Tampilkan postingan dengan label Seno Gumira Ajidarma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seno Gumira Ajidarma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

MANUSIA KAMAR oleh SENO GUMIRA AJIDARMA

Pada umurnya yang ke-20 ini, ia mulai memasuki periode sinis kepada dunia. Aku telah mengenalnya semenjak ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Aku bilang padanya, dalam kehidupan itu semua biasa. Ia bisa mengerti, tapi tak bisa menerima.Lima tahun yang lalu ia masih hidup dengan penuh harapan. Tapi yang penting mungkin bukan sekadar harapan. Yang penting adalah kenyataan, dan kenyataan telah membuatnya kecewa. Ia mulai jenuh dengan basa basi. Sikapnya mulai kasar dan terang-terangan. Banyak kawan mulai sakit hati, dan akhirnya ia tersingkir.Aku hanya sekali-sekali saja berjumpa dengannya, karena kau tahu, kesibukan makin hari makin bertambah. Mungkin cuma aku yang mengerti persoalannya. Ia menghindari persahabatan, aku maklum, persahabatan terkadang bisa membunuh. Ia terasing dan kesepian. Tampaknya ia lebih
suka demikian karena telah jadi pilihannya. Ia bahagia dalam ketidakbahagiaannya atau ia tidak bahagia dalam kebahagiaannya.Ia memang suka berfilsafat. Aku sering bingung mendengar kata-katanya, tapi tetap mencoba melayaninya. Jika sudah kenal, berbicara dengan dia amat menyenangkan. Pengetahuannya luas dan apa yang dikatakannya sering tidak terbantah. Kawan-kawan yang lain agak segan terhadapnya, karena ia terlalu sering menelanjangi kebebalan mereka di muka umum. Mereka bilang ia terlalu asyik sendiri, suka berkhayal, nyentrik dan tidak bisa bergaul.
Aku sendiri menganggap ia manusia biasa, yang sedang menjalani tahap-tahap kehidupannya. Tapi tahap itu dilaluinya dengan amat serius dan penuh makna. Aku sendiri heran kenapa bisa demikian. Selama beberapa tahun terakhir, gejala itu memang mulai tampak.
“Aku bosan lihat orang-orang itu.”
“Kenapa?”
“Munafik, penjilat, tukang onani jiwa.”
“Wah, jangan begitu dong. Itu manusiawi kan?”
“Memang, tapi sebal melihatnya. Jenuh.” Ia sangat serius, sementara banyak orang di sekelilingnya makin hari makin mencari kemudahan dan kesantaian. Ia tak mendapat tanggapan, dan marah.
Untung ia bisa menyalurkannya dalam latihan teater atau menulis puisi, namun ini tidak berlangsung lama. Rupanya dunia kesenian pun tak memuaskan. Ia ketemu lagi dengan pemimpi, pembual dan juga penjilat. Semenjak ia keluar dari perguruan tinggi dan rombongan sandiwara itu dua tahun yang lalu, aku tak pernah lagi melihatnya.
Aku teringat ketika untuk terakhir kalinya berpapasan dengan dia di jalan.
“He kampret, dari mana saja kamu?”
“Bertapa,” katanya dengan lesu.
Dalam remang senja itu, perlahan-lahan kemudian menjadi jelas, bajunya begitu kumal meskipun termasuk mahal. Juga celananya. Sepatunya sih normal, tapi heh rambutnya itu, wah seperti sapujagat: kusut dan kaku, dan entah berapa bulan tidak disisir. Dulu, meskipun ia termasuk seniman yang urakan, pakaiannya termasuk rapi dan mengikuti mode.
Pasti perubahan-perubahan semacam ini disebabkan oleh suatu hal yang sangat mempengaruhi dirinya. “Bertapa? Bertapa di mana? Gua Langse?”
“Bertapa kok di mana! Zaman sekarang orang bertapa di kamarnya
sendiri! Tahu nggak lu?” Busyet! Ketus amat.
Aku kurang bisa mengerti. Kebudayaan macam mana yang menghasilkan manusia ini. Dan apakah yang dikerjakannya selama ini? “Baca buku! Hanya baca buku! Tidak makan dan tidak minum!” Wah, wah, wah, ia memang sudah berubah rupanya. Semua kitab suci dilalapnya, mulai Zabur, Taurat, Injil, Qur’an sampai Goethe, Tao, Khonghucu, Wedhatama, Wulangreh, Upanishad, Bhagawadgita, Sartre, Heidegger, Karl Marx dan Ranggawarsita. Kini di tangannya kulihat pula bukunya Erick Fromm, Schumacher dan sebuah buku tentang Zen.
Rupanya ia barusan dari toko buku.
“Masih jenuh melihat manusia?”
“O tentu, tentu. Di toko buku tadi banyak orang sok pintar. Ada orang memborong ensiklopedi. Melihat tampangnya sih, cuma buat pajangan ruang tamu. Sialan! Dasar gombal semua orang-orang model begini!”
Aku mengajaknya nonton film. Ia bertanya dulu film apa. Ia benci film action. Maunya nonton film-film Ingmar Bergman, Werner Herzog atau Wim Wenders. Tapi tentu saja tidak ada. Aku bilang ini film Indonesia pemenang Citra, namun dengan hormat ia menolak, ada hal yang lebih
penting, katanya. Iseng-iseng kuajak ia ke tempat pelacuran. Lho, ia mau.
“Ini baru namanya hidup,” katanya setelah keluar dari kamar.
Ditenggaknya segelas bir. Dan sepanjang malam itu, di tengah alunan panas musik dangdut, aku mendengar kuliah-kuliahnya tentang individualisme, eksistensialisme, kapitalisme, ekosistem, religiusitas, dan kritik budaya. Sudah melayang aku dengan berbotol-botol bir, ditambah pula dengan pikiran-pikirannya yang tinggi di awan itu, aku tiba-tiba saja tergeletak di meja, tertidur pulas.
Esoknya ia sudah tidak ada. Dan tujuh hari pun menjadi seminggu. Empat minggu menjadi sebulan. Dua belas bulan menjadi setahun. Waktu begitu saja lewat tanpa terasa. Banyak orang merasa telah menjadi tua, sementara orang-orang lain malah merasa makin muda. Kehidupan masih berjalan seperti biasa. Ada orang jujur yang tak pernah mujur, dan orang yang berjiwa bunglon masih selamat. Dunia belum betul-betul kiamat. Sungai masih mengalir, dari gunung ke desa, ke kota, ke muara, ke laut, bersama sejumlah besar sampah.
Di jendelaku masih ada burung yang bulunya kuning, yang tiap pagi masih berkicau. Mungkin tiba saatnya nanti burung tidak bisa berkicau, kehilangan bahasa. Angin masih silir. Senja masih jingga.
Fajar masih ungu. Telepon itu berdering.
“Halo? Ya? He! Telepon dari mana kamu?”
“Dari rumah.” “Di mana? Aku pengin ketemu kamu.”
“Sorry saja bung! Rahasia! Sekarang tidak ada sistem ketemu. Kalau ada perlu, telepon saja, ini nomorku, 717375.”
“Tapi ini penting.”
“Takut disadap?”
“Soalnya ini masalah pribadi.”
“Apalagi itu, sorry.”
Kami bercakap sebagaimana layaknya dua kawan yang lama tidak berjumpa. Ia bertanya tentang segala macam hal dengan suatu urutan pertanyaan yang sistematis, sehingga kalau jawaban itu dikumpulkan, mungkin bisa merupakan laporan riset. Ha! Ini perkembangan baru. Ia haus informasi, tapi begitu pelit akan informasi dirinya sendiri. Ketika hubungan itu selesai, kembali lagi ia menjadi misteri bagiku. Apalagi bagi kawan-kawan yang lain.
Dengan bodoh aku masih bertanya sama mereka di mana alamatnya. Tentu saja tidak tahu. Kutanyakan pada orang tuanya, ini pun nihil. Ternyata selama ini mereka pun hanya berhubungan lewat telepon.
Telepon? Heh, tolol sekali aku. Kutelepon dia. “Halo?” Telepon segera diangkat.
“Di mana sih rumah kamu?”
“Lu ngga perlu tau gue punye rume. Kalok perlu telepon aje bung!”
“Gue ade perlu ni ame lu!” Eh, kenapa aku jadi ikut-ikutan bergaya Betawi?
“Sampaikan saja lewat telepon!”
Ia tampak terganggu.
“Pertemuannya yang penting!”
“Maaf, aku tidak terima tamu.”
Klak.
Nging.
Tut tut tut.
Bangkek orang ini. Sombong sekali dia.
Tapi aku jadi penasaran. Seperti detektif film seri televisi, kucoba menyelusuri jejaknya. Namun ia sungguh pintar. Berbagai tabir tidak bisa disingkapkan dengan segera. Banyak juga waktu terbuang untuk mencari batang hidungnya. Mula-mula kuhubungi kantor telepon. Nomor teleponnya memang ada alamatnya, kudatangi rumah itu, ternyata sebuah rumah kecil yang kosong. Pintunya terkunci dari luar, kudobrak. Dan tetap kosong. Apa artinya ini? Kutunjukkan pada kantor telepon, mereka bilang memang itu alamatnya, dan tiap bulan menerima uang ongkos telepon. Tapi siapa yang masang? Segera petugas dicari, tapi ke mana petugas itu? Ia sudah dipindahkan ke luar kota.
Aku benar-benar penasaran. Segala alamat rumah di kantor kotamadya kucek dan cek kembali, kalau-kalau ada namanya. Tapi sungguh rumit.
Biasa, administrasi yang kacau. Jadi? Nihil. Lantas bagaimana? Ha!
Malam hari! Ia suka keluar malam, aku harus begadang sepanjang malam menelusuri kota ini.Maka ketika malam dengan jubahnya yang hitam telah tengkurap menelungkupi kota.
Ketika dingin mulai menyerbu jalanan yang mulai basah oleh gerimis, dengan krah jas hujan yang tegak menutupi telinga, dengan topi model bandit Itali, lengkaplah aku sebagai intel Melayu yang amatiran.Tapi jadinya aku lebih mengenal kehidupan. Aku tahu apa yang terjadi di hotel-hotel, aku tahu dari desa mana pelacur jalanan itu berasal, aku bisa mengendus mobil pejabat siapa yang diparkir di motel itu. Kutelusuri segala tempat hiburan malam, perpustakaan, restoran, kompleks gelandangan, warung-warung kopi, tempat banci-banci mangkal, tempat homo-homo berkencan, mesjid, gereja, vihara, klenteng …
Bermalam-malam sudah dan hasilnya nol besar.
Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga. Malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti memberikan perasaan aman dan
terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.Agak sulit mencari orang normal. sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden. Aku jadi maklum kenapa kawanku jadi jenuh. Ia tidak menerima mereka sebagaimana adanya. Ia mencari yang baik-baik saja, dan itu memang
sulit, dan bisa jadi malahan tidak ada. Sedangkan kalau ada, mungkin juga tidak menarik dan tidak menyenangkan. Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis. Aku melihat ia agak kacau. Dan aku jadi
makin penasaran saja. Ke mana dia, kenapa tidak ada seorang pun yang tahu? Kenapa pula ia harus menghilang?
(Jakarta, 1980)

Senja di Kaca Spion

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa
di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan.
Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika
memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang
kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski
apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya
bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera
perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca
spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan
secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa
kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat
tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di
hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu
beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak
keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti
akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat
meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama,
mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah
yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung
mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang
mengalami bencana tak tertahankan.
Di jalan tol, aku tak bisa berbalik bahkan tak juga bisa menoleh ke
belakang. Aku hanya bisa melaju terus menerus melaju dan memang hanya
melaju selaju-lajunya kelajuan dalam kecepatan yang terlaju ketika di
hadapanku awan hitam yang bergulung-gulung itu bagaikan merendah dan
bersiap menerkam meski dalam kenyataannya memang hanya di
sana saja
awan hitam itu bergulung-gulung dan terus bergulung-gulung sungguh
begitu matang untuk setiap saat menggulung.
Itulah yang membuat aku meluncur dengan perasaan rawan. Aku melaju di
jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang
dengan pasti merupakan kegelapan sementara di kaca spion kusaksikan
tiga senja dengan tiga matahari terbenam di ujung jalan tol di balik
pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit
seantero bumi memantik kesenduan memantik keharuan yang menenggelamkan
perasaan dalam kedukaan yang mau tak mau harus ditahan.
Belum tentu sekali lagi dalam seumur hidupku aku akan mendapatkan tiga
senja sekaligus melalui kaca spion di tengah, kiri, dan kanan dalam
mobilku yang meluncur dan melaju meninggalkannya dengan tiga matahari
yang bagaikan lempengan besi merah membara membenam perlahan-lahan
tapi pasti meski tetap perlahan tapi meski tetap sepasti sepelan
perputaran bumi. Tiga senja dengan tiga matahari membenam
menyemburatkan langit di tiga kaca spion, hanya dari kaca spion
mobilku dan hanya dengan meninggalkannya ke depan, terus menerus
melaju ke depan, maka aku akan bisa melihat ketiga senja dengan ketiga
matahari itu.
Meluncur di jalan tol tanpa ujung, aku bahkan tidak memiliki
kemungkinan untuk kembali, sepanjang hari sepanjang zaman aku menembus
ruang dalam waktu yang berkelebatan. Di manakah ujung jalan tol ini?
Aku tak tahu menahu dan sungguh tiada tahu menahu hanya bisa meluncur
dan menuju untuk terus menerus menuju dan melaju ke depan tanpa
halangan. Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Aku tak
tahu dan tak akan pernah tahu karena aku hanya bisa meluncur di jalan
tol yang panjang tanpa ujung tanpa pernah tahu akan berakhir entah
kapan dan di mana.
*
Pada tiga kaca spion tiga matahari terbenam perlahan di balik
pegunungan. Pada punggung pegunungan itu orang-orang berjalan sebagai
sosok-sosok kehitaman dengan kepala menunduk melangkah perlahan-lahan.
Sepuluh orang, duapuluh orang, mungkin limapuluh orang, berjalan
menuruti langkah kaki dengan kepala tertunduk mengikuti jalan setapak
dalam perjalanan panjang entah dari mana menuju entah ke mana dalam
kekelaman senja di atas pegunungan. Apabila mereka kemudian berjalan
beriringan di punggung pegunungan naik turun dataran dengan latar
belakang lempengan matahari merah membara maka tampaklah sosok-sosok
yang berjalan dengan kepala tertunduk itu melintas dalam perjalanannya
bagai melintasi dunia. Pada kaca spion aku tak akan pernah tahu
sosok-sosok hitam yang melangkah perlahan dengan kepala itu datang
dari mana dan menuju entah ke mana. Siapalah yang akan tahu?
Segalanya terlihat di kaca spion, tetapi hidup tidak bisa dibalik,
sosok-sosok melangkah, aku meluncur, matahari terbenam, cahayanya yang
keemasan semburat membakar langit, menyala berkobar-kobar dengan lidah
api yang menjilati angkasa. Segalanya memesona di kaca spion dan
segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya
dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dunia serasa
begitu tenang dalam kecepatan terbangnya malaikat yang hening. Aku
meluncur ke depan, tetapi mataku menyaksikan senja pada tiga kaca spion…
Aku masih meluncur awan masih bergulung tetapi langit telah semakin
gelap ketika tiga senja di tiga kaca spion itu tampak semakin
kemerah-merahan. Aku masih menyaksikan ketiganya sekaligus ketika tiga
matahari merah membara masih terbenam perlahan-lahan, ketika
kuperhatikan ternyata pada spion sebelah kanan orang-orang yang
berjalan tertunduk sebagai sosok-sosok hitam itu telah menghilang…
Pergi ke manakah mereka?
Ternyata beberapa orang yang berjalan paling belakang masih tampak
berjalan dengan kepala tertunduk pada pemandangan senja di kaca spion
yang tengah, yang ketika menghilang kemudian tampak pada kaca spion
yang kiri!
Pada kaca spion yang kiri kemudian kusaksikan rombongan sosok-sosok
hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk di atas pegunungan yang
juga menghitam dalam latar belakang lempengan matahari raksasa yang
merah membara dan sedang turun perlahan-lahan. Mereka berjalan dengan
pelan, tetapi pasti, dan satu persatu menghilang keluar dari kaca spion.
Apakah mereka sebenarnya masih di
sana? Sayangnya aku tidak bisa
menoleh ke belakang. Aku meluncur dengan kecepatan yang tak terukur
lagi, sebaiknya tentu aku tidak menoleh sama sekali ke belakang, meski
kecepatan yang tak terukur itu telah memberikan keheningan yang begitu
heningnya sampai terdengar berdenting.
Namun dengan menatap ke depan, kedua mataku masih mampu meliputi
ketiga kaca spion sekaligus, tempat aku telah melihat ketiga matahari
senja sedang turun perlahan-lahan. Tiga matahari senja bagaikan tiga
lempengan raksasa yang merah membara turun perlahan-lahan ke balik
pegunungan yang punggungnya tampak naik turun panjang pendek curam
landai dalam latar langit yang kemerah-merahan.
Ternyata bahwa matahari pada kaca spion yang kanan telah lebih dulu
tenggelam, meninggalkan cahaya keemas-emasan di langit, cahaya yang
akan disebut-sebut penyair
gaya lama sebagai cahaya kencana.
Pada kaca spion yang tengah matahari masih terbenam separuh. Lempengan
raksasa itu bergeletar mendesak bumi yang bagaikan menolaknya. Langit
di atasnya merah membara penuh dengan pesona. Juga penyair
gaya lama
tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya
kencana.
Sementara itu, pada kaca spion sebelah kiri, mataharinya tenggelam
lebih cepat, karena sudah tinggal sepertiganya saja dan seperti
kusaksikan memang kemudian hilang terbenam meninggalkan cahaya
keemas-emasan yang juga akan disebut penyair
gaya lama sebagai cahaya
kencana.
Tapi aku suka
gaya lama. Apa salahnya?
Aku masih meluncur di jalan tol tanpa ujung dengan kecepatan tak
terukur. Pada kaca spion di dalam mobil, kusaksikan senja, dengan
matahari merah membara yang sedang terbenam perlahan-lahan, yang
cahayanya semburat menyapu langit menjadi keemas-emasan-memang tiada
pilihan lain bagi seorang penyair
gaya lama, selain menyebut cahaya
yang semburat di langit itu sebagai cahaya kencana…
Pondok Aren,
Kamis 8 Maret 2007. 18:25
SGA

Ibu yang Anaknya Diculik Itu oleh Seno Gumira Ajidarma


Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.
Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam.
”Hmmh. Ibu Saleha, ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku, seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha, karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati,’ kata Bapak. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. ’Saya selalu teringat Satria, Ibu, saya tidak bisa’,” katanya.
”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria, sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini,’ kataku, ’tapi cinta adalah soal kata hati, Saras, karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan, nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah, Saras, memang rasanya ia seperti anakku juga. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu, rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini, membantu aku membereskan kamar Satria, seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…”
Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi, dan duduk lagi di situ. Ibu terdiam, melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Lantas melihat ke sekeliling.
”Bapak… Kursi itu, meja itu, lukisan itu, ruangan ini, ruang dan waktu yang seperti ini, kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Seperti ini juga keadaannya, bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali, dan kami masih seperti orang menunggu. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya, kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja kita tidak punya…
”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ’Satria sudah mati,’ katanya!”
Ia menggigit bibir, berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.
”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku, bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati.”
Ibu memandang ke arah kursi Bapak.
”Pak, Bapak, kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan,’ katamu. Nanti dulu, Pak. Menerima? Menerima? Baik. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik, dianiaya, dan akhirnya dibunuh.”
Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali.
”Bapak sendiri yang bilang, ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas tutup matanya dibuka. Di hadapannya, orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto-foto di atas meja. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Foto orangtuanya, foto saudara-saudaranya. Lantas orang-orang itu berkata, ’Kami tahu siapa saja keluarga Saudara.’
”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita, suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua boleh kita terima begitu saja?”
Saat Ibu menghela nafas, ruangan itu bagaikan mendadak sunyi.
”Sudah sepuluh tahun. Satria sudah mati. Bapak sudah mati. Munir juga sudah mati.”
Dipandangnya kursi Bapak lagi. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.
”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria, menata gelas dan piring, sekarang untuk kalian berdua, setiap waktu makan tiba, padahal aku selalu makan sendirian saja. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau berpikiran seperti itu?”
Sejenak Ibu terdiam, hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar.
”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua, tetapi kalau terbangun, aku masih juga terkenang-kenang kalian berdua, dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah mati. Impian, kenangan, kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi.
Jiwa terasa memberat, tapi tubuh serasa melayang-layang…”
Lantas nada ucapannya berubah sama sekali, seperti Ibu berada di dunia yang lain.
”…. jauh, jauh, ke langit, mengembara dalam kekelaman semesta, bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah, meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab, menyatu dengan jiwa terluka, luka sayatan yang panjang dan dalam, seperti palung terpanjang dan terdalam, o palung-palung luka setiap jiwa, palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya membara, membara dan menyala-nyala, berkobar menantikan saat membakar dunia…”
Ibu mendadak berhenti bicara, berbisik tertahan, memegang kepalanya, menutupi wajahnya.
”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!”
Namun ia segera melepaskan tangannya.
”Tapi…. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya, jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu.”
Nada bicaranya menjadi dingin.
”Menculik anak orang dan membunuhnya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?”
Hanya Ibu sendiri di ruangan itu, tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya, meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.
”Bapak… aku yakin dia ada di sana, karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana; tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang, bahwa Satria tentu sudah tidak ada. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang dan bahagia hanya dengan akalnya, tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana perasaanku bisa membuatku yakin, jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? Ya, begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!”
Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu, tempat seolah-olah ada seseorang diajaknya bicara.
”Pak, Bapak, apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?”
Namun Ibu segera menoleh ke arah lain.
”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup, dan aku masih tidak tahu apa-apa. Hanya bertanya-tanya. Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. Dulu aku bisa bertanya jawab dengan Bapak. Sekarang aku bertanya jawab sendiri….
”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu, ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu, bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?”
Terdengar dentang jam tua. Tidak jelas jam berapa, tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Ibu masih berbicara sendiri, dan hanya didengarnya sendiri.
”Bapak, kadang aku seperti melihatnya di sana, di kursi itu, membaca koran, menonton televisi, memberi komentar tentang situasi negeri. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak itu, pakai kaos oblong dan sarung, menyeruput teh panas, makan pisang goreng yang disediakan Si Mbok, lantas ngomong tentang dunia. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal, menyusul Bapak, menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun…
”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria, malah seperti lupa, sampai setahun lamanya, sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu malam entah karena apa.
”Sudah sepuluh tahun, banyak yang sudah berubah, banyak juga yang tidak pernah berubah.”
Di luar rumah, tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga, tukang bakmi langganan Satria, lewat. Ibu tampak mengenali, tapi tidak memanggilnya.
”Bagiku Satria masih selalu ada. Tidak pernah ketemu lagi memang. Tapi selalu ada. Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari luar negeri, datang menengok cuma hari Lebaran. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham, satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan, kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin orang. ’Ya enggaklah kalau ngibul,’ kataku, ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Dasar Bapak. Ada saja yang dia omongin itu.
”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Susah rasanya mengingat-ingat apapun. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Lupa ini-itu. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…”
Ibu tersenyum geli sendiri.
”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Ia selalu bertanya, ’Seperti apa Satria kalau masih hidup sekarang?’, atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’, atau kadang-kadang keluar amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata, sembunyi-sembunyi pula!’
Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.
”Bapak, kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini, bagaimana dia diperlakukan, dan apa sebenarnya yang telah terjadi.
”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Duduk di kursi itu seperti biasanya.
”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak, bahkan juga dalam mimpi-mimpiku, tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Hanya lewat, tanpa senyum, seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.
”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria.
”Ceritakanlah semua rahasia….”
Ibu masih berbicara, kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan.
”Kursi itu tetap kosong. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya?
”Rahasia sejarah. Rahasia kehidupan.
”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu.
”Ini suatu aib, suatu kejahatan, yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….
Telepon genggam Ibu berdering. Ibu seperti tersadar dari mimpi. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.
”Pasti ibunya Saras lagi,” gumamnya.
Tapi rupanya bukan.
”Eh, malah Si Saras.”
Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.
”Ya, hallo… “
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras, telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut, seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.
”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.
”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”

SGA