Digital clock

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerpen Cinta


Cintaku Berat di Badan
Oleh: Mala Nopita Sari

Sore ini sinar matahari sudah mulai redup. Pancaran sinarnya yang begitu menyengat siang tadi kini sudah mulai menyelinap di antara pohon-pohon bambu yang begitu tinggi. Angin pun mulai bertiup dengan pelan, daun-daun bambu pun mulai bergoyang kesana-kemari dengan serempak. Aku yang sedari pagi sudah berkutat dengan semua rumus matematika yang begitu membuatku pusing, kini mulai bernafas lega karena jam kuliah telah usai. Aku langsung bergegas meninggalkan ruangan kelas lalu aku menuju halte metromini di depan kampus. Jam sudah menunjukan pukul lima, seperti biasa pada jam-jam seperti ini semua angkutan umum selalu dipenuhi oleh mereka para karyawan kantor yang sudah pulang kerja. Keadaan Jakarta yang begitu padat membuat mobil metromini ini sangat sesak karena terlalu banyak penumpang. Badanku yang besar memang sangat memakan tempat, jadi wajar saja jika aku sering dimarahi oleh penumpang lain karena menghalanginya untuk turun.
“Mba misi dong! saya mau turun nih. Mba sih gemuk banget saya jadi gk bisa lewat kan”. Tegur penumpang itu dengan sinis.
“Maaf mba”, hanya kata itu yang bisa ku lontarkan.
Aku sebenarnya malu dengan keadaan berat badanku yang sudah mencapai angka 70 kg, tetapi mau bagaimana lagi aku sudah berusaha untuk diet tetapi tetap saja aku tidak dapat menahan nafsuku untuk tidak makan coklat karena coklat merupakan makanan favoritku, jika sehari saja aku tidak makan coklat badanku ini bisa gatal-gatal.
Aku sudah turun dari mobil metromini, lega rasanya bisa menghirup udara luar setelah selama tiga puluh menit aku harus menghirup seribu satu aroma yang tidak sedap di dalam metromini tersebut. Aku sudah sampai di tempat kostku. Jarak rumah yang cukup jauh dengan kampus membuatku memutuskan untuk tinggal mengekost, sebenarnya biaya kost itu terhitung lebih mahal dibandingkan dengan tinggal di rumah sendiri, karena mamah harus mengeluarkan uang lebih tiap bulan untuk membayar kost, membiayai hidup untuk makan, harus mengerjakan sesuatu sendiri tanpa dibantu mamah.
Aku memiliki teman sekamar bernama Alin. Alin adalah perempuan yang cantik, seksi, langsing, tinggi, rambutnya lurus, matanya indah, pokoknya benar-benar wanita sempurna. Aku sangat iri terhadap kecantikan yang Alin punya. Aku mendekatkan wajahku ke cermin, kutatap bagian wajahku. Wajah yang lusuh, muka bulat dengan sebagian jerawat kecil di pipi yang tembem, mata sipit yang selalu terhalangi oleh kacamata tebal, rambut kriting tidak beraturan, hidung besar seperti jambu air, belum lagi badanku yang penuh dengan lemak di bagian perut yang begitu menumpuk, hanya kulit putih yang menjadi kelebihanku satu-satunya di antara anggota badan yang lain. Arrgghhh, aku menghela napas panjang, hidup ini memang tidak adil dan sangat tidak adil, aku sangat kesal menatap diriku sendiri yang sangat jauh dari kata cantik. Alin pernah bilang sesuatu yang membuatku senang.
“Pril, setiap orang itu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tidak ada kata sempurna dalam dunia ini. Kamu memiliki kelebihan yang tidak aku punya yaitu prestasimu yang begitu membanggakan, aku sangat iri dengan kepintaran yang kamu punya”.
Memang sih, aku dari kelas satu SD selalu mendapatkan peringkat pertama. Sampai di bangku kuliah ini aku juga selalu mendapatkan beasiswa, tetapi tetap saja aku tidak banyak dipandang oleh semua laki-laki karena prestasiku, laki-laki sekarang ini hanya memandang perempuan dari kecantikannya jadi wajar saja kalau aku sering uring-uringan dengan kondisi badanku.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, aku masih membereskan buku-buku untuk dibawa hari ini ke kampus. Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan naik ojek di depan gang kostanku, kulihat sekumpulan tukang ojek sedang duduk menunggu penumpang. Aku segera menuju pangkalan ojek itu dan tukang ojek itu langsung menoleh ke arahku.
“Ojek mba?” tanya tukang ojek itu.
“iya bang ke Kampus depan yah, berapa duit bang? tanyaku.
“Sepuluh ribu aja mba, gimana mba? murah kan?” jawab abang tukang ojek kurus itu dengan senyumnya. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menjawab, “Oke deh bang”. Sebenarnya aku sedikit khawatir diboncengi olehnya karena melihat badan abang tukang ojek yang begiu kurus jadi sepanjang perjalanan aku selalu menginggatkannya.
“Bang pelan-pelan ajah yah, jangan ngebut-ngebut. Saya kan berat nanti takut jatuh”.
“Tenang aja mba, saya udah biasa bawa yang ukuran jumbo” jawab abang tukang ojek itu dengan meyakinkan. Sudah setengah perjalanan aku mulai merasa kalau ada yang tidak beres dengan keadaan motornya. Benar saja disaat melewati polisi tidur secara tiba-tiba saja posisi si tukang ojek lebih tinggi dari pada aku. Aku langsung merosot ke bagian belakang dan seketika itu aku langsung jatuh tersungkur ke aspal. Aku merasakan sakit di bagian pantatku. Untuk menghindari rasa malu aku langsung bangkit dari tempatku terjatuh tapi tiba-tiba saja terdengar bunyi Breettt. Masyaallah, celanaku robek tepat di bagian belakang pantatku. Aku bingung harus berbuat apa, untung saja tidak ada yang melihat kejadian ini. Abang tukang ojek benar-benar merasa bersalah dan dia terus meminta maaf kepadaku, aku langsung memaafkannya dan memberikannya uang sepuluh ribu tetapi dia menolaknya dan bilang “Tidak usah mba, saya kan sudah membuat mba jatuh jadi tidak usah bayar”. Aku langsung pergi dan berjalan menuju kampus. Aku menutupi celana robekku dengan tasku. Untung saja tidak terlambat datang ke kelas, aku langsung duduk dengan rasa gelisah.
Jam Kuliah telah selesai, aku langsung pergi ke kantin kampus dan memilih tempat duduk di bagian belakang. Sesampainya di kantin aku melihat seseorang duduk di samping mejaku. Aku sangat kaget ternyata Radit, dia adalah laki-laki yang selama dua tahun ini aku taksir. Radit adalah lelaki terganteng di kampus. Aku bukan satu-satunya wanita yang  menyukai Radit tetapi aku adalah satu-satunya wanita yang sangat tidak berkemungkinan untuk menjadi pacarnya. Selama ini aku hanya bisa menatap Radit dengan diam-diam tanpa berani untuk menatapnya langsung, tetapi tiba-tiba saja aku mulai merasa kalau Radit semakin dekat, benar saja dia mulai menghampiriku. Aku mulai gelisah dan mulai merapikan bagian bajuku sambil membereskan rambutku yang berantakan ini, lalu dia berkata.
“Boleh minta tisunya”
“Oohh,,, Booolleehhh Booleehhh” jawabku dengan gugup dan gemetar.
“Terimakasih April”. Oh My Good, dia tahu namaku. Sejak kapan kita berkenalan, berjabat tangan dengannya saja aku tak pernah. Aku hanya bisa terdiam dan bertanya-tanya, jadi selama ini dia tahu namaku, aku benar-benar merasa senang. Selama perjalanan pulang aku tidak henti-hentinya tersenyum simpul sambil terus membayangkan wajah Radit yang tampan itu.
Malam ini adalah malam minggu, karena aku tidak memiliki pacar jadi seperti biasa aku hanya bisa duduk menonton tv sambil memakan coklat tobleron kesukaanku, lain halnya dengan Alin. Sudah sejak satu jam tadi dia sibuk untuk merias diri di kamarnya. Malam ini Alin akan pergi bersama gebetannya. Hampir setiap malam minggu Alin selalu pergi dengan laki-laki yang berbeda, aku saja sampai tidak ingat siapa-siapa saja teman lelaki Alin yang datang ke kostan. Sepanjang malam ini aku tidak bisa tidur, aku selalu memikirkan wajah Radit, hatiku benar-benar merasa bahagia. Semoga saja dengan kejadian siang tadi aku bisa menjadi dekat dengan Radit.
Hari ini adalah mata kuliah yang sangat membosankan, jadi ku putuskan untuk pergi ke kantin saja. Aku langsung memesan makanan tetapi ketika aku sedang memilih tempat duduk, aku tersentak kaget di depan sana kulihat Radit sedang mengobrol dengan Alin. Ada hubungan apa antara Radit dan Alin, mengapa mereka saling kenal? mengapa mereka begitu dekat? apa mereka sudah pacaran? mengapa harus Alin? aku benar-benar penasaran dan aku tidak habis pikir. Kalau pun Radit harus memiliki pacar aku sangat berharap kalau pacarnya itu bukanlah Alin, karena aku tahu sekali siapa itu Alin, Alin memiliki banyak teman lelaki jadi dapat kusimpulkan kalau dia bukanlah tipe wanita yang setia. Sesampainya di kostan aku langsung menanyakan masalah ini kapada Alin.
“Ehemmpp Lin, aku mau nanya. Kamu kenal sama Radit yah?”
“Kenal banget dong, siapa sih yang gak kenal sama dia, laki-laki ganteng dan baik pula”. Mendengar perkataan Alin seperti itu kekesalanku meningkat menjadi 10%.
“Eh, kenapa nanya kaya gitu Pril, cemburu yah kamu aku deket sama Radit?”
“Eeehhhh,,, ggkkk kok! siiappa yang cemburu, biasa ajah tuh kan aku cuma nanya” jawabku sekenanya. Alin pun langsung pergi meninggalkan aku. Hatiku sangat hancur sekarang benar-benar sudah tidak ada harapan lagi bagiku. Sia-sia aku memendam perasaan ini selama dua tahun jika akhirnya Radit harus berpacaran dengan teman sekamarku, air mataku tiba-tiba saja mulai turun, Hiks..Hiks.
Tiga hari sudah kejadian itu berlalu, aku berusaha melupakan bayang-bayang Radit dalam pikiranku karena aku tahu cepat atau lambat Radit akan menjadi milik Alin si gadis cantik itu. Aku mencoba bersikap biasa saja terhadap Alin seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku, aku tidak ingin Alin tahu bahwa aku menyukai Radit. Malam ini aku sedang menghafal rumus matematika yang akan dipelajari besok, tetapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku pun langsung berdiri dan membukakan pintu. Aku langsung terperangah ternyata dia adalah RADIT. Untuk apa Radit datang ke kostanku, aku sangat senang sekali dan langsung terdiam tanpa mempersilahkan Radit untuk masuk.
“Pril, boleh aku masuk” tanya Radit heran.
“Ohh yah tennttuu saja boolehh” gugup itu tidak hilang jika bicara dengan Radit.
“Ada apa kamu ke,” belum sempat aku lanjutkan perkataanku, tiba-tiba saja Alin keluar dari kamar dengan menggunakan mini dress berwarna biru dongker. Astaga aku sampai lupa kalau Radit datang ke sini pasti untuk bertemu dengan Alin, bukan untuk bertemu denganku. Bodohnya aku sampai melupakan hal itu. Mereka akhirnya pergi untuk dinner. Untuk kesekian kalinya hatiku hancur berkeping-keping. Aku sedih, dan judul untuk malam ini adalah “Menangis Semalam”.
Aku bangun dengan mata yang sembab gara-gara kisah menangis semalamku. Rasa sakit ini masih terasa sampai ke tulang-tulang rusukku, daripada aku terus bersedih seperti ini aku lebih baik mandi dan pergi ke supermarket untuk membeli coklat, karena persediaan coklatku sudah mulai menipis. Pagi ini cuaca begitu mendung sepertinya langit pun ikut berduka dengan kejadian yang menimpaku. Aku bergegas pergi ke supermarket takut hujan terlebih dahulu turun, setelah selesai berbelanja keadaan cuaca di luar semakin memburuk. Langit begitu berwarna hitam pekat, hujan pun mulai turun dengan deras. Sial sekali aku tidak membawa payung, terpaksa aku harus menunggu hujan berhenti. Ketika aku ingin berjalan untuk berusaha keluar dari kerumunan orang yang sedang berteduh tiba-tiba saja kantong plastik belanjaanku sobek dan langsung saja barang belanjaanku terjatuh dan berserakan. Aku langsung mengambil barang belanjaanku satu persatu tetapi aku melihat ada sebuah tangan menggapai coklat tobleron milikku lalu menyodorkannya padaku. Aku lalu mulai menganggkat kepalaku dan melihat siapa orang yang telah membantuku, RADIT. Kenapa harus Radit lagi, mengapa dia hadir di saat seperti ini.
“Nih punyamu, kenapa bisa terjatuh seperti ini sih Pril?”
“Eemmp anu, anu kantoonng belanjaanku terllalu tipiss jadi sobek deeh”. Tetap saja gugup.
“Lain kali hati-hati yah Pril”. Sumpah ini nice banget, ganteng, baik dan perhatian benar-benar pacar idaman.
“Kamu mau aku antar pulang?”
Beneran Radit mengajakku pulang bareng? sama dia? naik mobilnya dia. April kamu gak lagi mimpi kan yah? aku mencoba mencubit tangan kananku. Awww sakit, berarti benar ini bukan mimpi tapi ini sungguhan. Aku langsung mengangguk iya.
Sesampainnya di tempat kost, aku langsung menaruh barang belanjaanku di dapur dan aku langsung membuatkan minum untuk Radit. Ketika aku menawarkan minuman itu kapada Radit, Radit menatap wajahku dengan tatapan yang tajam yang membuatku malu.
“Pril, aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini padamu tetapi aku tidak berani untuk mengataknnya. Aku menyukaimu. Aku tahu kamu sering menatapku dengan diam-diam, tanpa kamu sadari aku juga sering menatapmu dengan diam-diam, aku sangat kagum dengan prestasimu, aku sangat suka dengan kamu yang simpel dengan tubuhmu walaupun banyak yang mencela kamu. Bagiku Kamu itu wanita yang cantik luar biasa Pril”
“Hahhh, yang benar saja kamu? kamu menyukaiku? Luar biasa cantik katamu! Radit kamu buta yah? aku sebesar ini dengan wajah yang aneh tapi kamu masih bilang aku cantik.
“April, aku sama sekali tidak melihat kamu dari fisik saja, bagiku kamu wanita yang baik yang selalu tersenyum disaat semua orang tidak melihatmu tapi kamu tetap berusaha menjadi diri kamu.
“Bagaimana dengan Alin, bukankah kamu menyukai Alin?
“Hah Alin, tidak mungkin aku menyukai Alin. Alin adalah adik sepupuku Pril”.
Aku benar-benar merasa bodoh dan juga dibuat bengong, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“April, aku sungguh-sungguh menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Tanpa berpikir lagi, aku pun langsung berkata “Maauuu, aku mauu jadi pacar kamu”.
Aku sangat merasa senang, aku bagai melayang dan menari di atas awan, ditaburi oleh bunga-bunga yang indah dan diiringi dengan balutan lagu cinta. Aku merasa menjadi wanita paling tercantik di antara seluruh wanita-wanita yang ada di muka bumi ini. Oh Tuhan terimakasih karna kau telah mendengar semua doa-doaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar