Digital clock

Sabtu, 27 April 2013

Senja di Kaca Spion

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa
di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan.
Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika
memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang
kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski
apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya
bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera
perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca
spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan
secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa
kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat
tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di
hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu
beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak
keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti
akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat
meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama,
mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah
yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung
mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang
mengalami bencana tak tertahankan.
Di jalan tol, aku tak bisa berbalik bahkan tak juga bisa menoleh ke
belakang. Aku hanya bisa melaju terus menerus melaju dan memang hanya
melaju selaju-lajunya kelajuan dalam kecepatan yang terlaju ketika di
hadapanku awan hitam yang bergulung-gulung itu bagaikan merendah dan
bersiap menerkam meski dalam kenyataannya memang hanya di
sana saja
awan hitam itu bergulung-gulung dan terus bergulung-gulung sungguh
begitu matang untuk setiap saat menggulung.
Itulah yang membuat aku meluncur dengan perasaan rawan. Aku melaju di
jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang
dengan pasti merupakan kegelapan sementara di kaca spion kusaksikan
tiga senja dengan tiga matahari terbenam di ujung jalan tol di balik
pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit
seantero bumi memantik kesenduan memantik keharuan yang menenggelamkan
perasaan dalam kedukaan yang mau tak mau harus ditahan.
Belum tentu sekali lagi dalam seumur hidupku aku akan mendapatkan tiga
senja sekaligus melalui kaca spion di tengah, kiri, dan kanan dalam
mobilku yang meluncur dan melaju meninggalkannya dengan tiga matahari
yang bagaikan lempengan besi merah membara membenam perlahan-lahan
tapi pasti meski tetap perlahan tapi meski tetap sepasti sepelan
perputaran bumi. Tiga senja dengan tiga matahari membenam
menyemburatkan langit di tiga kaca spion, hanya dari kaca spion
mobilku dan hanya dengan meninggalkannya ke depan, terus menerus
melaju ke depan, maka aku akan bisa melihat ketiga senja dengan ketiga
matahari itu.
Meluncur di jalan tol tanpa ujung, aku bahkan tidak memiliki
kemungkinan untuk kembali, sepanjang hari sepanjang zaman aku menembus
ruang dalam waktu yang berkelebatan. Di manakah ujung jalan tol ini?
Aku tak tahu menahu dan sungguh tiada tahu menahu hanya bisa meluncur
dan menuju untuk terus menerus menuju dan melaju ke depan tanpa
halangan. Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Aku tak
tahu dan tak akan pernah tahu karena aku hanya bisa meluncur di jalan
tol yang panjang tanpa ujung tanpa pernah tahu akan berakhir entah
kapan dan di mana.
*
Pada tiga kaca spion tiga matahari terbenam perlahan di balik
pegunungan. Pada punggung pegunungan itu orang-orang berjalan sebagai
sosok-sosok kehitaman dengan kepala menunduk melangkah perlahan-lahan.
Sepuluh orang, duapuluh orang, mungkin limapuluh orang, berjalan
menuruti langkah kaki dengan kepala tertunduk mengikuti jalan setapak
dalam perjalanan panjang entah dari mana menuju entah ke mana dalam
kekelaman senja di atas pegunungan. Apabila mereka kemudian berjalan
beriringan di punggung pegunungan naik turun dataran dengan latar
belakang lempengan matahari merah membara maka tampaklah sosok-sosok
yang berjalan dengan kepala tertunduk itu melintas dalam perjalanannya
bagai melintasi dunia. Pada kaca spion aku tak akan pernah tahu
sosok-sosok hitam yang melangkah perlahan dengan kepala itu datang
dari mana dan menuju entah ke mana. Siapalah yang akan tahu?
Segalanya terlihat di kaca spion, tetapi hidup tidak bisa dibalik,
sosok-sosok melangkah, aku meluncur, matahari terbenam, cahayanya yang
keemasan semburat membakar langit, menyala berkobar-kobar dengan lidah
api yang menjilati angkasa. Segalanya memesona di kaca spion dan
segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya
dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dunia serasa
begitu tenang dalam kecepatan terbangnya malaikat yang hening. Aku
meluncur ke depan, tetapi mataku menyaksikan senja pada tiga kaca spion…
Aku masih meluncur awan masih bergulung tetapi langit telah semakin
gelap ketika tiga senja di tiga kaca spion itu tampak semakin
kemerah-merahan. Aku masih menyaksikan ketiganya sekaligus ketika tiga
matahari merah membara masih terbenam perlahan-lahan, ketika
kuperhatikan ternyata pada spion sebelah kanan orang-orang yang
berjalan tertunduk sebagai sosok-sosok hitam itu telah menghilang…
Pergi ke manakah mereka?
Ternyata beberapa orang yang berjalan paling belakang masih tampak
berjalan dengan kepala tertunduk pada pemandangan senja di kaca spion
yang tengah, yang ketika menghilang kemudian tampak pada kaca spion
yang kiri!
Pada kaca spion yang kiri kemudian kusaksikan rombongan sosok-sosok
hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk di atas pegunungan yang
juga menghitam dalam latar belakang lempengan matahari raksasa yang
merah membara dan sedang turun perlahan-lahan. Mereka berjalan dengan
pelan, tetapi pasti, dan satu persatu menghilang keluar dari kaca spion.
Apakah mereka sebenarnya masih di
sana? Sayangnya aku tidak bisa
menoleh ke belakang. Aku meluncur dengan kecepatan yang tak terukur
lagi, sebaiknya tentu aku tidak menoleh sama sekali ke belakang, meski
kecepatan yang tak terukur itu telah memberikan keheningan yang begitu
heningnya sampai terdengar berdenting.
Namun dengan menatap ke depan, kedua mataku masih mampu meliputi
ketiga kaca spion sekaligus, tempat aku telah melihat ketiga matahari
senja sedang turun perlahan-lahan. Tiga matahari senja bagaikan tiga
lempengan raksasa yang merah membara turun perlahan-lahan ke balik
pegunungan yang punggungnya tampak naik turun panjang pendek curam
landai dalam latar langit yang kemerah-merahan.
Ternyata bahwa matahari pada kaca spion yang kanan telah lebih dulu
tenggelam, meninggalkan cahaya keemas-emasan di langit, cahaya yang
akan disebut-sebut penyair
gaya lama sebagai cahaya kencana.
Pada kaca spion yang tengah matahari masih terbenam separuh. Lempengan
raksasa itu bergeletar mendesak bumi yang bagaikan menolaknya. Langit
di atasnya merah membara penuh dengan pesona. Juga penyair
gaya lama
tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya
kencana.
Sementara itu, pada kaca spion sebelah kiri, mataharinya tenggelam
lebih cepat, karena sudah tinggal sepertiganya saja dan seperti
kusaksikan memang kemudian hilang terbenam meninggalkan cahaya
keemas-emasan yang juga akan disebut penyair
gaya lama sebagai cahaya
kencana.
Tapi aku suka
gaya lama. Apa salahnya?
Aku masih meluncur di jalan tol tanpa ujung dengan kecepatan tak
terukur. Pada kaca spion di dalam mobil, kusaksikan senja, dengan
matahari merah membara yang sedang terbenam perlahan-lahan, yang
cahayanya semburat menyapu langit menjadi keemas-emasan-memang tiada
pilihan lain bagi seorang penyair
gaya lama, selain menyebut cahaya
yang semburat di langit itu sebagai cahaya kencana…
Pondok Aren,
Kamis 8 Maret 2007. 18:25
SGA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar