Digital clock

Kamis, 25 April 2013

Bunyi Konsonan


TUGAS MERANGKUM FONOLOGI
BAB 10 “BUNYI KONSONAN”

Mala Nopita Sari
2011070012
Noerma Ningsih
2011070011

Konsonan adalah bunyi bahasa yang diproduksi dengan cara, setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu mendapat hambatan pada alat-alat ucap tertentu di dalam rongga mulut dan rongga hidung. Bunyi konsonan dapat diklasifikasikan berdasarkan :
Ø Tempat Artikulasi
yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut juga titik artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial. Contoh lain bunyi [d] artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeks) dan artikulator pasifnya adalah gigi atas (dentum), sehingga tempat artikulasinya disebut apikodental.
Ø Cara Artikulasi
 yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru ke luar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu. Misalnya, bunyi [p] dihasilkan dnegan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka bunyi [p] itu disebut bunyi hambatan dan bunyi letupan. Contoh lain bunyi [h] dihasilkan dengan cara arus udara digeserkan di laring (tempat artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebt bunyi geseran atau frikatif.

Ø Bergetar Tidakdaknya Pita Suara
yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar, maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.
Ø Striktur
yaitu hubungan posisi antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Umpamanya dalam memproduksi bunyi [p] hubungan artikulator aktif dan pasif, mula-mula rapat lalu secara tiba-tiba dilepas. Dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan artikulator pasif hubungannya renggang dan melebar.

Nama-nama Bunyi Konsonan
Dengan melihat tempat artikulasi, cara artikulasi dan bergetar tidaknya pita suara, maka nama-nama bunyi konsonan itu dapat disebutkan sebagai berikut :
[b] bunyi bilabial, hambat, bersuara
[p] bunyi bilabial, hambat, tak bersuara
[m] bunyi bilabial, nasal
[w] bunyi bilabial, semi vokal
[v] bunyi labiodental, geseran, bersuara
[f] bunyi labiodental, geseran, tak bersuara
[d] bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara
[t] bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara
[n] bunyi apikoalveolar, nasal
[l] bunyi apikoalveolar, sampingan
[r] bunyi apikoalveolar, getar
[z] bunyi laminoalveolar, geseran, besuara
[n] bunyi laminopalatal, nasal
[j] bunyi laminopalatal, paduan bersuara
[c] bunyi laminopalatal, tak bersuara
[s] bunyi laminhopalatal, geseran, tak bersuara
[g] bunyi dorsovelar, hambat, bersuara
[k] bunyi dorsovelar, hambat, tak bersuara
[n] bunyi dorsovelar, nasal
[x] bunyi dorsovelar, geseran, bersuara
[h] bunyi laringal, geseran, bersuara
 [?] bunyi hambat, glottal
                   Tempat
               Artikulasi
Cara
Artikula
Bilabial
Labiodentals
Apikoalveolar
Laminoalveolar
Laminopalatal
Dorsovelar
Uvular
Laringal
glotal
Hambat
(letup)
BS
TBS
b
p

d
t


g
k


?
Nasal

m

n

n
n



Paduan
(afrikat)
BS
TBS




j
c




Sampingan
(Lateral)


l






Geseran
(frikatif)
BS
TBS

v
f

z

s
x

h

Getar (tril)



r






Semivokal

w


y






BS      = Bersuara
TBS   = Tak bersuara





Catatan:
1)             Sebenarnya bunyi-bunyi konsonan yang disebutkan di atas sangat sedikit bila dibandingkan dengan bunyi-bunyi konsonan yanng ada dalam berbagai bahasa di dunia. Untuk konsonan bahasa Indonesia simak Stokhof (1980) atau Aminudin dkk (1984). Jadi, yang disebutkan di atas hanya sekedar yang dekat dengan konsonan dalam bahasa Indonesia.

2)             Kalau dalam silabel terdapat dua buah vokal beruntun disebut diftong maka bila terdapat dua  buah konsonan dalam satu silabel yanng beruntun disebut gugus konsonan atau kluster.

3)             Gugus konsonan harus bisa dibedakan dari deret konsonan. Kalau gugus konsonan berada pada sebuah silabel, maka deret konsonan berada di antara dua silabel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar