Digital clock

Minggu, 28 April 2013

Kecoak Pindah Rumah


"Kecoaaak...!" teriak Katie sambil melompat-lompat. Kentang goreng yang ada di tangan kirinya berhamburan saat dia melompat. Hanya sisa beberapa batang saja yang kemudian digenggamnya erat-erat sambil berlari tunggang-langgang.
Katie takut sama kecoak, takuut sekali. Binatang berkaki enam dan berantena itu adalah binatang terjorok yang yang membuatnya phobia, takut luar biasa.
Katie berlari menuju rumahnya yang hanya berseberangan dengan sekolahnya. Begitu masuk, tampak mama dan papa berada di ruang tengah. Katie memberi salam sambil bergegas menuju kamarnya. Tak menghiraukan mama yang menanyakan tentang kabarnya di sekolah.
Mama menghela nafas kemudian kembali ke kesibukannya, menjahit baju-baju kecil persiapan untuk bayi kecil yang akan dilahirkannya dalam waktu dekat. Bayi kecil yang bakal menjadi adik kedua Katie.
Nolan, adik pertama Katie, tertidur di sofa di samping mama. Sedang papa tampak disibukkan dengan koran..
Angin sore itu mengalir sejuk, membawa semerbak harum bungan melati yang ditanam mama di samping rumah. Angin terus berembus hingga korden di dekat mama bergerak-gerak seperti mau terbang. Mama berdiri kemudian mengikat korden itu sedemikan rupa dan membuka jendela sedikit lebih lebar.
Mama pikir akan lebih baik kalau angin sore itu dibiarkan masuk untuk membuat sirkulasi udara di ruang tengah itu lebih nyaman.
Namun bersamaan dengan itu, sebuah bau lain mengalir membuat mama mengernyitkan dahi dan menajamkan indra penciumannya. Hal ini pun tak luput dari perhatian papa. Papa seketika menghentikan aktifitas membacanya dan menoleh ke arah mama.
"Bau apa nih ma?" tanya papa.
"Iya nih pa. Kirain cuma mama aja yang mencium bau ini," jawab mama.
"Coba mama periksanya," kata mama.
Mama memeriksa seluruh sudut di ruang tamu namun tidak menemukan sumber bau busuk itu. Dibukanya lemari buku. Buku-buku tampak berjejer rapi, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Mama melongok, mengintip di belakang TV. Di sana pun tak dijumpai apa-apa.
Pandangan mama beredar ke seluruh ruangan. Di koridor ruangan menuju dapur, tampak kaos kaki dan sepatu Katie tergeletak di sana. "Nah, ini dia," pekik mama dalam hati.
Sepertinya Katie nakal lagi. Kemarin Katie menaruh baju sekolahnya di lantai, lalu kemarin dulu tas sekolah di dapur dan kemarin dulunya kemarin topi dan dasi kupu-kupunya di samping rumah. Dan mamalah yang membereskan semuanya.
Coba bayangkan, mama yang berperut besar itu harus memungut barang-barang milik Katie yang berceceran di mana-mana. Apakah kali ini mama juga yang harus membereskannya?
Papa tampaknya memperhatikan mama. Papa juga melihat kaos kaki dan sepatu Katie yang berada di tempat yang tak semestinya itu.
"Katie mana ma?" tanya papa sembari melangkah mendekat.
"Sepertinya di kamar. Mungkin lagi negerjain PR," jawab mama.
Papa berjalan mendahului mama menuju kamar Katie. Namun belum sempat papa mengetuk pintu atau memanggil Katie, terdengar sebuah jeritan melengking.
"Kecoaaak...kecoaakk...! Toloong...!" teriak Katie.
Papa dan mama masuk kamar. Dilihatnya Katie berdiri di atas ranjang dengan muka pucat. "Mama...papa...tolong Katie...ada kecoaak di kamar Katie...!" teriak Katie sambil melompat dari ranjang dan berlari ke pelukan mama.
Katie memegang mama erat-erat, dia benar-benar ketakutan. Tapi mama dan papa diam saja.
Pandangan mama menyapu ruangan. Terlihat sampah di mana-mana. Ada kulit pisang di meja belajar, ada apel yang tinggal separuh di rak buku, ada bungkus permen di lantai di dekat jendela, ada kentang goreng yang tinggal sebiji di atas kasur. Buku-buku pelajaran berceceran, baju-baju tampak carut-marut di sana-sini. Mama menghela nafas menahan marah, demikian juga papa.
"Kecoak ma," kata Katie, sudah tak sekencang tadi. Katie tahu mama papa sedang marah melihat kamar Katie yang seperti sarang tikus.
"Katie tahu kenapa kecoak ke sini?" tanya papa.
Katie menggeleng.
"Karena Katie mengundangnya," kata mama.
"Semua kecoak dari got depan sekolahanmu akan berpindah ke sini kalau kamarmu seperti ini," kata papa dengan pandangan tajam.
Katie diam, bergidik membayangkan ratusan kecoak menguasai kamarnya. Diambilnya buku-buku yang berserakan dan diletakkannya pada tempatnya. Dibuangnya kulit pisang, bungkus permen, apel dan kentang goreng. Dilipatnya baju-baju yang carut-marut itu kemudian disimpannya kembali ke dalam lemari. Dirapikannya tempat tidurnya. Diambilnya sapu dan kain lap juga kain pel. Dalam waktu satu jam, ruangan Katie sudah tampak bersih dan rapi.
"Ma, kecoak dari got depan sekolahan itu enggak jadi pindah ke sini khan?' tanya Katie pada mama yang menungguinya bersih-bersih.
"Kalau bersih dan rapi gini, bukan kecoak yang pindah ke kamar kak Katie, tapi Nolan," kata Nolan yang  tiba-tiba melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
"Ha ha ha ha...," tawa seisi rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar