
Jam Kuliah telah selesai, aku langsung pergi ke kantin kampus dan memilih tempat duduk di bagian belakang. Sesampainya di kantin aku melihat seseorang duduk di samping mejaku. Aku sangat kaget ternyata Radit, dia adalah laki-laki yang selama dua tahun ini aku taksir. Radit adalah lelaki terganteng di kampus. Aku bukan satu-satunya wanita yang  menyukai Radit tetapi aku adalah satu-satunya wanita yang sangat tidak berkemungkinan untuk menjadi pacarnya. Selama ini aku hanya bisa menatap Radit dengan diam-diam tanpa berani untuk menatapnya langsung, tetapi tiba-tiba saja aku mulai merasa kalau Radit semakin dekat, benar saja dia mulai menghampiriku. Aku mulai gelisah dan mulai merapikan bagian bajuku sambil membereskan rambutku yang berantakan ini, lalu dia berkata.
“Boleh minta tisunya”
“Oohh,,, Booolleehhh Booleehhh” jawabku dengan gugup dan gemetar.
“Terimakasih April”. Oh My Good, dia tahu namaku. Sejak kapan kita berkenalan, berjabat tangan dengannya saja aku tak pernah. Aku hanya bisa terdiam dan bertanya-tanya, jadi selama ini dia tahu namaku, aku benar-benar merasa senang. Selama perjalanan pulang aku tidak henti-hentinya tersenyum simpul sambil terus membayangkan wajah Radit yang tampan itu.
Malam ini adalah malam minggu, karena aku tidak memiliki pacar jadi seperti biasa aku hanya bisa duduk menonton tv sambil memakan coklat tobleron kesukaanku, lain halnya dengan Alin. Sudah sejak satu jam tadi dia sibuk untuk merias diri di kamarnya. Malam ini Alin akan pergi bersama gebetannya. Hampir setiap malam minggu Alin selalu pergi dengan laki-laki yang berbeda, aku saja sampai tidak ingat siapa-siapa saja teman lelaki Alin yang datang ke kostan. Sepanjang malam ini aku tidak bisa tidur, aku selalu memikirkan wajah Radit, hatiku benar-benar merasa bahagia. Semoga saja dengan kejadian siang tadi aku bisa menjadi dekat dengan Radit.
Hari ini adalah mata kuliah yang sangat membosankan, jadi ku putuskan untuk pergi ke kantin saja. Aku langsung memesan makanan tetapi ketika aku sedang memilih tempat duduk, aku tersentak kaget di depan sana kulihat Radit sedang mengobrol dengan Alin. Ada hubungan apa antara Radit dan Alin, mengapa mereka saling kenal? mengapa mereka begitu dekat? apa mereka sudah pacaran? mengapa harus Alin? aku benar-benar penasaran dan aku tidak habis pikir. Kalau pun Radit harus memiliki pacar aku sangat berharap kalau pacarnya itu bukanlah Alin, karena aku tahu sekali siapa itu Alin, Alin memiliki banyak teman lelaki jadi dapat kusimpulkan kalau dia bukanlah tipe wanita yang setia. Sesampainya di kostan aku langsung menanyakan masalah ini kapada Alin.
“Ehemmpp Lin, aku mau nanya. Kamu kenal sama Radit yah?”
“Kenal banget dong, siapa sih yang gak kenal sama dia, laki-laki ganteng dan baik pula”. Mendengar perkataan Alin seperti itu kekesalanku meningkat menjadi 10%.
“Eh, kenapa nanya kaya gitu Pril, cemburu yah kamu aku deket sama Radit?”
“Eeehhhh,,, ggkkk kok! siiappa yang cemburu, biasa ajah tuh kan aku cuma nanya” jawabku sekenanya. Alin pun langsung pergi meninggalkan aku. Hatiku sangat hancur sekarang benar-benar sudah tidak ada harapan lagi bagiku. Sia-sia aku memendam perasaan ini selama dua tahun jika akhirnya Radit harus berpacaran dengan teman sekamarku, air mataku tiba-tiba saja mulai turun, Hiks..Hiks.
Tiga hari sudah kejadian itu berlalu, aku berusaha melupakan bayang-bayang Radit dalam pikiranku karena aku tahu cepat atau lambat Radit akan menjadi milik Alin si gadis cantik itu. Aku mencoba bersikap biasa saja terhadap Alin seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku, aku tidak ingin Alin tahu bahwa aku menyukai Radit. Malam ini aku sedang menghafal rumus matematika yang akan dipelajari besok, tetapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku pun langsung berdiri dan membukakan pintu. Aku langsung terperangah ternyata dia adalah RADIT. Untuk apa Radit datang ke kostanku, aku sangat senang sekali dan langsung terdiam tanpa mempersilahkan Radit untuk masuk.
“Pril, boleh aku masuk” tanya Radit heran.
“Ohh yah tennttuu saja boolehh” gugup itu tidak hilang jika bicara dengan Radit.
“Ada apa kamu ke,” belum sempat aku lanjutkan perkataanku, tiba-tiba saja Alin keluar dari kamar dengan menggunakan mini dress berwarna biru dongker. Astaga aku sampai lupa kalau Radit datang ke sini pasti untuk bertemu dengan Alin, bukan untuk bertemu denganku. Bodohnya aku sampai melupakan hal itu. Mereka akhirnya pergi untuk dinner. Untuk kesekian kalinya hatiku hancur berkeping-keping. Aku sedih, dan judul untuk malam ini adalah “Menangis Semalam”.
Aku bangun dengan mata yang sembab gara-gara kisah menangis semalamku. Rasa sakit ini masih terasa sampai ke tulang-tulang rusukku, daripada aku terus bersedih seperti ini aku lebih baik mandi dan pergi ke supermarket untuk membeli coklat, karena persediaan coklatku sudah mulai menipis. Pagi ini cuaca begitu mendung sepertinya langit pun ikut berduka dengan kejadian yang menimpaku. Aku bergegas pergi ke supermarket takut hujan terlebih dahulu turun, setelah selesai berbelanja keadaan cuaca di luar semakin memburuk. Langit begitu berwarna hitam pekat, hujan pun mulai turun dengan deras. Sial sekali aku tidak membawa payung, terpaksa aku harus menunggu hujan berhenti. Ketika aku ingin berjalan untuk berusaha keluar dari kerumunan orang yang sedang berteduh tiba-tiba saja kantong plastik belanjaanku sobek dan langsung saja barang belanjaanku terjatuh dan berserakan. Aku langsung mengambil barang belanjaanku satu persatu tetapi aku melihat ada sebuah tangan menggapai coklat tobleron milikku lalu menyodorkannya padaku. Aku lalu mulai menganggkat kepalaku dan melihat siapa orang yang telah membantuku, RADIT. Kenapa harus Radit lagi, mengapa dia hadir di saat seperti ini.
“Nih punyamu, kenapa bisa terjatuh seperti ini sih Pril?”
“Eemmp anu, anu kantoonng belanjaanku terllalu tipiss jadi sobek deeh”. Tetap saja gugup.
“Lain kali hati-hati yah Pril”. Sumpah ini nice banget, ganteng, baik dan perhatian benar-benar pacar idaman.
“Kamu mau aku antar pulang?”
Beneran Radit mengajakku pulang bareng? sama dia? naik mobilnya dia. April kamu gak lagi mimpi kan yah? aku mencoba mencubit tangan kananku. Awww sakit, berarti benar ini bukan mimpi tapi ini sungguhan. Aku langsung mengangguk iya.
Sesampainnya di tempat kost, aku langsung menaruh barang belanjaanku di dapur dan aku langsung membuatkan minum untuk Radit. Ketika aku menawarkan minuman itu kapada Radit, Radit menatap wajahku dengan tatapan yang tajam yang membuatku malu.
“Pril, aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini padamu tetapi aku tidak berani untuk mengataknnya. Aku menyukaimu. Aku tahu kamu sering menatapku dengan diam-diam, tanpa kamu sadari aku juga sering menatapmu dengan diam-diam, aku sangat kagum dengan prestasimu, aku sangat suka dengan kamu yang simpel dengan tubuhmu walaupun banyak yang mencela kamu. Bagiku Kamu itu wanita yang cantik luar biasa Pril”
“Hahhh, yang benar saja kamu? kamu menyukaiku? Luar biasa cantik katamu! Radit kamu buta yah? aku sebesar ini dengan wajah yang aneh tapi kamu masih bilang aku cantik.
“April, aku sama sekali tidak melihat kamu dari fisik saja, bagiku kamu wanita yang baik yang selalu tersenyum disaat semua orang tidak melihatmu tapi kamu tetap berusaha menjadi diri kamu.
“Bagaimana dengan Alin, bukankah kamu menyukai Alin?
“Hah Alin, tidak mungkin aku menyukai Alin. Alin adalah adik sepupuku Pril”.
Aku benar-benar merasa bodoh dan juga dibuat bengong, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“April, aku sungguh-sungguh menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Tanpa berpikir lagi, aku pun langsung berkata “Maauuu, aku mauu jadi pacar kamu”.
Aku sangat merasa senang, aku bagai melayang dan menari di atas awan, ditaburi oleh bunga-bunga yang indah dan diiringi dengan balutan lagu cinta. Aku merasa menjadi wanita paling tercantik di antara seluruh wanita-wanita yang ada di muka bumi ini. Oh Tuhan terimakasih karna kau telah mendengar semua doa-doaku.