Digital clock

Selasa, 03 September 2013

cerpen tentang lingkungan


Payung Pelangi
oleh: Mala Nopita Sari

Sore itu di sebuah kampung pemulung yang sumpek terdapat rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu-kayu triplek. Jumlah rumah-rumah itu lumayan banyak. Mereka tidak memikirkan tinggal di lahan orang, yang mereka pikirkan adalah bisa memiliki rumah kecil untuk singgah dan berteduh padahal mereka tahu resiko yang akan dihadapi yaitu akan kehilangan rumah kapan saja karena digusur. Di salah satu kampung pemulung itu terdapat rumah triplek yang begitu sempit di dekat tempat pembuangan sampah. Rumah itu dihuni oleh satu keluarga, dari dalam rumah itu terdengar suara gaduh seorang bapak yang mencoba membangunkan anaknya.
“Pelangi, ayo bangun! awan sudah mulai gelap, sebentar lagi pasti akan turun hujan. Kamu ingin ngojek tidak hari ini ?”.
“Iya iya pak, Pelangi ingin ngojek hari ini” jawab Pelangi dengan semangat.
Pelangi pun langsung mengambil payung yang berada di bawah kasur. Ia menarik payung besar berwarna kuning. Payung itu merupakan payung satu-satunya yang Pelangi miliki, dari payung itulah Pelangi mendapatkan rupiah setiap harinya. Payung itu memang sudah tidak sekokoh pada saat pertama Pelangi memilikinya. Payung itu sekarang warnanya sudah pudar, salah satu rangkanya sudah tidak berfungsi lagi sehingga payung itu tidak mengembang dengan sempurna. Tetapi menurut Pelangi itu tak jadi masalah selagi payung kebanggaannya itu masih dapat membuat orang-orang yang memerlukan jasanya tidak kehujanan.
Pelangi lalu berpamitan kepada bapaknya dan langsung berjalan menggunakan sendal jepit dan bergegas menuju halte bus. Pelangi sangat senang menjadi seorang pengojek payung walaupun memang usia Pelangi masih sangat kecil yaitu sembilan tahun tetapi Pelangi sudah mengetahui betul betapa repotnya mencari uang. Waktu itu Pelangi pernah bertanya kepada bapaknya.
“Pak, kenapa bapak begitu semangat mencari sampah dari pagi sampai sore, padahal uang yang bapak bawa tidak mampu untuk mengembalikan ibu ke dalam rumah ini pak ?”
“Pelangi, bapak ini memulung sampah agar bisa mendapatkan uang dan agar kita bisa makan setiap harinya, kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan tidak boleh mengeluh karena Tuhan sangat membenci itu. Soal ibu, itu memang sudah menjadi pilihan ibu untuk tidak tinggal bersama kita, yang harus Pelangi lakukan adalah Pelangi harus selalu mendoakan ibu agar ibu bisa hidup bahagia bersama keluarga barunya” Jelas bapaknya.
Memang sudah dua tahun ini ibunya pergi meninggalkannya dan belum pernah sekalipun ibunya datang untuk sekedar menengoknya. Pelangi tahu bahwa ibunya adalah orang yang keras yang selalu menuntut bapak untuk mendapatkan uang yang banyak setiap harinya dan jika bapak tidak mendapat uang, ibunya akan marah-marah seperti orang kesurupan. Pelangi masih ingat betul kata-kata yang diucapkan ibunya ketika ibu dan bapaknya bertengkar hebat.
“Aku sudah muak hidup bersama denganmu, aku ingin pergi jauh dan ingin hidup lebih layak tidak seperti di sini sudah bau, sumpek, kotor. Aku ingin mencari laki-laki lain yang memiliki banyak uang agar aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku”.
Pelangi sudah tidak ingin lagi mengingat kejadian itu. Baginya sekarang adalah dia harus mampu mencari uang dengan mengojek payung walaupun masih amatir tetapi Pelangi begitu yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan Bagas dan juga Retno para seniornya. Hari ini Pelangi yakin akan mendapatkan uang lebih banyak dari hari kemarin. Kemarin Pelangi hanya mendapatkan uang lima belas ribu, hari ini Pelangi harus mampu mengantongi uang dua puluh sampai dua puluh lima ribu syukur-syukur dia bisa mendapatkan lebih dari apa yang dibayangkan.
Pelangi mulai menyusuri jalan-jalan sempit untuk menuju halte bus. Sepanjang perjalanannya Pelangi tak henti-hentinya tersenyum sambil bernyanyi riang. “Tik.. tik tik bunyi hujan di atas genting. Tik.. tik tik bunyi hujan di atas genting”. Pelangi hanya menyanyi pada bait itu saja karena dia tidak begitu hafal, lagu itu pun ia dengar seminggu yang lalu di radio milik Susi tetangganya. Selain terus bernyanyi Pelangi juga terus membayangkan pundi-pundi uang yang akan dia dapatkan nanti dan dari hasil uang itu sebagian akan ia belikan payung baru yang bagus dan juga besar. Pelangi selalu ingin mengganti payung yang memang sudah butut ini.
Kini Pelangi sudah sampai di pangkalan ojek payungnya yaitu di sekitar halte bus dekat trotoar. Mobil-mobil saat ini sudah sangat padat dan tidak bisa melaju dengan kencang dikarenakan jalanan ibu kota yang selalu macet ketika hujan seperti ini. Di sebrang sana sudah nampak payung-payung berwarna-warni, rupanya teman-teman Pelangi sudah datang lebih dulu. Pelangi pun tidak ingin kecolongan dia langsung bergegas lari menuju sebrang halte seraya melambaikan tangannya kepada pengguna mobil.
“Hai, Pelangi rupanya kau ketagihan menjadi pengojek payung?”. Tanya Bagas dengan ketus.
“Ia dong, aku kan ingin seperti kamu yang bisa mendapatkan uang banyak”.
“Enak saja kau, hanya aku yang boleh mendapatkan uang banyak tidak ada satupun yang mampu menandingiku”. Jawab Bagas sombong.
“Oke, Kita lihat saja nanti”. Jawab Pelangi dengan penuh keyakinan.
Pelangi dengan semangat menawarkan payungnya. Satu demi satu payung Pelangi mulai berlalu-lalang mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuannya. Pelangi tidak begitu suka jika penumpangnya itu adalah seorang laki-laki karena menurutnya sebagian laki-laki tidak pernah kasihan padanya. Mereka selalu membawa payung Pelangi dengan terburu-buru tanpa menghiraukan Pelangi yang kehujanan sambil mengejar payung itu dan hasil upahnya tidak seberapa, padahal Pelangi sudah mengantar cukup jauh dan juga kehujanan. Lain halnya dengan penumpang perempuan yang masih memiliki rasa iba pada dirinya, terkadang Pelangi tidak harus berjalan di belakang melainkan berjalan sejajar di bawah payung dan tidak kehujanan, upah yang diberikan juga lumayan. Mereka pun selalu berkata “Jangan lupa membeli obat agar tidak sakit nantinya”. Pelangi pun membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.
Sore ini hujan memang turun begitu deras. Pelangi sudah mulai letih tetapi hasil yang ia dapat belum mampu untuk membeli payung impiannya itu. Pelangi pun tetap semangat, di sampingnya ada Bagas yang sedang menatap dengan sinis tetapi Pelangi tidak memperdulikan itu. Tatapan sinis bagas dibalas dengan senyuman hangat dari Pelangi.
Adzan Maghrib sudah mulai berkumandang. Pelangi memutuskan mengakhiri pekerjaannya hari ini, hujan pun sudah mulai reda. Halte bus yang sedari tadi dipenuhi oleh pekerja kantor sekarang sudah mulai sepi, hanya ada satu atau dua orang saja yang duduk menunggu bus datang. Pelangi memilih duduk di bawah pohon untuk mengistirahatkan diri sejenak. Tangan-tangannya keriput, bibirnya beku dan membiru, bajunya basah kuyup dan Pelangi tidak henti-hentinya meghapus air yang keluar dari hidungnya dengan ujung bajunya tetapi semuanya ini tidak sia-sia Pelangi mendapatkan uang yang lumayan banyak empat puluh lima ribu rupiah. Pelangi sangat senang senyuman itu mulai mengembang kembali di kedua bibirnya yang membiru, tidak henti-hentinya Pelangi mengucap syukur kepada Tuhan, hal itulah yang selalu diajarkan bapaknya setiap kali kita di beri nikmat.
Pelangi bangkit dari tempat duduknya, sebelum pulang Pelangi mampir dulu ke pasar dia ingin membeli payung yang sedari sore tadi telah menjadi khayalannya. Pelangi benar-benar tidak sabar untuk memiliki payung yang lebih bagus dari payungnya sekarang ini. Payung yang sekarang ada di tangannya ini nanti sudah tidak akan Pelangi pakai lagi karena sudah ada payung baru yang akan menggantikan posisi payung yang lama. Tetapi Pelangi ingat daripada payung ini menjadi bangkai lebih baik di jual saja di Pak Tarno juragan sampah di kampugnya, semua pemulung menjual barang-barang hasil memulungnya di tempat Pak Tarno walaupun uang hasil penjualannya tak seberapa yang penting Pelangi mendapatkan sedikit uang untuk bisa ditabung.
Toko-toko di pasar sudah banyak yang tutup karena memang jika hujan pasti sepi pembeli dan dagangan tidak akan laku tetapi ada satu toko yang masih buka dan memang menjual perabotan rumah tangga dan juga payung-payung yang bergelantung dengan sangat cantik. Mata Pelangi langsung tertuju kepada satu payung, Pelangi sangat suka payung itu indah, bagus, rangkanya kokoh, sangat berwarna-warni seperti pelangi seperti dirinya yang bernama Pelangi.
Payung itu kini sudah menjadi milik Pelangi. Dia sudah tidak sabar untuk memberi tahu bapak bahwa dia telah membeli payung yang begitu bagus dengan uang hasil keringatnya. Langkah kaki Pelangi berhenti ketika tiba-tiba Bagas datang menghadang Pelangi dengan melempar batu ke arah Pelangi. Pelangi sangat terkejut dan heran mengapa Bagas datang secara tiba-tiba.
“Hei, bocah ingusan sini payungmu buatku saja, kau tidak pantas memiliki payung sebagus itu”. Bagas berusaha mengambil paksa payung milik Pelangi.
Pelangi tidak menjawab dia hanya berusaha untuk memegang kedua payung miliknya dengan keras. Jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya begitu cemas dia sangat takut, bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan. Tetapi sayangnya tidak ada siapa-siapa di sini semua toko sekarang sudah benar-benar tutup. Pelangi mencoba untuk lari dengan kencang tetapi Bagas terus mengejar Pelangi. Pelangi pun terjatuh karena tersandung batu, jempol kakinya terluka dia sudah tidak bisa bangkit lagi. Pelangi menggigit bibirnya karena menahan sakit, Bagas yang melihat Pelangi terjatuh merasa senang dan tertawa puas.
Bagas berusaha mengambil payung Pelangi dengan paksa tetapi Pelangi masih memegang payung itu dengan kuat. Bagas lalu mendorong Pelangi sampai tersungkur ke tanah lalu payung itu lepas dari tangan Pelangi, badan Pelangi sangat sakit. Air matanya sudah tidak kuasa lagi ia tahan Pelangi pun menangis tersedu-sedu. Bagas langsung mengambil kedua payung Pelangi dan meludahi Pelangi sebelum akhirnya Bagas pergi meninggalkan Pelangi sendiri. Pelangi mencoba untuk berdiri, darah di kakinya terus mengucur ke tanah. Kedua payung itu sekarang sudah lenyap, Pelangi hanya bisa menangis dalam kesedihan.
Hujan kembali turun, tetesan air hujan membahasi pipi Pelangi bersamaan dengan tetesan air matanya. Tiba-tiba dia ingat dengan bapak tidak mungkin dia menceritakan kejadian ini kepada bapak bisa-bisa bapak akan naik pitam dan menghajar Bagas. Pelangi tidak ingin hal ini terjadi dia tidak ingin bapak terluka nantinya, mungkin Pelangi harus berbohong kepada bapak. Langkah kaki Pelangi begitu lambat, tubuhnya begitu lemas. Sudah tidak ada lagi semangat dalam diri Pelangi, sudah tidak ada lagi senyuman yang menghias di wajahnya seperti beberapa jam yang lalu yang ada kini hanyalah duka dan juga perasaan sangat kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar