Digital clock

Minggu, 05 April 2015

cerpen

WARUNG PAKDE
oleh : Mala Nopita Sari

Begitu jam kuliah telah usai, tepatnya jam 12 siang, aku bersama teman-temanku bergegas meninggalkan ruang kelas. Setibanya di depan gedung A kampus, mataku langsung tertuju ke depan warung kecil yang telah ramai dikunjungi para pembeli. Warung kecil itu sering ku sebut “Warung Pakde”. Ketika kakiku menuruni anak tangga gedung kampus dan menuju ke warung Pakde pemandangan ramai riuh sudah terlihat disana sampai-sampai Pakde si pemilik warung itu sama sekali tak terlihat wajahnya.
Warung itu memang bisa dibilang kecil dan memiliki ruang yang sangat terbatas mungkin hanya sekitar 20 orang yang bisa masuk di dalamnya, warung itu juga sangat pengap dan panas dikarenakan tidak ada jendela ataupun fentilasi di langit-langit udara tetapi selalu saja banyak mahasiswa dan juga mahasiswi yang berkunjung kesana, mungkin jajanan yang murah meriah dan tempat yang nyaman untuk sekedar berkumpul dan mengobrol menjadi alasan untuk tetap menjadi pelanggan setia Pakde.
Warung Pakde menjual makanan kecil atau camilan yang enak dan juga cocok untuk kantong kami para mahasiswa. Makanan kecil itu berupa tahu bulat, cireng dengan aneka rasa seperti rasa sosis, ayam, baso, keju dan masih banyak lagi rasa yang lainnya. Bukan hanya sekedar makanan ringan Pakde juga menjual minuman teh yang sering disebut teh poci. Teh poci Pakde itu dijual seharga 3.000 rupiah, cara menyajikan teh poci pun dengan menggunakan mesin pemanas untuk merekatkan gelas plastik dengan tutup yang terbuat dari plastik pula. Gelas teh poci itu pun sangat beragam gambarnya dan terkadang aku sering memilih gambar yang aku senangi. Di dalam warung Pakde itu hanya terdapat enam meja yang diatasnya terdapat dua botol sedang yang berisikan bubuk cabai dan juga garam. Bubuk cabai dan garam itu dicampurkan bersama tahu bulat panas memang menjadi santapan nikmat jika sudah disatukan.
Tepat di pojok warung Pakde terdapat satu kompor gas besar yang berfungsi untuk memasak tahu bulat dan juga merebus air panas untuk teh poci. Di pinggir kompor tersebut terdapat westafel kecil yang seharusnya digunakan untuk mencuci piring dan juga gelas tetapi westafel itu tidak berfungsi karena tidak mengeluarkan air, sehingga jika Pakde ingin mencuci piring Pakde harus mengambil air di warung sebelah dengan satu buah ember kecil miliknya. Satu etalase besar menempel di dinding dekat westafel, di kaca etalase itu terdapat tulisan “Sedia Soto Ayam” tetapi ketika mataku melihat ke arah etalase tersebut aku sama sekali tidak melihat panci besar berisi soto atau irisan bawang dan juga potongan jeruk nipis disana, yang kulihat hanyalah tumpukan-tumpukan piring dan gelas plastik untuk teh poci yang masih rapat tidak terbuka. Ternyata setelah aku selidiki, Pakde memang menjual soto ayam tetapi Pakde menjual soto tersebut hanya jika malam tiba.
Dinding-dinding yang terdapat di setiap warung kampus itu hanya dibatasi oleh triplek-triplek kayu yang jika diketuk menghasilkan bunyi yang terdengar oleh warung sebelah. Dinding itu pun sangat kotor dan kusam dikarenakan banyaknya asap dari rokok setiap pengunjung. Pakde berjualan tidak sendiri, disana Pakde di temani oleh istri dan juga satu pegawainya. Pegawai Pakde itu bernama Sugeng. Sugeng itu sangat asik jika diajak bercanda dan mengobrol tetapi terkadang Sugeng juga genit dan sering menggodai setiap pembeli terutama pembeli wanita.
Bau asap tembakau di dalam ruangan itu selalu menyesakkan hidung, asap itu berasal dari seorang wanita yang berambut panjang dan berbadan kurus yang memiliki tinggi sekitar 160 cm dengan rambut yang terlihat tidak tertata rapi dan baju yang berpenampilan seadanya untuk ukuran mahasiswa. Wanita itu selalu terlihat duduk dipojok warung dekat etalase, entah apa yang sedang dia pikirkan yang jelas wajahnya itu nampak kusam sekali. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-gerik tingkanhya, nampaknya dia sangat cemas dan mulai melihat handphone genggam miliknya dan bergegas lari meninggalkan warung Pakde. Aku sangat lega karena bau asap tembakau itu mulai hilang seiring dengan berlalunya wanita tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar