Sabtu, 25 Mei 2013

SASTRA BANDINGAN


Sastra Bandingan ( Comparative Literature ) dalam banyak rumusan atau definisi, umumnya menekannya perbandingan dua karya atau lebih dari sedikitnya dua Negara yang berbeda. Sastra bandingan bertujuan untuk menghapus pandangan sempit sastra nasional dan untuk menghilangkan anggapan bahwa satu sastra nasional lebih baik dari satu sastra nasional lainnya. Sastra bandingan tidak mempersoalkan masalah perbedaan dalam agama dan kurun waktu. Karya-karya sastra dapat saja dibahas dan dibandingkan meskipun lokasi cerita, para pelaku, dan penulisnya menunjukan perbedaan yang jelas.
Hakikat Kajian Ilmu Sastra Bandingan
Sastra Bandingan dalam kajian umum serta dalam kaitannya dengan sejarah ataupun yang lainnya adalah bagian dari sastra. Bagaimana menghubungkan sastra yang satu dengan yang lain, dan bagaimana pengaruh keduanya, serta apa yang dapat diambil dari sastra ini dan apa yang diberikannya. Atas dasar inilah kajian dalam sastra bandingan bersifat berpindah dari satu sastra ke sastra yang lain. Terkadang perpindahan ini dari segi lafadz-lafadz bahasa atau dalam tema serta dalam gambaran yang di perlihatkan sastrawan dalam temanya, atau berupa karya-karya seni. Dan batasan-batasan yang memisahnya antara sastra dengan yang lain pada kajian perbandingan terletak pada bahasa-bahasa. Maka perbedaan antara bahasa adalah syarat untuk membangun kajian sastra banding. Pengaruh-pengaruh sastra yang ditulis dengan satu sama lain dan perbandingan yang terjadi antara sastrawan satu dengan yang lain mengenai bahasa yang satu tidak pula masuk bahasan sastra banding.
Dalam sastra bandingan kajian sastra dapat dilakukan dengan mengambil hanya dua karya sastra, misalnya dua sajak, dari sastra nasional yang berbeda. Selain itu sastra bandingan mencakup pula kajian tentang hubungan karya-karya sastra dengan berbagai bidang d luar kesusasteraan, misalnya dengan ilmu pengetahuan, agama, dan karya-karya seni.
Sifat Kajian Sastra Bandingan
Berdasarkan sifat kajian, kajian sastra bandingan dapat kita bagi atas beberapa kelompok, antara lain
1.Kajian bersifat komparatif
Kajian ini terutama dititikberatkan pada penelaahan teks karya-karya sastra yang dibandingkan, misalnya karya sastra A dengan karya sastra B,. dapat dikatakan bahwa kajian ini merupakan titik awal munculnya sastra bandingan, oleh karena itu, kajian ini selalu dipandang sebagai bagian terpenting dalam kajian sastra bandingan.
2.Kajian bersifat historis
Kajian yang bersifat historis ini lebih memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi kaitan antara satu karya sastra dengan karya sastra lainnya. Kajian ini dapat berupa, misalnya, masuknya satu buah pikiran, aliran, teori kritik sastra ataupun jenre dari satu Negara ke Negara lainnya.
3.Kajian bersifat Teoritis
Kajian yang bersifat teoritis ini menggambarkan tentang konsep, criteria, batasan, ataupun aturan-aturan dalam berbagai bidang kesusastraan. Sebagai contoh adalh konsep-konsep mengenai berbagai aliran, criteria jenre, teori-teori pendekatan, serta batasan-batasan yang berkaitan dengan masalah tema.
4.Kajian bersifat antar-disiplin
Sifat kajian ini sesuai dengan judulnya, tidak menelaah karya-karya sastra semata-mata, melainkan membicarakan hubungan antara isi karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan bahkan juga karya-karya seni.
Urgensi Kajian Sastra Banding
Kajian sastra banding memiliki manfaat besar dalam kawasan Nasional dan Global pada kawasan nasional mengarahkan penelaahan atas sastra asing dan membandingkannya dengan sastra Umum, menuju peringanan dari segi kefanatikan bahasa dan sastra umum/ pribumi tanpa mencari kebenaran. Dan dari segi fungsi-fungsi study sastra banding sebenarnya menjadikan pembelajaran tentang kebiasaan khusus atas perbedaan antara apa itu nasional yang melekat dan pendatang yang menyulusup dan dari segi pemikiran dan kebudayaan.
Metode Pembahasan Dalam Sastra Banding
Seorang pembahas dalam sastra banding membutuhkan kumpulan-kumpulan pembelajaran yang membantunya dalam mengkaji sastra banding.
1.Study sejarah, Dalam hal ini sangat penting seorang pembahas memiliki pengetahuan yang luas serta memahami segala macam kejadian dan perkembangan sejarah, serta mengetahui hubungan sosial antar bangsa yang begitu beragam. Ilmu sastra banding merupakan cabang ilmu sastra, dan sejarah adalah bagian terpenting dalam pembelajaran ini.
2.Setelah mengerti sejarah, pembahas juga Mengetahui perjalanan para tokoh dan study sample kemanusiaan sastra yang dikenal disetiap bangsa dan sastra itu sendiri. Contoh: Laila Majnun dalam sastra “Cinta”.
3.Mengetahui ragam bahasa sangatlah penting dalam study sastra banding. Namun pembahasan tidak dituntut untuk menggunakan seluruh bahasa dalam study sastra banding ini. Karena, ini adalah satu hal yang mustahil, cukup baginya memilih salah satu bahasa yang baik.
4.Terjemah, merupakan lingkup yang baik untuk mengetahui pengaruh-pengaruh sumber-sumber yang lain dan karya-karya sastra besar.
5.Kunjungan, merupakan satu kegiatan yang memiliki faedah besar dalam study sastra banding, karena hubungan antar bangsa membuka peluang untuk satu pemahaman dan tidak mengendalikan pembelajaran dari buku saja.
Intertekstualitas dan Sastra Bandingan
Masalah transformasi tidak hanya menyangkut perubahan dari karya sastra yang satu menjadi karya sastra yang lain, tetapi juga perubahan dari jenis karya nonsastra menjadi karya sastra. Beberapa cerpen Ahmad Thari, misalnya, seperti “Pencuri” (Panji Masyarakat, No. 458, 1982), “Nyanyian Malam” dan “Syukuran Sutabawor” ternyata menyerupai esainya “Priyayi Zaman Akhir” dan “Tetangga di Belakang Rumah” dalam rubrik Seloka dan Amanah NO. 59, 20 Oktober 1988 dan No. 85, 7 Oktober 1989.
Masalah lainnya yang cukup menarik terjadi pada kasus Ajip Rosidi. Puisi Naratif Ajip Rosidi yang berjudul “Jante Arkidam” semula ditulis dalam bahasa sunda tahun 1956 lalu ditulis kembali dalam bahasa Indonesia. Masalahnya ada beberapa larik versi sunda yang dihilangkan, dan apakah perbandingan Jante Arkidam versi itu (Sunda-Indonesia) termasuk sastra bandingan, mengingat bahasa itu berbeda bahasanya atau intertekstualis??. Di Indonesia atau di Negara-negara yang multietnik, keadaan seperti itu, bukanlah hal yang aneh.
Dan sejumlah kasus yang telah dipaparkan tadi, yang perlu mendapat perhatian, barangkali- bukanlah pada perbedaan bahasa, geografi, politik atau negara, tradisi dan kebudayaan, melainkan pada metodologinya. Jika yang diperbandingkan sebatas teksnya semata-mata tanpa menghubungkannya dengan faktor-faktor ekstrinsik maka sebut saja itu sebagai sastra bandingan dengan pendekatan intertekstualitas. Tetapi jika perbandingannya itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai hal yang menyangkut perbedaan sosiokultural yang melingkari diri pengarang masing-masing maka sebut saja itu sebagai studi sastra bandingan dengan pendekatan sosio-kultural. Justru dalam hal inilah, studi sastra bandingan, tidak hanya akan menjadi studi interdisipliner tetapi juga, pada gilirannya, menurut kritikus melebarluaskan wawasan dan pengkajiannya sekaligus.
Dalam kasus Oedipus dan Sangkuriang, misalnya, mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalnnya menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada Oedipu. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal Konsep “Anak Durhaka” dan “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu.” Mengapa konflik Magdalena Al-Manafaluthi lebih banyak di latarbelakangi oleh persoalan harta kekayaan dan harkat dan derajat keluarga, sedangkan konflik Tenggelamnya Kapal van der Wijck Hamka, dilatarbelakngi oleh masalah adapt (Minang). Masalah yang sama dapat kita kemukakan pada kasus Pariyem dan Nyanyian Lawino. Mengapa Lawino tampil sebagai sosok perempuan Kasar, pemberang dan kasar dibandingkan Pariyem yang sumarah, minder, manut. Mengapa pula dalam cerita-cerita fabel di Eropa, tokoh Srigala selalu tampil sebagai tokoh yang cerdik dan sering muncul sebagai “mesias”, dewa penolong, sedangkan dalam cerita fabel Nusantara seperti itu diwakili oleh tokoh Kancil, sebaliknya tokohnya srigala tampil sebagai tokoh jahat, rakus, dan serakah? Apakah ini juga erat kaitannya dengan latar belakang sosiokultural yang berlaku di masyarakat masing-masing?
Banyak contoh serupa masih dapat kita kemukakan. Yang jelas bahwa penjelasan sosiokultural dalam studi sastra bandingan agaknya, perlu mendapat tekanan, betapapun itu memerlukan disiplin ilmu lain. Dengan cara ini, niscaya studi sastra bandingan akan memberi sumbangan berarti bagi usaha memahami kebudayaan suatu bangsa. Dengan cara itu pula, terbuktilah bahwa bahasa (sastra) merupakan juga cerminan identitas bangsa.
Sastra Banding dan Kedudukannya Di Antara Metode-metode Kajian Sastra
Sastra banding adalah salah satu metode study sastra. Dan karena metode-metode bagian sastra banyak dan berhubungan satu sama lain dan ini membantu menjelaskan kedudukan sastra banding di antara metode-metode yang menetapkan masing-masing kepentingannya :
1.Sudut Pandang Sastra adalah merupakan metode yang membahas mengenai sejarah munculnya dan perkembangan sastra dari masa ke masa.
2.Kritik Sastra adalah merupakan metode yang membahas karya-karya sastra, misalnya sebuah novel atau puisi, dengan mempergunakan teori-teori kritik sastra.
3.Sejarah Sastra adalah merupakan metode yang berusaha mengungkapkan latar belakang, dan perkembangan berbagai aspek sastra, misalnya karya sastra, bentuk sastra, aliran sastra, ataupun teori sastra.
Ketiga metode ini tidak selalu berdiri sendiri karena kadang-kadang ada kaitan satu sama lainnya dan perbedaan diantara metode-metode ini berdasarkan sudut pandang yang kita lihat dari sastra itu sendiri.

Oedipus complex


Kompleks Oedipus (Oedipus complex) dalam aliran psikoanalisis Sigmund Freud merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak saat anak dari kedua jenis kelamin menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta secara eksklusif dari ibunya. Nama ini diambil dari mitos Yunani tentang Oedipus, yang tanpa diketahui membunuh ayahnya, Laius, dan menikahi ibunya, Jocasta.
Pada masa selanjutnya, Freud sedikit mengubah pandangannya dengan mengatakan bahwa untuk anak laki-laki sudah ada sejarah identifikasi dengan ayahnya, yang tidak menyertakan persaingan dengannya. Lebih jauh, untuk anak perempuan Freud beranggapan bahwa hubungan dengan ibunya sebagai sangat penting untuk memahami perkembangan psikoseksualnya, yang mempengaruhinya dalam memasuki kompleks oedipus.
Menurut A. Kasandra, psikolog, kecenderungan pria yang jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua darinya, terobsesi karakter ibunya. Kemungkinan sejak kecil si pria tersebut memiliki kedekatan secara emosional terhadap figur seorang ibu. Sehingga, secara tak langsung, alam bawah sadarnya merekam memori kasih sayang yang selama ini diberikan sang bunda.

Oedipus complex adalah istilah dalam dunia psikologi (atau psikaiatri). terminologi itu diambil dari mitologi yunani yang terkenal, yaitu trilogi "Oedipus","Oedipus Rex" dan "Antigone" karya Sopokles. di babak pertama, muncul konflik ramalan yang mengatakan bahwa sang bayi akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Oleh karena itu, sang bayi, yaitu si oedipus, harus dibunuh. ternyata dia tidak dibunuh tetapi dibuang ke hutan oleh pesuruh kerajaan. Di babak kedua, ramalan tersebut terwujud. Oedipus membunuh ayahnya sendiri pada sebuah pertemuan di tengah jalan. Oedipus tidak tahu bahwa orang itu adalah ayahnya. lantas Oedipus juga berhasil membebaskan kerajaan yang dikutuk dan hadiahnya adalah menikahi sang permaisuri, yang adalah ibunya sendiri. sekali lagi .. Oedipus tidak tahu kalau dia itu ibunya. Di dalam dunia psikologi ada yang namanya masa dimana oedipus complex ini 'tumbuh' menjadi suatu karakter pada diri seseorang. Dan itu menurut Freud terjadi pada Fase Phallus, kepuasan fase ini berkaitan dengan phallus (phallus = sesuatu yang menonjol),anak memiliki dorongan seksual terhadap orangtua yang berlainan jenis dan ingin menyingkirkan terhadap orang tua yang sejenis, hal ini terjadi dibawah sadar.
Dari Psikoanalisis Freud, juga mengatakan kecenderungan pria yang jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua darinya, terobsesi karakter ibunya. Kemungkinan sejak kecil si pria tersebut memiliki kedekatan secara emosional terhadap figur seorang ibu. Sehingga, secara tak langsung, alam bawah sadarnya merekam memori kasih sayang yang selama ini diberikan sang bunda. Dalam kasus Oedipus dan Sangkuriang, misalnya, mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalnnya menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada Oedipu. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal Konsep “Anak Durhaka” dan “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu.”


MEMBANDINGKAN NOVEL ROMEO DAN JULIET DENGAN CERITA PENDEK UDA DAN DARA: TEORI INTERTEKSTUALITAS



Tugas Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Nilai Mata Kuliah
Telaah Novel
Dosen : Nori Anggraeni M.Hum
http://pmb.unpam.ac.id/images/logo_unpam.jpg














Disusun Oleh :
Mala Nopita Sari
(2011070012)



FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2013
KATA PENGANTAR


Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.


                    


Pamulang, Mei 2013




KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.............................................................................. 1
B.  Kajian Teori .................................................................................. 2
1.  Hakikat Sastra Banding........................................................... 2
2.  Teori Intertekstualitas.............................................................. 3
3.  Afinitas Dalam Sastra Bandingan........................................... 3
C.  Metode ....................................................................................... .. 4

BAB II    PEMBAHASAN
A.  Sinopsis ......................................................................................... 5
1.   Sinopsis Cerpen Uda dan Dara.............................................. 5
2.   Sinopsis Roman Romeo dan Juliet....................................... .. 7
B.  Titik Kesamaan.............................................................................. 9
1.   Tema..................................................................................... .. 9
2.   Konflik Batin....................................................................... .. 10
3.   Karakter Tokoh....................................................................... 11
4.   Titik Beda............................................................................... 11

BAB III     PENUTUP
A.    Simpulan..................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 14






BAB I

Sastra bandingan adalah suatu kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih minimal dari dua negara yang berbeda. Membandingkan dua karya sastra yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Perlu memiliki ketelitian dan pemahaman yang mendalam mengenai sastra bandingan, karena karya sastra yang dibandingkan itu tidak hanya dilihat dari satu unsur saja, melainkan secara keseluruhan.
Berbicara masalah sastra tidak akan ada habisnya selama peradaban manusia tetap berlangsung. Karya sastra tidak pernah terlepas dari manusia itu sendiri sebagai pencipta. Penelitian ini akan memaparkan perbandingan antara novel Romeo dan Juliet dengan Uda dan Dara karya Usman Awang. Perbandingan atau membandingkan karya sastra dilakukan dengan disiplin ilmu, yakni sastra bandingan. Membandingkan dua karya sastra atau lebih menjadi objek kajian sastrra bandingan. Jadi, sastra bandingan adalah kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih minimal dari dua negara yang berbeda Kegiatan membandingkan itu tidak hanya dibandingkan dari satu unsur saja, tetapi secara keseluruhan. Penelitian ini difokuskan pada kajian unsur afinitas antara kedua karya sastra, Romeo dan Juliet dengan Uda dan Dara. Afinitas merupakan keterkaitan unsur dalam antarkarya sastra. Kegiatan pengkajian sastra banding ini menggunakan teori intertekstualitas. Teori intertekstual digunakan untuk melihat teks dari kedua karya sastra tersebut. Selain itu, dapat menggali secara maksimal makna-makna yang terkandung dalam suatu teks sastra.
Roman Romeo dan Juliet dengan cerpen Uda dan Dara akan dibandingkan dengan melihat unsur-unsur secara keseluruhan dan juga melihat hubungan afinitas satu sama lain. Kegiatan perbandingan karya sastra, yakni roman Romeo dan Juliet dengan cerpen Uda dan Dara, pada hakikatnya untuk melihat persamaan dan perbedaan antarkarya sastra yang pada akhirnya berupaya untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat pembaca mengenai karya sastra sebagai hasil pemikiran manusia. Kajian perbandingan ini menggunakan teori intertekstual.
Penelitian atau kajian yang dilakukan ini bertujuan untuk membandingkan dua karya sastra, roman Romeo dan Juliet dengan cerpen Uda dan Dara. Selain itu juga untuk mengetahui perbedaan dan persamaan dari perbandingan tersebut. Perbandingan yang dilakukan dalam penelitian ini difokuskan pada afinitas kedua karya sastra tersebut. Penelitian ini menggunakan teori intertekstual untuk lebih memudahkan dalam menggali makna dari kedua karya sastra tersebut, sehingga afinitas mudah didapatkan.

B.  KAJIAN TEORI
1.    Hakikat sastra bandingan
Menurut Endraswara (2011:1-2) hakikat sastra bandingan adalah membandingkan dua karya atau lebih. Menurut Damono (2005:1; 2009:1), sastra bandingan adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak dapat menghasilkan teori sendiri. Bisa dikatakan, teori apapun dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan, sesuai dengan objek dan tujuan penelitian. Jadi, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa sastra bandingan adalah kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih yang memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal unsur-unsur yang dikandungnya.

2.    Teori intertekstualitas
Secara luas, interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara saru teks dengan teks lain. Secara etimologis berasal dari bahasa Latin, textus berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan (Ratna, 2012:172). (Endraswara (2011:201) menyatakan, studi intertekstualitas mempelajari keseimbangan antara unsur intrinsik dan ekstrinsik teks yang disesuaikan dengan fungsi teks di masyarakat. Jadi, studi intertekstual merupakan studi yang mempelajari hubungan atau keterjalinan atara teks yang satu dengan teks lainnya untuk mengemukakan unsur-unsur dan makna yang terkandung di dalam.
Suatu teks baru muncul didasari pada teks-teks yang mendahuluinya. Teks-teks terdahulu dapat dikatakan sebagai hipogram (hypogram). Hipogram dapat berupa ide, gagasan, wawasan, dan lain sebagainya yang terdapat dalam teks-teks terdahulu. Hipogram inilah yang menjadi konsep penting dalam teori interteks, terutama dalam mengungkap afinitas dua buah karya sastra.

3.    Afinitas dalam sastra bandingan
Menurut Hutomo (1993:11-12) afinitas yaitu keterkaitan unsur-unsur intrinsik (unsur dalaman) karya sastra, misalnya unsur struktur, gaya, tema, mood (suasana yang terkandung dalam karya sastra) dan lain-lain, yang dijadikan bahan penulisan karya sastra. Endraswara (2011:144) menyatakan, kata afinitas itu berasal dari bahasa Latin ad (artinya, dekat) dan finis (artinya, batas). Dalam ilmu antropologi kata afinitas diberi makna hubungan kekerabatan yang terwujud karena adanya perkawinan. Makna kekerabatan, kesamaan unsur dan hubungan antar jenis, dalam ilmu sastra bandingan adalah keterkaitan unsur-unsur intrinsik (unsur dalaman) karya sastra, misalnya, unsur struktur, gaya, tema (ide), mood (suasana yang terkandung dalam karya sastra), dan lain-lain, yang dijadikan bahan penulisan karya sastra. Dapat disimpulkan bahwa, afinitas adalah keterkaitan unsur-unsur dalam atau struktur pada sebuah karya sastra yang dijadikan bahan penulisan karya sastra.

C.  METODE
Intertekstualitas merupakan studi yang mempelajari keseimbangan antara unsur intrinsik dan ekstrinsik teks yang disesuaikan dengan fungsi teks di masyarakat (Endaraswara, 2011:201). Penelitian intertekstualitas di pihak lain mengasumsikan bahwa sebuah karya ditulis berdasarkan karya yang lain, yaitu karya yang menjadi hipogramnya. Demikian pula dengan sastra bandingan, yang berasumsi bahwa ada “deretan” sastra yang memiliki kemiripan satu sama lain (Endraswara, 2011:202).[1]


















BAB II
PEMBAHASAN

1.    Sinopsis
a)   Sinopsis Cerpen Uda dan Dara
Hari itu Uda dan teman-temannya sedang berguru ilmu silat. Silat selalu menjadi kebanggaan para pemuda, termasuk Uda yang mahir dan pintar dalam bersilat. Karena itu, Uda selalu menjadi kebanggaan, baik bagi guru silat, Ibu, Dara, dan semua orang yang mengenal Uda. Ilmu silat yang dipelajari Uda dan teman-temannya bukanlah untuk main-main, tetapi untuk melindungi diri dari musuh atau lawan. “Ilmu silat dapat diterapkan bila musuh sudah mulai menyerang (Ilmu silat bukan untuk menyerang, tetapi hanya untuk bertahan)”, begitulah yang dikatakan Pak Guru Silat yang bijaksana.
Malam semakin larut, Uda dan teman-teman menyudahi latihan silat. Uda bergegas pergi meninggalkan tempat latiahan dan teman-temannya. Uda sudah punya janji dengan Dara, kekasih pujaan hatinya. Ketika akan melangkah pergi, Malim meminta Uda untuk mampir terlebih dahulu ke rujmahnya. Tapi Uda tidak bisa, karena janji itu penting dan harus ditepati. Akhirnya Uda pergi ketempat dimana ia dan Dara akan bertemu dan berbincang-bincang. uda sangat terburu-buru, ia tak ingin mengecewakan Dara karena sudah menunggu lama.

Di Tebat itu, Uda dan Dara membicarakan tentang kehidupan yang akan ditempuhnya kelak bersama. Uda ingin mempersunting Dara. Ia hanya ingin Dara yang menjadi pendampingnya sampai ajal memanggilnya. Dara sangat menginginkannya, dan ia menerima ajakan Uda untuk menikah.
Selang hari berganti. Uda meminta dan memohon restu kepada ibunya untuk bisa menikahi Dara. Namun, Ibunya selalu berpikir bahwa Uda tidak akan bisa bersanding dengan Dara. Ibunya sangat mengetahui betapa jauhnya keadaan Uda dan Dara. Uda bekerja hanya sebatas bertani membantu ibunya. Sedangkan Dara berasal dari keluarga kaya raya.
Karena desakan keinginan anaknya, Ibunda Uda akhirnya mengutuslah Mak Long dan Kak Saodah untuk menyampaikan maksud meminang Dara. Mak Long adalah orang yang paling disegani orang-orang kampung. Setibanya di rumah Dara, Mak Long dan Kak Saodah disambut oleh Ibunda Dara. Tak menunggu waktu lama, Mak Long langsung menyampaikan maksud dan tujuan ia datang kerumah Dara, yaitu untuk meminta izin agar Dara bisa dipersunting Uda. Ibunda Dara menjawab dengan halus dan disertai dengan sindiran halus tetapi menyakitkan. Intinya, Ibu dara tidak menyetujui jika anaknya disandingkan dengan orang yang tidak sederajat. Diibaratkan pungguk dengan pipit, yang jauh berbeda. Mak Long dan Kak Saodah pulang dengan tangan hampa, kabar yang buruk.
Kabar buruk itu terus membuat Uda merenung, hingga memutuskan untuk pergi ke kota mencari ringgit dan emas supaya ia bisa menikahi Dara, kekasihnya.  Ibu Uda tidak mengizinkan Uda pergi. Ibu Uda khawatir bila di kota tidak bisa hidup senyaman di kampung. Namun, Uda bersikeras untuk tetap pergi demi mendapatkan Ringgit dan emas dan bisa menikahi Dara.
Benar yang dikatakan dan dirasakan Ibu Uda, Uda hidup dalam kesengsaraan. Ia terus membanting tulang padahal tubuhnya sedang sakit. Tekad bulat tak mengurungkan niat ia untuk bekerja agar bisa membawa pulang ringgit dan emas. Tak kuat ia menahan rasa sakit yang dideritanya. Uda memutuskan kembali ke kampung. Badan kurus kerontang membuat  Ibu Uda sedih bukan main. Pergi dengan badan kekar, pulang tinggal tulang. Sebelum Uda menutup mata, ia berpesan pada Ibunya agar membawa Dara ke hadapannya. Ibu Uda langsung meminta Dara untuk datang kerumahnya. Dara tiba dirumah Uda. Namun, takdir berkata lain, Uda sudah menutup mata sesaat sebelum Dara tiba. Tangis pun pecah dan penyesalan membludak di hati Dara.
Musim kemarau sudah berlalu, seiring dengan kepergian Uda. Hari-hari menjelang pernikahan Dara dengan pria yang dijodohkan Ibunya merupakan hari-hari yang paling menguras pikiran Dara. Dara masih saja memikirkan Uda yang sudah lama menutup mata. Keadaan Dara dari hari ke hari semakin memburuk, kesehatannya sudah tidak bisa disembuhkan. Satu minggu jelang pernikahan, Dara menghembuskan nafas terakhir. Ia pun dimakamkan berdampingan dengan makam Uda, lelaki yang dicintainya.
Penyesalan begitu terlihat pada Ibu Dara yang selama ini tidak pernah mengikuti dan mendengarkan keinginan puteri tercinta satu-satunya. Penyesalan selalu datang diakhir. Ibunda Dara begitu terpukul dan terus merenungkan nasib anaknya di sana.[2]

b)   Sinopsis Roman Romeo Juliet
Di Verona hidup dua keluarga bangsawan yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulet dan Montague. Awalnya kedua keluarga itu bersahabat karib, namun karena sesuatu hal yang menyinggung harga diri persahabatan itu retak dan menjadi sebuah permusuhan. Permusuhan itu berlangsung terus menerus dan turun-temurun. Di tengah pertikaian itu lahirlah Romeo yang merupakan putra dari Tuan Mountague, ia pun tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Kekecewaan yang Romeo rasakan karena cintanya ditolah oleh seorang gadis, membuat ia mecari gadis yang dapat mencintainya. Suatu ketika ia menyelinap ke upacara perjamuan yang diadakan di kediaman Capulet. Di situlah ia melihat seorang gadis yang cantik jelita telah mencuri hatinya, gadis itu adalah Juliet. Keduanya pun saling jatuh cinta. Namun persoalan dialami oleh kedua pasangan yang baru saja memetik kebahagiaan itu, kenyataan mereka adalah anak dari keluarga yang saling bermusuhan membuat hati mereka gelisah.
Cinta yang begitu besar antara mereka membuat mereka tetap menjalani hubungan meski secara sembunyi. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengabadikan cinta suci ke dalam sebuah pernikahan yang dibantu oleh Pastur Laurence. Meksi kebahagaian mereka rengkuh, namun kegelisahan selalu mereka rasakan karena persoalan perselisihan antara keluarga mereka.  Mereka berniat untuk mengakhiri permusuhan antar keluarga agar mereka dapat bersatu dan bahagia.
Setelah perayaan di Verona selesai, terjadi pertemuan antara kedua keluarga yaitu Tuan Capulet dan Tuan Montague. Pertemuan tersebut menimbulkan perkelahian yang sangat sengit. Mercutio yang bermaksud untuk menghentikan perkelahian tersebut terbunuh oleh pedang Tybalt. Perkelahian itu terdengar oleh Romeo, Romeo pun datang berniat untuk mengakhiri perkelahian. Namun setelah melihat Mercutio yang merupakan orang yang paling bijaksana di Verona itu terbunuh, kemarahan Romeo pun terpancing dan perkelahian dengan Tybalt terjadi, Tybalt pun terbunuh oleh Romeo. Perkelahian itu membuat Raja Escalus marah dan Romeo dijatuhi hukuman dengan pergi dari Verona untuk diasingkan.
Terbunuhnya Tybalt dan kepergian Romeo membuat Juliet didera kesedihan yang amat dalam. Keterpurukan Juliet membuat Ibu Capulet mengira bahwa kesedihan Juliet dikarenakan oleh kematian Tybalt. Juliet menjelaskan bahwa kesedihan untuk Tybalt sudah berakhir. Ibu Capulet dan Tuan Capulet memutuskan untuk menjodohkan Juliet dengan Paris. Juliet menolak perjodohan itu, namun Tuan Capulet murka dan marah kepada Juliet. Juliet berputus asa, ia segera menemui Pastur Laurence untuk pengakuan dosa. Melihat kesedihan yang dirasakan oleh Juliat, Pastur Laurence tidak tega dan menyusun rencana untuk Juliet dan Romeo agar mereka dapat bersatu dan bahagia. Pastur Laurence memberikan suatu ramuan kepada Juliet, ramuan tersebut akan membuat orang yang meminumnya akan terlihat seperti orang yang telah mati. Selang beberapa waktu efek ramuan akan hilang, dan Romeo dapat menjemput Juliet untuk hidup dipengasingan tanpa ada orang yang tahu. Rencana tersebut menumbuhkan sedikit harapan untuk Juliet.
Rencana pun segera dijalankan oleh Juliet, menjelang hari pernikahannya dengan Paris ia mulai meminum ramuan yang telah diberikan oleh Pastur Laurence. Ketika hari pernikahan datang, pengasuh menemukan Juliet dalam keadaan kaku tidak bernafas lagi. Kematian Juliet bukan hanya membuat Tuan dan Ibu Capulet berduka, namun seluruh rakyat Verona juga mengalami kedukaan yang mendalam. Juliet pun dimakamkan di pusaran keluarganya.
Pastur Laurence segera mengirimkan utusan untuk mengirim surat kepada Romeo yang berisi rencana yang telah disusunnya. Namun ditengah jalan utusan tersebut mengalami kecelakan dan akhirnya surat itu tidak sampai ke tangan Romeo. Kematian Juliet segera didengar oleh Romeo, ia mmutuskan untuk segera menengok Juliet dan di tengah jalan ia membeli racun hendak menyusul Juliet dalam kematian. Setelah sampai di pusaran Juliet ia bertemu dengan Conty Paris yang hendak menabur bunga untuk Juliet. Akhirnya perkelahian terjadi dan Conty Paris pun terbunuh oleh belati Romeo. Romeo segera mendekati Juliet dan kesedihan yang teramat dalam Romeo segera meminum racun yang telah ia bawa. Romeo mati di sebelah Juliet. Pastur Laurence yang khawatir dengan keadaan mereka segera datang, namun kedatangannya sudah terlambat. Sesaat Juliet terbangun dari mati pura-puranya, namun setelah melihat Romeo mati ia segera menusuk dadanya dengan belati Romeo yang masih berlumur darah Paris. Akhirnya berita itu terdengar oleh Tuan Capulet dan Mountague serta Raja Escalus. Pastur Laurence pun memberikan kesaksian dan menceritakan semuanya tentang hubungan Juliet dan Romeo selama ini. Kematian Juliet dan Romeo telah menyadarkan hati Tuan Capulet dan Tuan Mountague. Hati kedua keluarga pun tersadar dan segera berdamai. Mereka berjanji akan mengabadikan pengorbanan Juliet dan Romeo dengan membuat sebuah patung sebagai lambang cinta dan perdamaian.[3]

2.     Titik Kesamaan
Terlepas dari asumsi apakah Usman Awang dalam cerpen Uda dan Dara yang ditulis pada tahun 1954 mendapat pengaruh dari roman Romeo Juliet karya Wiliam Shakespeare yang tulis pada tahun 1595. Karya ini memiliki banyak kemiripan.

1)   Tema: Kisah Kasih Cinta Tak Sampai.
Dalam sebuah kisah cinta terdapat kebagiaan juga kepahitan yang akan dirasakan bagi setiap pelakunya. Setiap orang pastinya memilih selalu merasakan kebahagiaan, namun apa daya jika terkadang cinta itu berakhir dengan menyedihkan. Seperti kisah Romeo Juliet yang telah melegenda karna keabadian cinta mereka. Dalam novel ini dikisahkan kedua insan yang saling mencintai. Kesuciaan dan kesetian cinta antara Romeo dengan Juliet tidak dapat diragukan lagi. Tetapi kisah cinta yang mereka rajut tidak berakhir dengan kebahagiaan. Karena keduanya terjebak dalam sebuah kematian yang memisahkan dan membuat mereka tidak bisa bersatu selamanya. Kisah cinta serupa juga dialami dalam cerpen Uda dan Dara. Jalinan cinta antara Uda dan Dara yang awalnya terasa bahagia namun berakhir juga dengan sebuah perpisahan, yaitu kematian.
Kisah kasih antara Romeo Juliet dengan Uda Dara memiliki kesamaan yaitu kisah cinta yang sama-sama berakhir dalam sebuah kepahitan. Kematian tragis telah mengabadikan cinta suci diantara mereka. Kedua kisah ini menceritakan cinta yang tak bisa sampai pada ujung kebahagiaan yang abadi dalam sebuah kehidupan.

2)   Konflik Batin
Konflik yang dialami dalam kisah Romeo Juliet dengan Uda Dara yaitu sama-sama tidak bisa menyatukan cinta mereka lantaran masalah yang disebabkan oleh masing-masing keluarga. Romeo dan Juliet menjalin hubungan tersembunya karena permusuhan antara keluarga Romeo dan Keluarga Juliet yang saling bermusuhan. Permusuhan itu membuat Romeo dan Juliet melakukan pernikahan secara diam-diam. Kebagiaan tidak bisa mereka rasakan secara penuh. Orang Tua yang memutuskan untuk menjodohkan Juliet dengan pemuda kaya, membuat Juliet tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya Juliet melakukan rencana tersembunyi yang berujung kematian Romeo dan Juliet pun menyusulnya dengan melakukan bunuh diri.
Hal serupa juga dirasakan oleh Uda dan Dara. Cinta yang selama ini mereka rajut terhalang oleh keluarga yang tidak merestui mereka. Kondisi ekonomi keluarga Uda yang miskin membuat keluarga Dara menolak lamaran dari Uda. Uda pun memutuskan untuk pergi merantau agar bisa mencari harta sebanyak mungkin agar bisa diterima oleh keluarga Dara. Namun karena kondisi tubuh yang tidak kuat karena bekerja terlalu keras akhirnya Uda jatuh sakit dan berujung kematian. Lalu keluarga Dara memutuskan untuk menjodohkan Dara dengan pemuda kaya, tapi karena kesedihan yang mendalam yang dialami Dara membuat ia juga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

3)   Karakter Tokoh
Novel Romeo Juliet dengan cerpen Uda dan Dara menggambarkan karakter tokoh yang pantang menyerah. Dalam kisah Romeo dan Juliet, meksi mereka sulit untuk menyatukan cinta mereka secara terbuka, namun mereka tetap teguh dan mempunyai niat baik dengan mencari jalan untuk menyatukan keluarga mereka. Meski hal itu dirasa tidak mungkin, mereka tidak akan menyerah. Pengasingan Romeo di luar Verona tidak membuat Romeo berputus asa, ia tetap mencari usaha untuk tetap bersama Juliet dan niat mendamaikan kedua keluarga. Begitu juga dengan kisah Uda dan Dara, cinta yang terhalang oleh status sosial, tidak membuat Uda menyerah. Uda berusaha untuk tetap mempersatukan cintanya dengan Dara, Uda pergi ke kota untuk mencari Ringgit dan emas demi bisa mempersunting Dara dan menyaingi pria yang dijodohkan Ibunda Dara.
Selain karakter tokoh utama yang memiliki kemiripan, terdapat pula tokoh pembantu, seperti Mak Long dan Pastor Lorenzo. Keduanya berperan sebagai tokoh yang selalu menjadi penengah di antara permasalahan yang muncul. Mak Long adalah orang yang dituakan di kampung, sehingga semua orang tahu dan selalu mendengar apapun yang diucapkan Mak Long. Sedangkan Pastor Lorenzo adalah orang yang disucikan atau orang paling dipercaya oleh Romeo dan Juliet untuk membantu menyusun rencana agar kedua keluarga, Romeo dan Juliet bisa berdamai. 

4)   Titik beda
Selain persamaan yang terdapat dalam cerita Romeo dan Juliet dengan Uda dan Dara, terdapat pula perbedaan antara keduanya. Perbedaan tersebut sebagai berikut.
Ø Romeo dan Juliet berlatarkan budaya Barat, Verona, Italia. Sedangkan Uda dan Dara berlatarkan budaya Asia, Malaysia. Latar belakang budaya yang berbeda tentu saja mempengaruhi penceritaan antara keduanya.
Ø Kematian Romeo dan Juliet disebabkan oleh faktor bunuh diri. Sedangkan Uda dan Dara meninggal karena sakit.[4]



























BAB III
PENUTUP

1.    Simpulan
Membandingkan kedua novel  dapat ini mengungkapkan afinitas antara dua karya sastra, yakni novel Romeo dan Juliet dengan cerpen Uda dan Dara. Afinitas diungkapkan dengan cara membandingkan kedua karya sastra tersebut dengan teori intertekstual. Dari afinitas itu, dapat diketahui bahwa terdapat persamaan dan perbedaan diantara diantaranya persamaan tema,  karakter tokoh, dan juga konflik batin. Perbedaannya terletak pada latar belakang budaya yang mempengaruhi terciptanya kaya sastra. Selain itu, faktor yang menyebabkan tokoh utama meninggal juga berbeda. 












DAFTAR PUSTAKA

Awang, Usman. 1969. Uda dan Dara. Malaysia: Fajar Bakti Sdn. Bhd.

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan.  Jakarta: Buku Pop.

Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Hutomo, Suripan Sadi. 1993. Merambah Matahari: Sastra dalam Perbandingan. Surabaya: Gaya Masa.

Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Satra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Shakespeare, William. 2007. Romeo Juliet. Diterjemahkan oleh Manda Nilawati A. Yogyakarta: Navila.







[1] Sapardi Djoko Damono, “Pegangan Penelitian Sastra Banding”, (Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2005), hlm. 25.
[2] Usman Awang, “Uda dan Dara”, (Malayisa: Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1969).
[3] William Shakespeare, “Romeo Juliet”, Diterjemahkan oleh Manda Nilawati A., (Yogyakarta: Navila, 2007).
[4] Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Satra. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 50.