Digital clock

Rabu, 27 Maret 2013

Analisis Fabel Kisah Semut dan Kepompong


FABEL “KISAH SEMUT DAN KEPOMPONG”

Tugas Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Nilai Mata Kuliah
Kajian Cerita Anak
Dosen : Novi Diah Haryati S.S, M.Hum
http://pmb.unpam.ac.id/images/logo_unpam.jpg







Disusun Oleh
Mala Nopita Sari
(2011070012)



FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2013
KATA PENGANTAR



                     






KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.............................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C.  Sinopsis....................................................................................... .. 2

BAB II    PEMBAHASAN
A.    Unsur-unsur Intrinsik.................................................................. 3
1.   Tema..................................................................................... .. 3
2.   Alur...................................................................................... .. 4
3.   Latar........................................................................................ 5
4.   Tokoh...................................................................................... 8
5.   Sudut Pandang....................................................................... 11
6.   Gaya Bahasa........................................................................... 12
7.   Amanat................................................................................... 12

BAB III     PENUTUP
A.    Simpulan..................................................................................... 13


DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 14








BAB I

Cerpen atau keanjangannya cerita pendek adalah sebuah karangan yang menceritakan tentang suatu alur cerita yang memiliki tokoh cerita dan situasi cerita terbatas. Sebuah cerpen biasanya akan langsung mengarah ke topik utama cerita karena memang alur ceritanya hanya sekali dan langsung tamat. Cerpen bisa dikatakan sebagai cerita yang sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Sebuah cerpen merupakan prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan teknik cerpenis dalam mengolah unsur-unsur intrinsiknya cerpen dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yakni.
Ø Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya.
Ø Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal. Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.
Cerpen payung ini masuk ke dalam cerpen sempurna, dikarenakan cerpen payung ini mudah dimengerti dan juga merupakan fakta dalam kehidupan sehari-hari. Cerpen payung ini merupakan kumpulan-kumpulan cerpen yang terdapat dalam koran kompas. Cerpen payung ini juga merupakan cerpen terbaik pada tahun 2010.
B.  Rumusan Masalah
1)   Bagaimana sinopsis dalam cerpen Payung ?
2)   Bagaimana unsur-unsur intrinsik dalam cerpen Payung ?

C.  Sinopsis
Dalam cerpen Payung ini yang merupakan cerpen kumpulan dari koran kompas menceritakan tentang kehidupan seorang gadis cilik yang bernama Dian yang bekerja sebagai pengojek payung. Dian anak yang bekerja keras dan juga sayang terhadap adiknya, setiap ia bekerja ia selalu ingin membawakan makanan hasil ngojeknya kepada adiknya, seperti membawakan biskuit dan juga susu strawberi. Dian juga merupakan anak yang periang. Dian selalu membayangkan bagaimana dia mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak dalam mengojek payung. Rencana dalam bayangannya Dian akan memperluas ojek payungnya dengan cara menyewakan payung-payung miliknya kepada teman-temannya dan teman-temannya menyetorkan uang setoran kepada Dian.
Dian juga selalu memikirkan hal-hal yang lucu, seperti Dian ingin jika dia sudah membentuk pangkalan ojek payung miliknya para anak buahnya Satrio, Upit, Karyono, Agus, Cakri harus bersumpah di atas Al-Qur’an seperti pelantikan para pejabat dan sebaliknya. Ia juga meminjam peci hitam bapaknya supaya sumpah itu terasa resmi.
Dian memang baru dua kali bekerja mengojek payung, pada hari pertama dia mengojek payung uang yang dihasilkan Dian lumayan yaitu sebesar tiga belas ribu rupiah. Tetapi pada hari kedua Dian tidak mendapatkan keuntungan sama sekali melainkan Dian harus mendapatkan nasib buruk setelah bertemu dengan Markun. Markun adalah salah satu pengojek payung yang juga bekerja di halte busway. Markun itu orang yang sangat menyebalkan bagi Dian, Markun selalu mengambil pelanggan-pelanggan setia Dian dan juga Markun sering merampas payung Dian dengan seenaknya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Unsur-unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik pada sebuah cerpen adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta dalam membuat cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah cerpen dan novel berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel.
Unsur yang dimaksud untuk menyebutkan sebagian saja, misalnya cerita, peristiwa, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.[1] Berikut unsur-unsur intrinsik dalam

1.    Tema
Tema dalam sebuah karya sastra, fiksi hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangunan cerita yang lain, yang secara bersama membentuk sebuah kemenyeluruhan. Tema juga menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu dari awal sampai akhir.
Tema dalam cerpen “Payung” ini adalah impian gadis kecil si pengojek payung (Dian selalu membayangkan bahwa dia selalu ingin mendapatkan uang banyak untuk menghidupi keluarganya dan Dian selalu ingin memperluas ojek payungnya dengan membeli banyak payung untuk nantinya digunakan temanya dan hasil uangnya disetorkan kepadanya).
2.    Alur
Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahap-tahap peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.[2] Plot juga bisa diartikan sebagai cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyababkan terjadinya peristiwa yang lain. Di dalam sebuah cerita terdapat peristiwa-peristiwa penting dan juga peristiwa tidak penting namun diantara keduanya saling melengkapi untuk menjadikan kisah itu menarik. Berikut adalah diagram struktur plot :
a)   Tahap Awal
Tahapan awal merupakan tahap perkenalan atau berisi sejumlah informasi penting seperti penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama tempat, suasana alam waktu kejadiannya dan juga deskripsi fisik perwatakan. Dalam tahapan ini tokoh Dian adalah seorang pengojek payung yang memang baru hari kedua dia mengalami menjadi ojek payung. Hari pertama Dian mengojek payung ia menghasilkan uang sebanyak tiga belas ribu rupiah dalam waktu dua jam, tetapi pada hari kedua nasibnya tidak semujur pada hari pertama Dian mengojek payung dikarenakan Dian harus bersaing dengan Markun yang memang Markun ini selalu merebut pelanggan setia ojek payung Dian.

b)   Tahap Tangah
Tahap tengah adalah tahap dimana menampilkan pertentangan atau konflik, peristiwa-peristiwa penting mulai dikisahkan dan konflik berkembang semakin runcing. Tahap tengah ini konflik terjadi disaat Markun bukan sekedar merebut pelanggan Dian tetapi Markun pun merampas payung milik Dian dengan paksa sampai-sampai Dian didorong dan payung terlepas dari tangan Dian, punggung Dian terhempas ke tembok dan dia merasakan kesakitan. Markun memang berjanji mengembalikan payung itu malam hari tetapi Dian tidak yakin bahwa Markun akan mengembalikan payung itu secara utuh.

c)    Tahap Akhir
Berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran tentang bagaimanakah akhir sebuah cerita. Tahap akhir ini menggambarkan kesedihan Dian yang payungnya sudah dirampas oleh Markun. Dian tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis di bawah derasana air hujan dan menahan rasa perih pada kakinya akibat sendal jepitnya putus akibat ulah Markun. Dian kembali sedih disaat dia mengingat kembali bayangan-bayangan mengenai perluasan usaha ojek payugnya dan juga menginggat kembali tentang Dion yang ingin ia belikan biskuit dan susu rasa strawberi, semua bayanganya itu buyar akibat perbuatan Markun.

3.   

 
Latar
Latar atau setting  yang disebut juga sebagai landas tumpu menyarankan pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar adalah waktu dan tempat terjadinya lakuan di dalam karya sastra.[3] Setting merupakan sesuatu yang membantu kejelasan jalan cerita. Setting ini meliputi waktu, tempat, sosial dan budaya. Latar juga memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca. Menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah ada dan terjadi.
Unsur Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu dan suasana. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
a)   Latar Tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, dan mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
·      Jakarta
“Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu”.
·      Rumah
“Dian berjalan mengendap-gendap melangkahi tubuh Mak dan Dion yang   sedang tidur pulas, melintang di atas kasur di tengah rumah”.
“Jika Tuhan mau berada di sini, apalagi di rumah megah yang di lihatnya di televisi semalam”.
“Seperti bapak, ia juga ingin membawa pulang sejumlah uang ke rumah”.
“Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan”.
·      Pasar
“Ia sudah menyurvei harga payung di beberapa toko di pasar”.
·      Warung
“Dian ingin membeli jas hujan kecil yang dijual di warung”.
·      Rumah Sakit
“Payung-payung Dian akan beredar di beberapa Halte, Rumah Sakit, dan Ruko-ruko melalui kelima temannya itu”.
·      Gedung-gedung tinggi
“Sekarang adalah waktunya para karyawan yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu pulang kerja”.
·      Halte Bus dan Pangkalan Taksi
“Mereka yang tidak mendapat tumpangan kendalaan akan membutuhkan payungnya untuk menuju halte bus atau pangkalan taksi”.



b)   Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
·      Sore
“Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu”.
·      Seminggu
“Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan”.
“Pengalaman pertamanya sebagai pengojek payung seminggu yang lalu menghasilkan tiga belas ribu rupiah”.
·      Malam
“Pinjam. Jangan pelit. Nanti malam gua balikin.”


c)    Latar Suasana
Latar suasana menceritakan bagaimana kondisi tokoh atau sekita kejadian yang terdapat di dalam sebuah cerita.
·      Senang
“Wajahnya kembali gembira karena membayangkan lembaran-lembaran rupiah di kantong celananya.”
“Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu”.
“Dian tidak dapat menahan senyum saat membayangkan teman-temannya menyetor hasil ojek payung.”
·      Takut
“Terdengar gemuruh guntur berkepanjangan di kejauhan”.
“Kilat menyambar-nyambar. Guntur menggelegar di langit yang makin menghitam. Seorang gadis di tepi jalan menjerit sambil menutup telinganya. Terkejut oleh suara guntur, sekaligus karena Dian yang berlari seperti kesetanan dan hampir menabraknya.”
“Markun meelotot galak pada Dian. Sengaja dadanya dibusungkan, menggertak. Dian memeluk payung besarnya erat-erat. Bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan.
·      Sedih
“Matanya mendadak panas oleh desakan air mata yang siap-siap tercurah.”
“Tetesan air hujan pertama jatuh di kening Dian, diikuti tetesan lain yang semakin banyak. Air tumpah ruah dari langit menyamarkan air mata yang juga mengucur deras. Pandangan Dian menjadi kabur. Semangatnya mendadak runtuh.”
·      Marah
“Bangsaaat....at!” lidahnya yang kelu tiba-tiba lantang memaki.”

4.    Tokoh
Tokoh adalah orang yang memainkan peran dalam karya sastra dan penokohan adalah proses penampilan tokoh dengan pemberi watak, sifat atau kebiasaan tokoh suatu cerita.[4] Penokohan juga dapat diartikan sebagai gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Peranan dan fungsi tokoh menurut teori umum tentang novel, cerpen, dan drama sangat penting untuk memahami seluk beluk novel, cerpen dan drama tersebut.[5]
Penokohan mancakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakannya, bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Tokoh utama yang terdapat dalam cerpen “Payung” adalah:
·      Dian
Dalam cerpen “Payung” ini tokoh Dian digambarkan sebagai gadis perempuan kecil yang bekerja sebagai ojek payung. Dalam kehidupannya Dian selalu membayangkan pundi-pundi uang yang di dapat selama dia ojek payung. Dian memang sosok gadis kecil yang bekerja keras demi keluarganya. Dian juga sosok yang selalu membayangkan hal-hal yang lucu seperti, Dian ingin jika dia sudah membentuk pangkalan ojek payung miliknya para anak buahnya seperti Satrio, Upit, Karyono, Agus, Cakri harus bersumpah di atas Al-Qur’an seperti pelantikan para pejabat dan sebaliknya. Ia juga meminjam peci hitam bapaknya supaya sumpah itu terasa resmi.

·      Markun
Dalam cerpen “Payung” ini tokoh Markun digambarkan sebagai tokoh antagonis yang selalu mengganggu Dian setiap kali mereka bekerja ojek payung. Markun selalu mengeluarkan kata-kata kotor kepada Dian. Markun juga selalu merampas payung Dian dan mengambil keuntungan sendiri tanpa mempedulikan Dian yang dari pagi belum mengojek payung. Bukan hanya merampas payung Dian, Markun pun juga sering merebut pelanggan Dian dengan seenaknya.

·      Bapak
Bapak Dian adalah seorang kepala keluarga dan bekerja sebagai pemulung sampah di kompleks perumahan. “Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan tempat Bapak biasa memulung sampah.”

·      Mak
Mak adalah ibu dari Dian dan Dion. Dalam cerpen “Payung” ini tokoh Mak tidak banyak di gambarkan. Mak hanyalah seorang Ibu rumah tangga yang selalu menjaga adiknya Dion di rumah. “Kebetulan ada Mak yang menjaga Diyon di rumah.”

·      Dion
Dion adalah adik dari Dian. Dion pun tidak terlalu banyak di gambarkan dalam cerpen “Payung” ini. Menurut Dian, Dion sangat menyukai biskuit seperti yang terdapat pada iklan diputar-dijilat-dicelupin. Dion juga sangat menyukai susu rasa strawberi.


Tokoh tambahan:
·      Bang Joni
Seorang penjual buah dingin yang memiliki sifat galak dan suka marah-marah. Bang Joni juga memaksa Dian untuk menjual payung padanya “Jual aja payung kau itu. Buat ganti payung gerobakku ini.” Payung itu terlalu besar buat kau. Lebih besar payung itu daripada badan kau yang macam ikan asin itu.”

·      Bang Ayub
Seorang penjahit. Bang Ayub adalah tetangga rumah Dian, bang Ayub membantu Dian dalam menjahit payungnya yang sudah sobek dan ongkos jahitnya itu gratis.

