Digital clock

Jumat, 19 April 2013

Deskripsi dengan pengembangan observasi menurut spasi dan waktu


Dayung ketika Banjir

Sore itu sekitar pukul tiga, suasana mulai tak bersahabat. Matahari tiba-tiba mulai redup, yang ada hanyalah awan gelap yang sudah mengeluarkan suara-suara halilintar yang sangat mengganggu telinga. Hujan turun dengan derasnya, angin kencang mulai menembus kulit dan membuat bulu kudukku berdiri seketika. Aku tidak henti-hentinya mengusap kedua tanganku dan berharap aku akan mendapatkan rasa hangat sejenak dan hujan pun akan berhenti.
Saat ini aku sangat cemas, hujan tak kunjung reda melainkan turun dengan derasnya. Jam tanganku sudah menunjukan pukul tiga lewat lima belas menit, TELAT gumamku dalam hati. Aku memang harus pergi mengajar tepat di jam tiga tetapi hujan benar-benar telah menghambat waktuku. Dengan sigap aku langsung mengeluarkan mantel dalam jok motorku dan aku segera memakainya. Tak peduli hujan deras, tak peduli percikannya dapat menghalangi pandanganku saat mengendarai motor, yang aku pikirkan hanyalah sampai di tempat mengajar dan bertemu dengan murid-muridku yang telah menungguku.
Motor matic hitamku melaju dengan kencangnya, kupacu sampai kecepatan lima puluh kilometer. Brakkk... aku tersentak kaget, motorku melewati jalan berlubang. Aku sama sekali tak melihat lubang itu karena lubang itu telah tergenangi air yang kedalamnya mencapai lima belas centimeter. Selain hujan yang menghalangi waktuku, macet pun juga menjadi penghalang keduaku untuk sampai di tempat mengajar. Kemacetan itu berada tepat di depan sekolah Kristen Penabur. Aku melihat jam tanganku, pantas saja sekarang sudah tepat jam setengah empat. Murid-murid sekolah Penabur itu memang baru pulang sekolah jadi banyak sekali yang lalu lalang di jalan dan masuk ke dalam mobil-mobil mewahnya.
Pukul tiga lebih empat puluh lima menit, aku sudah terbebas dari kemacetan itu dengan berusaha menerobos dan mencari jalan keluar agar terbebas dari kerumunan mobil-mobil mewah milik para koko dan cici. Sebenarnya jarak dari rumahku dengan tempat mengajar tidaklah terlalu jauh kira-kira sekitar dua kilometer, tetapi dikarenakan kemacetan itu yang terjadi setiap hari menjadikan perjalanan seakan-akan menjadi sepuluh kilometer.
Aku kembali menjalankan motorku dengan hati-hati. Ketika sampai di depan perumahan tempat aku mengajar aku sangat kaget dan bingung sekali. Perumahan itu sudah tergenang air dengan ketinggian mencapai dengkul orang dewasa. Lagi-lagi banjir menjadi penghambat ketigaku dalam perjalananku mengajar Selasa itu. Aku menghentikan laju kendaraanku dan mulai berpikir apakah motorku bisa menerobos genangan air yang begitu tinggi sedangkan keadaan mesin motorku pada waktu itu sedang tidak baik.
Aku melihat lagi jam tanganku yang sudah mulai basah karena percikan air hujan. Pukul empat kurang lima menit, gumamku. Aku sudah tidak berpikir banyak saat itu, aku langsung melaju dan melewati banjir yang memang baru pertama kali ku alami selama mengajar disana. Aku melihat rumah-rumah di sekelilingku yang sudah tergenangi oleh air, sebagian dari mereka sedang sibuk mengangkut barang-barang berharga miliknya untuk dibawa ke lantai atas rumah mereka. Aku baru sadar perumahan tempatku mengajar memiliki nama-nama yang unik yaitu ada Dayung, Sampan dan juga Layar. Aku mengajar di jalan Dayung, mungkin arti kata Dayung diambil dari perumahan yang memang sering sekali tergenang air dan mengakibatkan banjir ketika hujan. Aku tersenyum sambil memikirkan itu.
Aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan si hitamku ini. Untunglah aku sampai di tempat mengajarku, sebuah rumah kecil yang menjadi tempat di mana aku mengajar membaca, menulis, berhitung dan juga mengaji. Rumah tempat mengajarku ini tidak tergenang oleh air, dikarenakan ada tanjakan kecil yang membuat air tidak bisa untuk masuk kedalamnya. Aku langsung melepaskan mantel dan merapikan kerudungku yang berantakan kesana-kemari. Waktu saat ini sudah menunjukan pukul empat, aku langsung memasuki rumah dan mengetuk pintu, ternyata yang membukakan pintu adalah si manis yang bernama Karimah. Karimah menyambut tanganku dan mulai menyalaminya seraya sambil berkata “Tangan Bu Mala dingin”, aku hanya tersenyum. Ternyata murid-muridku tidak ada yang datang dan hanya Karimahlah yang menemaniku. Aku mulai membuka buku dan mengajari Karimah menulis huruf A-Z, dia adalah muridku yang sangat pandai.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, keadaan di luar sudah tidak hujan, air pun sudah mulai surut. Karimah pun sudah selesai menulis dan aku mulai membereskan semua peralatan tulisku. Aku duduk sejenak di teras sambil menikmati udara dingin yang memang sangat menyentuh kulitku, hembusan angin yang membuat bunga-bunga di pot menjadi bergoyang dan seakan-akan melambaikan daunya di hadapanku. Pemandangan itu seakan-akan membuat hatiku sejuk dan melupakan sejenak kejadian yang menimpa diriku sekitar tiga puluh menit yang lalu. Aku lalu berpamitan kepada Karimah dan bergegas untuk kembali pulang ke rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar