Digital clock

Sabtu, 27 April 2013

cerpen Topeng Monyet


Topeng Monyet

                                                        
Waktu ia menyeringai aku sudah tahu monyet itu siapa. Bumi ini cuma tempat persinggahan rohroh yang mencari tubuh. Ratusan ribu roh melesat kian kemari, ada yang mencari tubuh, ada yang lepas dari tubuh. Siapapun yang melihatnya akan menyaksikan pesta kembang api. Suaranya mendesing-desing dan ratusan ribu roh itu berkelebatan kian kemari dalam rotasi. Setiap detik berlangsung perpindahan roh dari tubuh yang habis masa berlakunya, ke tempat hunian baru. Perpindahan roh dari satu tubuh ke tubuh lain melewati suatu proses pencucian kembali, dengan cara mengelilingkannya ke seantero semesta, meski hanya berlangsung dalam satu detik saja. Dengan demikian diharapkan roh-roh itu tidak membawa pengaruh ketubuhannya yang lama ke dalam ketubuhannya yang baru. Jika prosedur ini tidak dijalankan, dan roh yang baru keluar dari tubuh anjing memasuki tubuh manusia, begitu lahir ia bisa langsung menyalak-nyalak. Setiap detik ada yang mati, setiap detik ada yang lahir, melangsungkan rotasi roh yang luar biasa, tetapi yang tidak jelas benar sistemnya, dan tidak akan pernah jelas, dan barangkali juga tidak perlu terlalu jelas.
“Beri hormat dulu,” kata Tukang Cerita, sambil memukul-mukul tambur. Maka monyet itu memberi hormat, sama seperti letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Kemudian mulailah tukang cerita mendongeng, sementara monyet itu memeragakannya.
“Adalah sebuah negeri yang didirikan oleh manusia.”
Demikianlah para penonton menyaksikan monyet itu menirukan manusia. Penonton terpingkalpingkal, anak kecil bersorak, melihat monyet itu membawa payung, membaca buku, dan akhirnya menembakkan senapan.
Waktu ia membawa senapan kulihat matanya menyala -nyala, mulutnya menyeringai dengan kejam, aku tahu siapa dia. Mata yang menyala-nyala itu menatapku dengan tajam. Dia memang jauh lebih tua dariku, karena itu dia mati lebih dulu. Kini dia mengarahkan senapannya kepadaku, dengan mulut menyemburkan api biru, seperti api kompor gas.
“Ibu! Ibu! Bapak itu mau ditembak!”
Seorang anak di bawah umur lima tahun akan mampu melihat api biru yang menyembur itu, tapi mereka tidak tahu dari mana asalnya. Mereka tidak tahu itulah api neraka yang bisa membakar segala-galanya menjadi bencana tak tertahankan.
Kulihat Si Tukang Cerita. Tangan kirinya memegang rantai yang ujungnya mengunci leher monyet, dan tangan kanannya memegang tongkat kecil yang mampu membuat monyet itu menuruti segala perintahnya.
“Si Kliwon maju bertempur ke medan perang,” ujarnya.
Monyet itu menunduk-nunduk, seperti mengintai musuh dari balik semak-semak.
“Si Kliwon menembak!”
Monyet itu memegang senapannya seperti manusia memberondongkan senapan mesin, sementara tongkat tadi kemudian memukul-mukul tambur. Dung-derudung-dung-derudung-dung-derudung ramai sekali suaranya.
Anak-anak di bawah lima tahun melihat semuanya. Orang-orang tidak bersenjata rubuh ke tanah bersimbah darah. Mereka melihat siapa monyet itu dulunya. Mereka melihat orang-orang digiring ke tanah lapang dengan tangan terikat ke belakang, sambung menyambung sepanjang lapangan. Tubuh mereka tersentak-sentak ketika ditembak. Roh mereka masing-masing melejit dan langsung bergabung dalam proses maharotasi, melejit-lejit, melesat-lesat, berkelebat begitu cepat, mendesing-desing seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak, sebelum akhirnya tahu-tahu lahir kembali dalam ujud seekor katak. Kung-kang, kung-kang, kung-kang, kung-kang, Anak-anak melihatnya, tapi mereka masih di bawah lima tahun. Tidak paham apa maknanya sejumlah orang bersenjata membantai sejumlah orang tidak bersenjata yang sebelum mati berseru:
“Allahu Akbar!”
Monyet itu menyeringai dengan mata iblis merah menyala, dari mulutnya menyembur api biru kompor gas, lantas menandak-nandak sambil memegang senapan di atas kepalanya. Tukang Cerita melanjutkan kata-katanya.
“Syahdan, negara berada dalam keadaan bahaya. Setiap wilayah ingin memisahkan diri. Raja menitahkan agar pemberontak ditumpas. Pasukan tentara diberangkatkan berperang ke pulau seberang. Para serdadu senang mendapat uang tambahan, dan kegemaran membunuh tersalurkan dengan pembenaran. Siapapun yang ditemui disikat tanpa pandang bulu. Siapapun yang tidak dikenal segera ditumpas, karena tidak kenal artinya asing, dan asing artinya berbahaya, dan segala sesuatu yang berbahaya harus dihapuskan.”
Tambur masih terus dipukul. Monyet itu melompat berjumpalitan. Anak kecil tertawa-tawa.
“Setelah puas membinasakan lawan yang tiada berdaya, pasukan tentara bersantai sambil
membicakan tindakan-tindakan ksatria, yakni membunuh dengan membabi buta. Perempuan dan anak-anaknya ditembak pula.”
Monyet itu merebahkan diri, dengan tangan kiri menyangga kepala, seperti seorang raja menikmati hiburan. Kulihat sekeliling. Orang-orang dewasa mengalihkan pandangannya, seperti baru saja dihadapkan kepada kenyataan. Anak-anak masih menonton dengan mulut ternganga. Aku tahu siapa dia, yang bersembunyi di balik tubuh seekor monyet, karena aku telah selalu memburunya dari zaman ke zaman. Tuanku telah memerintahkan aku untuk terus mengawasinya. Namun aku juga bukan makhluk sempurna. Aku terlalu sering lupa untuk membuntutinya. Aku harus mengganggunya terus-menerus agar ia tidak terlalu sering dan tidak terlalu mudah menyebarkan bencana. Aku harus terus mengikutinya, dari ruang ke ruang dari waktu ke waktu, sampai tidak lagi merasa bosan, meski tiada terhitung lagi berapa millennium lamanya aku telah mengikuti dia, yang mata iblisnya suka berpijar sesaat menyala-nyala merah warnanya. Suatu ketika aku kehilangan jejak dan aku kehilangan dia, sekejap saja sebetulnya, tapi itu sudah
100 tahun manusia. Bahkan sampai aku sendiri mati dan lahir kembali berkali-kali. Sekarang tibatiba ia muncul di hadapanku. Menyeringai dengan mata iblis merah menyala dan dari mulutnya menyembur api biru kompor gas.
“Si Kliwon pulang dengan bangga, rasanya puas karena telah membunuh banyak manusia.”
Topeng Monyet selesai. Tukang Cerita itu memerintahkan monyetnya memberi hormat kepada para penonton. Monyet itu memberi hormat seperti seorang letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Setelah itu mereka pergi. Aku mengikuti mereka. Dari dalam kandang beroda yang diseret, dengan gembok besi yang terkunci, monyet itu memandangku. Tahukah ia siapa dirinya dulu? Kenalkah ia kepadaku?
Dari kampung ke kampung mereka mengembara, dan aku terus-menerus mengikutinya. Tukang Cerita itu melirikku.
“Kamu mau apa?”
Aku diam saja. Ia berjalan lagi. Aku mengikutinya lagi. Masih kuingat tugas Tuanku agar aku jangan sampai kehilangan iblis itu lagi. Tukang Cerita itu tentu tidak mengerti apa-apa tentang monyetnya. Ia sudah 50 tahun, sebagian rambutnya memutih, ditutupi topi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Bajunya lusuh dan warna kainnya sudah berubah. Ia menyeret kandang beroda itu naik dari kampung-kampung di tepi rawa ke kampung-kampung di perbukitan yang menghijau. Di sana mereka berhenti karena sejumlah orang yang sedang duduk-duduk di warung memintanya memainkan lakon Menunggu Godot. Maka Tukang Cerita itupun bercerita tentang orang-orang yang
menunggu Godot di bawah sebuah pohon, tapi sampai cerita berakhir Godot tidak pernah tiba. Monyet itu bermain dengan bagus menirukan manusia-manusia yang menunggu sambil bercakapcakap. Tentu saja percakapan itu dilakukan oleh Si Tukang Cerita.
Cerita itu ternyata lama sekali, tapi akhirnya berakhir juga ketika senja tiba.
“Ya, mari kita pergi.” Tukang Cerita itu mengakhiri, dan monyet itu tidak bergerak.
Orang-orang di warung bertepuk tangan, memberi upah, dan memuji-muji. Salah seorang
melemparkan buah pisang kepada monyet itu, yang segera memakannya setelah mengupas kulitnya terlebih dahulu.
“Pak, monyet itu bisa memainkan lima peran dalam Menunggu Godot, bagaimana melatihnya?”
“Ah, begitu saja, seperti melatih binatang sirkus,” kata Tukang Cerita itu merendah.
Lantas mereka melanjutkan perjalanan. Dalam cahaya senja yang menyapu punggung-punggung bukit kuikuti mereka naik turun jalan setapak, menembus hutan pinus, sampai turun ke sebuah lembah tempat sebuah sungai kecil mengalir. Ketika hari menjadi gelap, kulihat mata monyet itu semakin menyala.
Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad? Apakah jalan hidup bisa ditentukan untuk selalu saling mengikuti seperti itu? Apakah artinya hidupku jika sudah ditentukan bahwa aku akan selalu membuntuti roh dalam tubuh monyet itu sepanjang semesta ini ada? Jika semesta ini merupakan ruang untuk mencuci dan menyucikan kembali roh yang melejit dari tubuh, mengapakah aku harus terus-menerus mengikutinya, dan apakah mungkin mengikutinya jika roh itu hanyalah semacam energi yang menghidupkan tubuh sehingga tidak ada beda antara roh satu dengan yang lain ketika sedang berkelebatan di angkasa raya? Aku tidak mengerti. Kurasa hidup ini memang sebuah misteri. Di langit kulihat sekian banyak roh melesat-lesat seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak. Monyet itu tak pernah berkedip menatapku dari dalam kandangnya. Apakah ia tahu akulah yang ditugaskan Tuanku
mengikutinya? Apakah ia tahu akulah selama ini yang mengejarnya dan aku sempat kehilangan jejak sampai 100 tahun lamanya sehingga masa itu tercatat dalam kitab-kitab sebagai Abad Kegelapan?
Mereka tidur di tepi kali. Rembulan terang. Tukang Cerita itu mengambil kain sarung dari sebuah kotak di atas kandang beroda, lantas menggulung tubuhnya di atas batu datar yang malam itu menjadi putih kebiru-biruan. Kudengar air kali. Aku senang sekali mengikuti perjalanan mereka.
“Bukankah pada jam seperti ini kamu sudah seharusnya di rumah? Pulanglah, kalau sudah besar nanti kamu boleh mengembara.”
O, Tukang Cerita itu tidak tahu, aku sama sekali tidak ingin mengembara. Aku harus mengawasi roh dalam tubuh monyet itu, yang mata iblis merahnya menyala-nyala, agar ia tidak membunuh manusia seenak perutnya seperti selalu diperagakannya. Tapi tentu saja Tukang Cerita itu tidak akan mengerti, karena ia sudah 50 tahun. Sedangkan aku, baru seminggu lagi mencapai usia 5 tahun. Setelah itu, aku akan lupa dari mana aku berasal dan ke mana aku setelah mati – yang semacam itu hanya bisa kukira-kira saja.
Sudah pasti aku tertidur. Lewat tengah malam, Tukang Cerita itu membangunkan aku.
“Monyet itu hilang,” katanya dengan gugup.
Kulihat kandangnya. Gemboknya masih terkunci. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar