Tampilkan postingan dengan label Lintas Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lintas Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

MAKALAH PENALARAN MORAL


MAKALAH PENALARAN MORAL
KELOMPOK 10
Tugas
Untuk Memenuhi Salah Satu Nilai Pengetahuan Lintas Budaya
 






Di Susun Oleh :
Mala Nopita Sari
Nurma Ningsih
Ika Susilarini

UNIVERSITAS PAMULANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya dan makalah ini berjudul “Penalaran Moral”.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pohak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.



                                                                                                                                 Pamulang,Februari 2012

Penulis


i
 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
1.2.   Pengetahuan Penalaran Moral ............................................................. 3
1.3.   Teori Penalaran Moral........................................................................... 4
1.4.   Penelitian Lintas Budaya Tentang Penalaran Moral............................. 6
1.5.   Studi Lintas Budaya Penalaran Moral............................................... .. 9
BAB III PENUTUP
1.1.   Kesimpulan........................................................................................... 11
1.2.   Saran..................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA





ii
 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Kebudayaan juga memiliki arti sebagai Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termaksud sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan dan karya seni. Bahasa sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaanya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya juga merupakan suatu pola hidup menyeluruh,budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Lintas budaya adalah studi ilmiah tentang prilaku manusia dan proses mantal. Termaksud variabilitas dan invariant, dibawah kondisi budaya yang beragama melalui perluasan metedologi penelitian untuk mengenali variasi budaya dalam prilaku bahasa dan makna.
Dengan demikan dari semua definisi dapat dikatakan bahwa budayalah yang menyediakan suatu kerangkayang tepat untuk dapat mengorganisasikan aktivitas seseorang dalam berprilaku dan juga bertutur antara satu daerah dengan daerah lain[1]

BAB II
PEMBAHASAN

1.1.  Pengetahuan Penalaran Moral
Moral dapat diartikan sebagai karakteristik seseorang atau kelompok yang menjadi pedoman dalam berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok sosial yang bersangkutan. Secara etimologis moral berasal dari bahasa latin mores yang berarti tata cara dalam berkehidupan,adat istiadat dan kebiasaan.Dengan kata lain (mores) moral adalah kaidah tentang perbuatan dan sikap manusia yanng baik dan benar.
Penalaran moral juga dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menimbanng alternativ keputusan dan menentukan kemungkinan arah tidakan yang harus dilaksanakan dalam menghadapi situasi sosial tertentu, dan tingkat perkembangan kemampuan tersebut.
Penalaran moral terjadi juga dengan cara-cara anak memahami dunia mereka semakin lama menjadi semakin kompleks. Perubahan kognitif ini juga berdampak pada perubahan dan juga pemahaman mereka dalam penilaian moral.Suatu hal akan menjadi baik atau buruk dapat berubah dari penafsiran anak kecil tentang hadiah dan hukuman menuju prinsip-prinsip kebenaran dan kesalahan.

1.2.       Teori Penalaran Moral
Teori yang dominan tentang penalaran moral dalam psikologi perkembangan adalah teori yang diajukan oleh Kohlberg (1976,1984). Teori Kohlberg diasarkan pada karya-karya Piaget sebelumnya tentang perkembangan kognitif. Teori Kohlberg melihat bahwa ada tiga tahap umum perkembangan keterampilan penalaran moral. Selanjutnya, tiap-tiap tahap terbagi lagi kedalam dua tahap, dengan total enam sub-tahap perkembangan moral. Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di Universitas Chicago, teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar-dasar dari prilaku etis, yang mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Kohlberg juga menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilandan perkembangan berlanjut selama dalam kehidupan.
Kholberg kemudian mengkatogorikan dan menglarifikasi respon yang dimunculkan kedalam enam tahapan yang berbeda. Keenam tahapan tersebut terbagi ke dalam tiga tingkatan:
1.    Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
Pada tahap ini seseorang sangat tanggap terhadap aturan-aturan kebudayaan dan penilaian baik atau buruk, tetapi ia manafsirkan baik atau buruk ini dalam rangka maksimalisasi kenikmatan atau akibat-akibat fisik dari tindakannya (hukuman fisik, penghargaan, tukar menukar kebaikan. Kecenderungan utamanya dalam interaksi dengan orang lain adalah menghindari hukuman atau mencapai maksimalisasi kenikmatan (hedonistis). Tingkat ini dibagi menjadi 2 tahap :
a.    Orientasi kepatuhan dan hukuman
Pada tahap ini, baik atau buruknya suatu tindakan ditentukan oleh akibat-akibat fisik yang akan dialami sedangkan arti atau nilai manusiawi tidak di perhatikan. Menghindari hukuman dan kepatuhan terhadap penguasa dinilai baik pada dirinya.
b.    Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya? )
Pada tahap ini tindakan seseorang selalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhanya sendiri dengan memperalat orang lain. Hubungan antara manusia dipandang seperti hubungan dagang unsur-unsur keterbukaan,kesalinganya dan tukar-menukar merupakan prinsip tindakan dan hal-hal itu ditafsirkan dengan cara fisik dan pragmatis. Prinsip kesalinganya adalah “kamu mencakar punggungku dan aku akan ganti mencakar punggungmu”.

2.    Tingkat 2 (Konvensional)
Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya sebagai seseorang individu di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsanya. Keluarga, masyarakat, bangsa di nilai memiliki kebenaranya sendiri, karena jika menyimpang dari kelompok ini akan terisolisasi. Maka, dari itu kecenderungan orang pada tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompok sosialnya, kalau pada tingkat pra-konvensional perasaan dominan adalah “takut”, pada tingkat ini perasaan dominan adalah “malu”. Tingkat ini terbagi menjadi 2 tahap :
a.    Orientasi kerukunan
Pada tahap ini, orang berpandangan bahwa tingkah laku yang baik adalah yang menyenangkan atau menolong orang-orang lain serta diakui oleh orang-orang lain. Orang cenderung bertindak menurut harapan-harapan, lingkungan sosilnya yang memuaskan, maka ia pun harus berperan sesuai dengan harapan-harapan keluarga, masyarakat atau bangsanya.
b.    Orientasi ketertiban masyarakat ( Moralitas hukum dan aturan )
Pada tahap ini tindakan seseorang, didorong oleh keinginanya untuk menjaga tat tertib. Orientasi seseorang adalah otoritas, peraturan-peraturan yang ketat dan ketertiban sosial. Tingkah laku yang baik adalah memenuhi kewajiban, mematuhi hukum, menghormati otoritas, dan menjaga tata tertib sosial merupakan tindakan moral yang baik pada dirinya.

3.    Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
Pada tingkat ini, orang bertindak sebagai subjek hukum dengan mengatasi hukum yang ada, orang pada tahap ini sadar bahwa hukum merupakan kontrak sosial demi ketertiban dan kesejahteraan umum, maka jika hukum tidak sesuai dengan martabat manusia, hukum dapat dirumuskan kembali. Perasaan yang muncul pada tahap ini adalah rasa bersalah dan yang menjadi ukuran keputusan moral adalah hati nurani. Tingkat ini terbagi menjadi 2 tahap :
a.    Orientasi kontrak sosial
Tindak yang benar pada tahap ini cenderung di tafsirkan sebagai tindakan yang sesuai dengan kesepakatan umum. Dengan demikian orang ini menyadari relativitas nilai-nilai pribadi dan pendapat-pendapat prosedural. Di samping menekankan persetujuan demokratis, dan konstitusional tindakan benar juga merupakan nilai-nilai pendapat pribadi. Akibatnya, orang pada tahapan ini menekankan pandangan legal tapi juga menekankan kemungkinan mengubah hukum lewat pertimbangan nasional.
b.    Prinsip etika universal ( Principled Conscience )
Pada tahap ini, orang tidak hanya memandang dirinya sebagai subjek hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang harus dihormati. Respect for person adalah nilai pada tahap ini. Tindakan yang benar adalah tindakan yang berdasarkan keputusan yang sesuai dengan suara hati dan prinsip moral universal. Prinsip moral ini bersifat abstrak.
Melalui tahap-tahap tersebut, seseorang mengarahkan dirinya sendiri menuju kaidah-kaidah moral universal, yaitu keadilan dan ketimbal balikan. Perkembangan penalaran moral, berlangsung setahap demi setahap dan tidak pernah meloncat. Perkembangan penalaran moral dapat berakhir pada tahap manapun. Karena itu peran pendidikan adalah menciptakan iklim yang dapat memberi rangsangan maksimal bagi seseorang untuk mencapai tahap yang lebih tinggi.demikian pula, perkembangan moral tidak di tentukan oleh usia, sebab lebih dari 50% subjek penelitian orang dewasa, masih tetap pada tahap konvensional. Salah satu faktor yang penting dalam perkembangan penalaran moral adalah faktor kognitif terutama kemampuan berpikir abstrak dan luas, termaksud di bidang moral.




1.3.  Penelitian Lintas Budaya Tentang Penalaran Moral
Universalitas atau kekhasan budaya prinsip-prinsip dan penalaran moral telah menarik perhatian ahli-ahli antropologi sarta psikkologi. Beberapa etnografi antropologis, misalnya, mengkaji prinsip-prinsip dan domain moral beberapa budaya yang berbeda. Banyak diantara kajian ini yanng menentang pandangan tradisional Amerika tentang moralitas.
Demikian juga, di bidang psikologi ada sejumlah penelitian lintas budaya tentang penalaran moral yang mempertanyakan daya generalisasi universal gagasan-gagasan Kohlberg. Salah satu asumsi yang mendasari teori Kohlberg adalah bahwa penalaran moral menurut prinsip dan nurani individual, terlepas dari hukuman-hukuman sosial atau kebiasaan-kebiasaan budaya, merupakan tingkat penalaran moral yang tertinggi. Filosofi ini amat terkait dengan budaya dimana Kohlberg mengembangkan teorinya, yang berakar pada penelitian-penelitian terhadap laki-laki Amerika bagian Barat Tengah di tahun 1950 dan 1960. Meski konsep-konsep demokratis seperti individualisme dan nurani personal yang unik mungkin tepat untuk menggambarkan sampel penelitianya di waktu dan di tempat itu, tidak jelas apakah konsep-konsep yang sama juga mwakili prinsip-prinsip moral iniversal yang bisa di terapkan pada semua orang dari semua budaya.

1.4.   Studi Lintas Budaya Penalaran Moral
a.    Penemuan dari beragam studi mengeukakan bahwa teori penalaran moral dari Kohlberg bersifat universal, akan tetapi sejumlah studi lintas budaya mempertanyakan generalisasi tahap tertinggi penalaran moral teori Kohlberg. Salah satu yang mendasari teori Kohlberg adalah pemahaman prinsip moral dan prinsip kata hati, yakni mengabaikna peraturan dan adat budaya. Ini merupakan penalaran moral tahap pascakonvensional (tahap tertinggi).
b. Studi menunjukan bahwa anak-anak Chinese cenderung lebih memperhatikan kepentingan orang lain dan hubungan ketika memahami dilema moral, sementara anak-anak Islandia menekankan pertimbangan diri.
c.  Miller (2001) mngemukakan untuk memertimbangkan perspektif moral lain yang mengabaikan teori moral tradisional. Ia menjelaskan mengenai “moralites of community” yang menekankan hubungan interpersonal dan komunikasi dan ia menjelaskan mengenau “moralities of divinity”, dimana kepercayaan dan spiritualitas merupakan pusat perkembangan moral.[2]















BAB III
PENUTUP

1.1.  Kesimpulan
Penalaran moral merupakan suatu kepribadian dan juga cara berfikir setiap manusia. Penalaran moral mengajarkan kita agar memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mampu menghadapi hal-hal yang abstrak, dan mampu memahami bahwa nilai-nilai kita sebagai seorang manusia di dasarkan pada perasaan atau pilihan yang menjadi bagian dari diri kita.

1.2.  Saran
Penalaran moral juga sangat melekat pada diri remaja seperti kita ini, dan penalaran moral juga dapat mengembangkan nilai-nilai moralitas menjadi lebih baik. Kita sebagai remaja harus bisa mengantisipasi reaksi-reaksi atas tindakan-tindakan yang mereka ambil dan melihat lebih jauh konsekuensi jangka pendek sampai jangka panjangnya dan juga kita bisa mulai untuk menggembangkan perasaan menggendalikan diri kita sendiri begitu kita menyadari bahwa kita bisa memilih tindakan apa yang harus diambil. Bahwa kita memiliki berbagai pilihan dan bahwa setiap pilihan akan mendatangkan dampak positif dan negatif.










DAFTAR PUSTAKA

Matsumoto, David, 2008, Pengantar Psikologi Lintas Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN SUKU SUNDA


ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN
SUKU SUNDA
 







Di Buat Oleh :
Mala Nopita Sari
(2011070012)


UNIVERSITAS PAMULANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya dan makalah ini berjudul “ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN, SUKU SUNDA”.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pohak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.



                                                                                                                                 Pamulang, April 2012

Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Sunda adalah sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke 8 sebagai lanjutan atau penerus kerajaan Tarumanegara. Pusat kerajaan berada di sekitar Bogor, sejarahnya sunda mengalami babak baru karena arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk ke kuasaan kompeni Belanda sejak 1610 dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram sejak 1625.
Suku sunda merupakan kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yaitu berasal dan bertempat tinggal di Jawa Barat. Daerah yang juga sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar Sunda. Masyarakat sunda mengartikan kata “sunda” menjadi beberapa pengertian (Hizhib: 2010) :
·      Sunda, dari kata “Saunda”, berarti Lumbung bermakna (subur dan makmur)
·      Sunda, dari kata “Sonda”, berarti bahagia
·      Sunda, dari kata “Sonda”, berarti sesuai dengan keinginan hati
·      Sunda, dari kata “Sundara”, berarti lelaki yang tampan
·      Sunda, dari kata “Sundari”, berarti wanita yang cantik
·      Sunda, dari kata “Sundara”, nama dewa kamaja (penuh rasa cinta kasih)
·      Sunda berarti indah
Jika dilihat dari arti Sunda diatas, tidak ada satupun arti yang kurang baik, hampir semua artinya baik. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan masyarakat sunda adalah pengharapan akan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.[1]

1.2.    Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu mempelajari suku sunda ini adalah agar kita dapat mengetahui seluk beluk kehidupan dari masyarakat sunda itu sendiri dan juga tidak terlepas dari bagaimana cara mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekeliling baik dalam satu suku maupun berbeda suku.
Kita juga dapat mengetahui bagaimana pola hidup dan juga pola pikir dalam suku sunda, selain itu pula kita dapat melihat hasil-hasil karya sastra yang terdapat di suku sunda yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sekarang telah menjadi ciri khas bagi masyarakat dan suku sunda tersebut. Saya akan membuat lebih rinci lagi apa saja yang akan menjadi bahasan-bahasan mengenai suku sunda, yang telah di buat dalam rumusan masalah sebagai berikut:

1.3.    Rumusan Masalah
1.3.1.      Bagaimana pola hidup suku sunda?
1.3.2.      Bagaimana 7 unsur kebudayaan suku sunda ?
1.3.3.      Apa kaitan 7 unsur kebudayaan suku sunda dengan etnografi ?
1.3.4.      Apa perbedaan dan persamaan pola hidup dan pola pikir dalam suku tersebut ?
1.3.5.      Unsur karya sastra apa saja yang terdapat di suku sunda ?


                     




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bagaimana Pola Hidup Suku Sunda
Pola hidup masyarakat suku sunda adalah berladang. Komunitas peladang ini hidupnya cenderung berpindah-pindah atau nomaden, dan budaya bersawah memang kemudian dikenal pada masa pajajaran. Namun area persawahan pada masa itu pun hanya berada di wilayah yang berdekatan dengan kota Pakuan. Sedangkan masyarakat sunda di luar Pakuan tetap bekerja sebagai peladang.
Para petani menggarap sawah mereka untuk keperluan orang-orang kota Pakuan semacam bangsawan, bukanlah untuk diri mereka pribadi. Masyarakat hanyalah patut dan tunduk oleh para bangsawan.
Selain bekerja sebagai peladang, masyarakat sunda juga ada yang bekerja sebagai penggali saluran untuk menangkap ikan, dan untuk masyarakat yang hidup di pesisir pantai atau pun laut mereka akan mencari nafkah dengan menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring. Pola hidup bertani dan berladang itu pasti dilakukan oleh masyarakat sunda, biasanya masyarakat peladang bertani di perbukitan dan masyarakat petani (persawahan) bertani di daerah yang lebih lembab.[2]

2.2. Bagaimana 7 Unsur Kebudayaan Suku Sunda
Unsur-unsur kebudayaan suku sunda adalah :

1.    Bahasa
Bahasa sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain, yaitu :
Ø Bahasa sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
Ø Bahasa sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya
Ø Bahasa sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian di Serang dan di Cilegon, lebih lazim menggunakan bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh teknik pendatang dari suku jawa.

2.    Religi/Agama
Sebagian besar masyarakat suku sunda menganut Agama Islam, namun ada pula yang beragama kristen, hindhu atau budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat karena bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya kekuatan ghaib. Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lain.

3.    Mata Pencaharian
Mata pencaharian pokok masyarakat sunda adalah :
·      Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet dan kina
·      Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran
·      Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau
·      Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, peternak.


4.    Organisasi Sosial
Sistem kekerabatan yang digunakan adalah sistem kekerabatan parental atau bilateral, yaitu mengikuti garis keturunan kedua belah pihak orang tua yaitu bapak dan ibu. Dalam keluarga sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku sunda.
Dalam bahasa sunda dikenal pula kosa kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sejarah adalah susun galur atau garis keturunan.
Pada saat menikah, orang sunda tidak ada keharusan menikah dengan keturunan tertentu asal tidak melanggar ketentuan agama. Setelah menikah, penggantin baru bisa tinggal di tempat kediaman istri atau suami tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal di tempat baru atau neolokal.
Dilihat dari sudut ego, orang sunda mengenal istilah tujuh generasi keatas dan tujuh generasi ke bawah, antara lain yaitu :
Tujuh generasi keatas :
Kolot            Embah         Buyut           Bao           Janggawareng           Udeg-udeg
             Gantung Siwur

Tujuh Generasi Kebawah :
Anak          Incu           Buyut           Bao          Janggawareng         Udeg-Udeg
         Gantung Siwur

5.    Kesenian
Masyarakat sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat jenis kesenian diantaranya seperti :
v Seni tari : tari topeng, tari merak, tari sisingaan dan tari jaipong.
v Seni suara dan musik
ü Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi
ü Salah satu lagu daerah sunda antar lain yaitu Bubuy bulan, Es Lilin, Manuk dadali, Tokecang, dan Warung Pojok.
v Wayang Golek
v Senjata tradisonal yaitu kujang

6.    Sistem Peralatan dan Teknologi
Sistem peralatan masyarakat sunda terdapat pada senjata tradisionalnya yaitu kujang. Senjata seperti kujang ini disimpan sebagai pusaka yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkan di atas tempat tidur (Hazeu, 1904: 405-406). Menurut sebagian orang kujang mempunyai kekuatan tertentu yanng berasal dari dewa (Hyang), kujang juga dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa organisasi serta pemerintahan. Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat sunda, kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral.
Berdasarkan fungsi kujang terbagi menjadi empat antara lain, Kujang Pusaka ( lambang keagungan dan perlindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara), Kujang Pamangkas ( sebagai alat berladang).
Teknologi di masyarakat sunda pula saat ini sudah berkembang pesat, masyarakat saat ini sudah banyak mengenal dan bahkan memiliki benda-benda elektronik, tetapi adapula masyarakat sunda yang masih kental dengan adat dan menghindari tentang adanya teknologi dan unsur modern. Contohnya adalah masyarakat baduy. Mereka memang tidak begitu suka dengan perubahan teknologi, karena bagi mereka adat leluhur dari nenek moyang haruslah tetap dijalankan.[3]



7.    Sistem Pengetahuan
Pendidikan di suku sunda sudah dibilang sangat berkembang baik. Terlihat dari peran pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintah. Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundemental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, menginggat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karekteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku sunda memiliki potensi budaya dan karekteristik tersendiri, baik secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna yag sangat mendalam.


2.3. Apa Kaitan 7 Unsur Kebudayaan Suku Sunda Dengan Etnografi

Di dalam 7 unsur suku sunda itu yang di bahas pada halaman sebelumnya yang berupa : bahasa, agama, organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, mata pencaharian, sistem peralatan dan teknologi, merupakan hal-hal yang sangat berkaitan dengan etnografi. Unsur-unsur itu juga sangat bervariasi dalam etnografi, misalnya saja dalam berbahasa karena bahasa seperti bahasa sunda itu memiliki berbagai macam bahasa yang berbeda-beda, ada yang halus dan juga yang kasar. Dalam teknologi pula cara memproduksi, memakai dan memelihara segala peralatan hidup dalam karangan etnografi yang cukup membatasi diri terhadap teknologi yang tradisional.
Hubungan kekerabatan dan kehidupan masyarakat pun biasanya masing-masing sangat penting. Sistem kekerabatan bersangkutan dengan etnografi karena banyak memiliki aneka warna suku tersebut, misalkan dalam berbagai aktivitas kerjasama atau gotong royong. Dan dalam komunikasi pula soal hubungan dan sikap antara pemimpin dan pengikut harus seimbang dalam komunitas. Sistem pengetahuan pun merupakan ilmu yang harus dimiliki oleh masyarakat, seberapa kecil pun, tidak mungkin dapat hidup tanpa pengetahuan tentang alam sekeliling dan sikap-sikap dari peralatan yang dipakainya.
Jadi dari semua unsur-unsur itu etnografi bersifat sangat universal, etnografi itu sangat mencakup aktivitas adat istiadat, pranata-pranata sosial dan benda-benda kebudayaan. Dan etnografi merupakan pelengkap dari ke 7 unsur kebudayaan sunda tersebut.[4]

2.4. Apa Perbedaan & Persamaan Pola Hidup dan Pola Pikir Dalam Suku Sunda
A.   Perbedaan pola hidup & pola pikir
·      Masyarakat sunda tidak pernah tertinggal tentang berpikiran mengenai mitos-mitos yang telah mereka percaya sejak dulu, sedangkan pola hidupnya itu lebih banyak diakukan untuk bercocok tanam
·      Pola pikir masyarakat sunda pun terkadang juga selalu mementingkan masa depan atau pemikiran kedepan seperti apa, dan pola hidupnya pun sangat mudah untuk beradaptasi dengan baik antara sesama dengan menggunakan bahasa sunda ataupun dengan suku yang berbeda dan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
·      Pola pikir suku sunda pun adalah sangat mencintai hasil karya keseniannya, karena dari mencintai kesenian itu dapat menimbulkan rasa optimis, dan juga memiliki watak yang terbuka tetapi juga terkadang memiliki sifat yang sangat perasa, biasanya masyarakat sunda menyebutnya dengan sifat pundung.[5] Pola hidupnya juga mereka dapat beradaptasi dengan baik walaupun misalnya mereka sudah hidup merantau atau keluar dari wilayah suku sunda, dan hubungannya itu berjalan sangat positif.

A.   Persamaan pola hidup & pola pikir
·      Pola hidup dan pola pikir yang dijalani oleh masyarakat suku sunda itu memiliki sifat yang seimbang, contohnya saja dalam hal beradaptasi. Mereka harus bisa beradaptasi dengan baik apalagi bila mereka sudah tinggal di dalam lingkungan yang berbeda-beda suku secara otomatis mereka akan berpola pikir bahwa mereka harus bersifat ramah-tamah dan saling menghargai antara sesama.
·      Pola pikir yang telah mengalami perkembangan pada suku sunda ini sangat amat berdampak positif terhadap pola hidup mereka. Dengan pengetahuan dan juga pendidikan yang suduh cukup banyak didapat oleh masyarakat suku sunda tersebut dan juga dengan teknologi yang semakin berkembang menyebabkan pola hidup yang begitu baik bagi mereka, misalnya saja jika mereka bersekolah tinggi dan mendapat nilai yang baik dan bagus secara otomatis mereka akan bekerja dan di tempatkan pada posisi yang tinggi dan mendapatkan gaji cukup pula dan itu menyebabkan pola hidup mereka akan jauh lebih baik. Tetapi jika mereka hanyalah mengenyam pendidikan yang kurang baik maka pola hidup mereka pun akan serta-merta tidak baik pula. Jadi pada intinya pola hidup dan pola pikir itu sangatlah berpengaruh bagi kehidupan mereka.[6]
2.5. Karya Sastra yang Terdapat di Suku Sunda
Karya sastra merupakan karya yang memiliki nilai estetika. Karya sastra juga terdapat di berbagai daerah, seperti di suku sunda ini banyak sekali karya sastra yang dapat kita temui dari jaman dahulu. Kesusasteraan-kesusasteraan sunda itu bukan suatu unsur kebudayaan yang hanya dikenal di lingkungan yang kecil saja, akan tetapi dikenal secara luas dalam masyarakat. Dalam pertunjukan reog, permainan yang selalu dapat menyesuaikan dirinya di setiap zaman, tampaklah betapa bahasa dan sastra sunda itu merupakan bagian yang esensil dari kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat.
Di dalam suku sunda terdapat kesusastraan yang kaya. Bentuk sastra sunda yang tertua adalah pantun, yaitu cerita pahlawan-pahlawan nenek moyang sunda dalam bentuk puisi diselang-seling oleh prosa berirama seperti bentuk panglipurlaraan. Tukang-tukang pantun itu mendongengkan cerita-cerita pantunya diiringi dengan musik kecapi. Cerita itu biasanya menceritakan tentang pahlawan-pahlawan sunda dan juga raja-rajanya pada zaman dahulu. Bagi orang sunda cerita-cerita pantun itu menduduki tempat yang khas dalam hatinya.
Sesudah zaman pantun dikenal zaman wayang dan juga wawacan. Cerita-cerita wayang kebanyakan berasal dari epos Ramayana dan Mahabrata, tetapi sekarang sudah banyak karangan dari Ki Dalang sendiri. Wayang di sunda lebih merupakan hiburan, dan orang yang menyaksikannya biasanya tidak terlalu tertarik dengan lakonnya, melainkan oleh keterampilan sang dalang untuk memainkan wayangnya, atau lebih tertarik oleh nyanyian-nyanyian sindennya. Di dalam wayang itu sendiri terdapat unsur kesenian ialah seni sastra, seni tembang dan gamelan, dan pertunjukan wayang itu masih sering diadakan di daerah-daerah pedesaan maupun di kota-kota.
Cerita wawacan dalam bahasa sunda banyak diambil dari cerita-ceirta islam. Dahulu wawacan itu sering dinyanyikan, dan ini disebut beluk. Biasannya seorang membacakan satu kalimat dari wawacan itu yang berbentuk puisi tembang dari jawa, dan seorang yang lain menyanyikannnya. Orang yang membaca dan menyanyi duduk di tikar di bawah, atau tidur-tidruan, demikian pula yang mendengarkannya. Beluk itu biasa di perdengarkan sambil menunggui orang yang baru melahirkan. Lamanya hampir semalaman suntuk. Sekarang orang sunda sudah jarang mendengarkan beluk.
Disamping pantun, wayang dan wawacan, dalam kesusastraan sunda terdapat bermacam-macam cerita rakyat seperti: Sangkuriang yaitu cerita tentang terjadinnya Gunung Tangkubanprahu dan danau purba di dataran tinggi Bandung, serta varian-variannya mengenai terjadinya beberapa gunung dan danau di Jawa Barat. Satu macam cerita rakyat di sunda adalah cerita si Kabayan satu contoh sastra yang dilukiskan sebagai seorang yang malas dan bodoh, akan tetapi sering-sering tampak pula kecerdikannya.[7]
















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa suku sunda ini adalah suku yang memang sangat kental dengan unsur budayanya, selain itu juga suku sunda terkenal dengan kuliner dan hasil budaya yang memang masih disimpan baik di dalam suku sunda tersebut.
Saya sebagai seorang yang terlahir di dalam adat suku sunda sendiri pun merasa bangga dengan suku yang memang melekat pada dalam diri saya, karena yang saya tahu adalah suku sunda itu juga memiliki sifat yang ramah yang bisa saling menghargai walaupun kepada orang-orang yang belum di kenalnya, mereka juga sangat bersifat baik dalam bahasa sundanya itu adalah “someaah hade ka semah”. Dan itu lah yang menjadikan saya, dan mungkin seluruh masyarakat yang terlahir di dalam suku sunda bangga terhadap sukunya tersebut.

3.2. Saran
Saran yang dapat saya berikan adalah kita harus mengetahui bermacam-macam suku yang ada di Indonesia bukan hanya suku sunda tetapi masih banyak suku-suku yang lainya. Mengenai suku sunda sendiri kita harus bisa lebih mengembangkan suku yang kita miliki dari sejak lahir, contohnya saja dalam berbahasa, kita harus bisa menguasai bahasa dalam suku kita kalaupun misalkan kita tidak bisa menggunakan bahasa itu dengan baik, kita harus bisa memahami makna dan maksudnya sedikit saja.
Suku itu merupakan bagian pokok dari kebudayaan Indonesia. Tidak mungkin seseorang lahir tanpa adanya suku, pastilah merka memiliki suku yang telah dibawa oleh kedua orang tuanya jika suku-suku dari kedua orang tua berbeda kita tidak boleh condong terhadap satu suku saja tetapi alangkah lebih baiknya kita bisa mempelajari dan mengenal lebih dekat dari kedua suku-suku tersebut.




















DAFTAR PUSTAKA

Rosidi, Ayip. Revitalitas Dan Aplikasi Nilai-Nilai Budaya Sunda Dalam Pembangunan Daerah. Bandung. 2010
Ningrat, Koentja. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. 1982
Supriatna, Jatna. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2008










LAMPIRAN
 



















Ini adalah hasil-hasil kebudayaan dari suku sunda


[3] Ayip Rosidi. Revitalitas dan Aplikasi Nilai-Nilai Budaya Sunda Dalam Pembangunan Daerah. (Bandung : 2010), hal. 117
[5] Koentjaraningrat. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. (Jakarta: Djambatan, 1982). H, 303
[7] Koentjaningrat. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. (Jakarta: Djambatan, 1982). Hal, 301 & 302