·      Pak Ustad
Pak ustad adalah guru ngaji Dian. Dian sempat bertanya kepada pak ustad. ”Di mana Allah itu, Bapak Ustad?” Pak Ustad mengelus kepala Dian, menatap lekat bola matanya, sambil menjawab, ”Allah atau Tuhan ada di mana-mana, Nak. Di mana-mana…,” Saat itu Dian manggut-manggut. Tapi, sejujurnya, dia tetap tak mengerti.

·      Joko, Bono dan Ipung
Mereka adalah teman-teman Dian sesama pengojek payung. Mereka bertiga selalu bekerja dengan giat disaat hujan turun. Jono, Bono dan Ipung tidak seperti Markun yang merebut pelanggan Dian seenaknya.



·      Satrio, Upit, Karyono, Agus, Cakri
Mereka berlima adalah teman Dian yang lain. Tetapi mereka hanyalah teman yang berada dalam gambaran dan imajinasi Dian, dimana dalam bayangan Dian mereka semua menjadi anak buah Dian dalam mengojek payung. Tetapi Cakri digambarkan sebagai seorang yang genit. “Cakri yang genit itu ingin segera membeli gel rambut seperti punya Bono dan tidak melaporkan uang hasil ojek payung dengan jujur.”

5.    Sudut Pandang
Sudut Pandang adalah penempatan isi penceritaan dalam kisah. Sudut pandang merupakan cara dan pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi terhadap pembaca. Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan. Sebelum pengarang menulis cerita, mau tak mau harus telah memutuskan memilih sudut pandang tertentu.
Sudut pandang pada Sudut pandang pada cerpen “Payung” adalah sudut pandang orang ketiga (serba tahu) seperti : mereka, dia, atau menggunakan nama tokohnya.

6.    Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah gaya penulisan (dialek), pribahasa dan unsur-unsur lain yang terkandung dalam cerita. Gaya bahasa juga merupakan suatu cara untuk menuansakan dan menyelaraskan bahasa agar terjalin keindahan dan pertautan antara paragraf satu dengan yang lainnya.
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Payung” ini adalah gaya bahasa yang mudah dimengerti tetapi memang ada catatan tersendiri dalam cerpen ini karena banyak menggunakan kata-kata yang tidak pantas diomongkan oleh anak-anak kecil, mungkin karena mereka mengalami hidup keras di Jakarta yang diharuskan anak sekecil itu harus bekerja dan bersaing dalam mencari nafkah, mungkin itu salah satu faktornya.

7.    Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Amanat dalam cerpen Payung ini adalah jika kita memiliki impian dan juga usaha yang rajin kita akan meraih semua impian itu. Kita juga tidak boleh menjadi seorang yang pemalas seperti tokoh Dian, dia selalu bekerja keras walaupun hanya seorang pengojek payung yang tidak mendapatkan uang banyak, tetapi Dian selalu tersenyum dan juga riang. Tetapi kita tidak boleh menirukan sosok Markun yang maunya hanya menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.










BAB III
PENUTUP

1.    Simpulan
Cerpen merupakan karya sastra yang memiliki jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata dan cerpen bisa dibaca hanya dalam waktu satu sampai dua jam. Cerpen payung ini merupakan kumpulan-kumpulan cerpen dalam buku Mata Hati yang terbit dalam harian kompas pada tahun 2010. Cerpen ini juga sempat mendapatkan nominasi cerpen terbaik pada tahun 2010 karena Cerpen payung ini merupakan cerpen inspirasi yang sangat mendidik bagi anak-anak bukan hanya terinspirasi tetapi juga dapat memotivasi anak-anak Indonesia agar dapat hidup dengan secukupnya tidak boleh berlebihan dan juga mementingkan diri sendiri, harus lihat dan menenggok ke belakang bahwa masih ada orang yang lebih membutuhkan bantuan kita.









DAFTAR PUSTAKA

Juhara, Erwan dkk. 2007. Cendikia Berbahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Jakarta : PT. Setia Purna.
Nugriantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Toda, Dami. N. 2007. Apakah Sastra ? Magelang : Indonesia Tera.
Zaidan, Abdul Rozak, dkk. 2007. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.








[1] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 23
[2] Erwan Juhara, dkk, Cendikia Berbahasa, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Jakarta : PT. Setia Purna, 2007), h.165
[3] Abdul Rozak Zaidan, dkk. Kamus Istilah Sastra, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 118.
[4] Abdul Rozak Zaidan, dkk. Kamus Istilah Sastra, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 206.
[5] Dami.N.Toda, Apakah Sastra? (Magelang: Indonesia Tera, 2005), h. 122.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar