Digital clock

Minggu, 21 April 2013

Analisis Cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sastra dapat diartikan sebagai tulisan, karangan, bahasa atau kata-kata yang memiliki nilai estetika atau keindahan. Beberapa fungsi sastra diantaranya adalah menghibur dan bermanfaat. Sastra menghibur dengan cara menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi. Sehingga dapat meracuni tanpa kita sadari. Sebagaian orang menjadikan karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan pesan tentang apa-apa yanng terjadi pada masanya. Menurut Yudiono K.S. (2007:27) “dalam hal sastra, sebuah karya sastra dapat diterangkan atau di telaah secara tuntas apabila di ketahui asal usulnya yang bersumber pada riwayat hidup pengarang dan zaman yang melingkupinya”.[1]
Karya sastra memiliki arti tersendiri bagi pembacanya, karena pada hakikatnya persoalan-persoalan yang diangkat dalam karya sastra adalah persoalan-persoalan kemanusiaan. Melalui karya sastra pula seseorang akan dapat mempelajari dan menghayati setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Aji Darma ini pertama kali dimuat di harian Kompas 5 Januari 1992, dan terpilih sebagai cerpen pilihan Kompas pada tahun 1993.[2] Cerpen Pelajaran Mengarang dipilih sebagai cerpen terbaik karena menyembunyikan klimaks dalam rentetan kilas balik, dimana seorang perempuan dipaksa menulis karangan yang mana judul-judul yang diberikan Ibu Gurunya bersebrangan dengan kehidupan nyatanya. Sehingga anak tersebut tak pernah menyelesaikan karangannya, karena tidak tahu harus menulis apa, yang ada di kepalanya hanyalah ada kehidupan kelam, tidak memiliki kehidupan yang indah. Kita merasakan ledakan di bagian akhir, ketika kita yakin bahwa anak tersebut adalah seorang anak Pelacur.[3]

B.  Rumusan Masalah
1)   Bagaimana Biografi Pengarang ?
2)   Bagaimana Sinopsis dalam Cerpen Pelajaran Mengarang ?
3)   Bagaimana unsur-unsur intrinsik dalam cerpen Pelajaran Mengarang ?
4)   Amanat apa saja yang dapat kita ambil dari cerpen Pelajaran Mengarang ?


C.  Biografi Pengarang

SENO GUMIRA AJIDARMA

SENO GUMIRA AJIDARMA lahir di Boston, 19 Juni 1958. Sastrawan yang satu ini merupakan sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, Guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Seno Gumira Ajidarma sangat bertolak belakang dengan sosok sang Ayah, ia sama sekali tidak suka berhitung, aljabar dan juga ilmu ukur seperti sang Ayah. Seno Gumira Ajidarma ini merupakan sosok yang sering membangkang terhadap peraturan Sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di Sekolah. Seno mengikuti teater Alam pimpinan Azwar A.N. Seno pun mulai mengirim puisinya ke Majalah Sastra Horison dan ternyata tembus juga. Kemudian Seno mulai menulis cerpen dan esai tentang teater.
Sebenarnya keinginan Seno adalah ingin menjadi Seniman bukan Sastrawan. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1998), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel misalnya: Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987 Seno mendapatkan Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize For Literary 1997.
Ia menyelesaiakan S3-nya dalam delapan semester diselingi proses kreatifnya melahirkan tiga novel, salah satu novelnya Negri Senja mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004, dan dua naskah drama, skenario, dan puluhan cerita pendek, kolom, esai yang di muat diberbagai media.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta, Ia juga kini membuat komik dan baru saja ia membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyupir dan si sopirnya di suruh tidur.[4]

Pendidikan Formal’nya adalah :
1994- Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta
2000- Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia
2005- Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia







D.  Sinopsis Cerpen
Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini, karya Seno Gumira Ajidarma menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Sandra berusia 10 tahun yang duduk di bangku kelas V SD Sandra sangat membenci pelajaran mengarang yang diajarkan oleh Ibu Guru Tati. Ibu Guru Tati memberikan 3 pilihan Judul kepada 40 anak muridnya, Sandra merasa teman-temanya tidak memiliki kendala apa pun dalam mengarang tetapi tidak bagi dirinya, Sandra merasa dia harus benar-benar mengarang karena dalam kenyataannya dia memang tidak mengalami kejadian yang sesuai dengan ke tiga Judul tersebut.
Sandra pun mulai memikirkan apa yang ada di benaknya tentang ketiga judul tersebut dimulai dari Keluarga yang Berbahagia, dia merasa keluarga yang bahagia ini tidak ada di dalam keluarganya dia hanya hidup dengan Mamanya tidak ada Papa di dalam kehidupnnya, Sandra pernah menanyakan hal itu terhadap Mamanya tetapi yang didapat hanyalah bentakan dan cacian dari Mamanya. Sandra pun mulai berpikir lagi mengenai Liburan ke Rumah Nenek dan yang masuk kedalam gambaranya hanyalah seorang wanita yang wajahnya penuh kerut yang selalu menghias dirinya dengan sapuan wajah yang sangat tebal, orang-orang memanggilnya dengan sebuta Mami, seorang yang berprilaku kasar terhadap Sandra yang sering mengajak Sandra ke tempat yang Sandra tak mengerti.
Sandra pun mulai berpikir tentang Ibu, seorang wanita cantik yang selalu merokok dan mabuk-mabukan yang selalu membentak dan memarahi Sandra tetapi sebenarnya Mama Sandra ini memiliki rasa penyayang terhadap Sandra dan memiliki prilaku yang manis, tetapi tak selalu Mamanya itu berprilaku manis terhadap Sandra, Sandra sering melihatnya bertingkah laku lain.
Waktu mengarang pun telah habis, Kertas yang tadi hanya dipandangi oleh Sandra yang masih putih tidak terkena noda, sekarang sudah Sandra tuliskan sepotong kalimat yang berisi :
Ibuku Seorang Pelacur...
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Unsur-unsur Intrinsik

Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik pada sebuah cerpen adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta dalam membuat cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah cerpen berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah cerpen.
Unsur yang dimaksud untuk menyebutkan sebagian saja, misalnya cerita, peristiwa, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.[5] Berikut unsur-unsur intrinsik dalam cerpen Pelajaran Mengarang :
1.    Tema
Tema dalam sebuah karya sastra, fiksi hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangunan cerita yang lain, yang secara bersama membentuk sebuah kemenyeluruhan.[6] Tema juga menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu dari awal sampai akhir.
Tema dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah mengenai Kehidupan Sosial yang dialami oleh satu keluarga yang dimana seorang Ibunya itu bekerja sebagai seorang pelacur dan anaknya baru duduk di bangku kelas V SD. Cerpen ini juga mengisahkan bahwa keadaan sosial atau pekerjaan dan lingkungan keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan dasar karakter seorang anak.

 “..Ketika berpikir tentang keluarga kami yang bahagia, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan seketika sandra pulang dari sekolah.”
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama!.” (hal. 1)

Kutipan diatas menunjukan bagaimana Sandra dapat menulis karangan tentang kebahagiaan keluarga, jika kehidupan sehari-hari yang Ia alami sama sekali tidak menunjukan kebahagiaan yang semestinya diciptakan dalam lingkungan keluarga. Keadaan rumah yang berantakan dengan benda-benda yang tidak seharusnya ia jumpai di masa anak-anak sehingga ia tidak mempunyai keluarga yang harmonis, hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak.


2.    Alur
Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahap-tahap peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.[7] Alur dalam cerpen Pelajaran Mengarang itu menggunakan alur campuran dimana terdapat alur maju dan mundur di dalam cerita tetapi lebih dominan menggunakan alur mundur karena Sandra selalu membayangkan tentang 3 judul yang di berikan oleh Ibu Guru Tati. Berikut urutan plot dalam novel ini :


a)   Tahap Awal
Tahapan awal merupakan tahap perkenalan atau berisi sejumlah informasi penting seperti penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama tempat, suasana alam waktu kejadiannya dan juga deskripsi fisik perwatakan. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini tahapan awal itu dimulai dari murid-murid kelas V SD yang sedang mengikuti pelajaran mengarang di dalam kelas yang diarahkan oleh Ibu Guru Tati, Ibu Tati adalah seorang guru yang berkaca mata tebal.
“..Dari balik kaca matanya yang tebal, Ibu guru Tati memandang 40 anak yang manis yang masa depanya masih panjang.” (hal. 1)
Dan di dalam cerita ini tokoh Sandra di gambarkan sebagai siswa yang tidak menyukai pelajaran mengarang, karena sandra selalu mendapatkan kesulitan besar karena ia benar-benar harus mengarang. Sandra merupakan anak yang terlahir dan memiliki Ibu yang bekerja sebagai pelacur. Sandra selalu sabar menghadapi sikap Mamanya karena setiap hari Sandra selalu mendapatkan perilaku yang kasar dari Mamanya. “..Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama.” (hal. 1)
Sandra pun selalu dititipkan oleh Mami (yang Sandra anggap sebagai Neneknya), Mami juga memiliki watak yang pemarah.
“..Jangan rewel anak setan! nanti kamu kuajak ke tempat ku kerja, tapi awas ya? kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!.” (hal. 2)

b)   Tahap Tangah
Tahap tengah adalah tahap dimana menampilkan pertentangan atau konflik, peristiwa-peristiwa penting mulai dikisahkan dan konflik berkembang semakin runcing. Kertas yang ada di hadapan Sandra masih terlihat kosong pada menit ke 15, Sandra masih tidak tahu harus menulis tentang apa. “Keluarga Bahagia” selama ini yang Sandra tahu dia hanya tinggal bersama dengan Mamanya tidak ada sosok Papa. Pernah Sandra menanyakan hal itu terhadap Mamanya tetapi balasanya adalah :
“..Tentu saja punya anak setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa  belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa Papa! Taik Kucing dengan Papa!” (hal. 2)

“Liburan ke Rumah Nenek” yang Sandra tahu Nenek dalam benaknya adalah gambaran seorang wanita tua yang wajahnya penuh dengan kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna tebal. Mami selalu mengajak Sandra ke tempat yang Sandra tidak mengerti yang dipenuhi dengan wanita-wanita dewasa yang tidak canggung lagi untuk berpeluk-pelukan sampai lengket.
Tiba saatnya Sandra menggambarkan “Ibu” yaitu “...gambaran seorang wanita cantik yang selalu merokok dan mabuk-mabukan dan selalu bangun siang” (hal 2). yang selalu berkata kasar terhadap Sandra seperti “..Diam, anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” (hal 3). Mama Sandra juga sebenarnya seorang yang penyayang.
“...Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng dan ayam goreng. Dan setiap kali wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta.” (hal 3).
Tetapi Mamanya tidak selalu berprilaku manis terhadapnya. Sandra lebih sering melihat Mamanya bertingkah pemarah.

c)    Tahap Akhir
Berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran tentang bagaimanakah akhir sebuah cerita. Di dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini kesudahan cerita terletak pada “..Empat puluh menit lewat sudah, pelajaran mengarang berlangsung. tetapi belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda.” (hal 4). Tetapi beberapa teman Sandra sudah banyak yang mengumpulkan dan sudah berjalan meninggalkan kelas.
Setelah waktu habis Ibu Guru Tati menyuruh semua kertas untuk dikumpulkan kedepan. Kertas Sandra pun Ia selipka di tengah-tengah kertas teman-temanya. Ibu Guru Tati tidak mengetahui bahwa di kertas putih dalam pelajaran mengarang itu Sandra hanya menuliskan kata “
“... Ibuku Seorang Pelacur.” (hal. 4).

3.    Latar
Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita dan dalam lakuan karya sastra.[8] Berikut latar dalam cerpen Pelajara Mengarang.
Ø Latar Tempat
·      Kelas
...Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas.” (hal. 1).
“...Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas.” (hal. 2).
“...Beberapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkan segera berlari keluar kelas.” (hal. 4).
·      Rumah
“..Sandra mendapatkan gambaran sebuah rumah berantakan.” (hal. 1).
“..Ini titipan si Marti. Aku tak mungkin meninggalkanya sendri di rumah.” (hal. 2).
“..Di rumahnya sambil nonto RCTI, Ibu Guru Tati memeriksa pelajaran murid-muridnya.” (hal. 4).
·      Sekolah
“..Bahkan ketika Sandra pulang dari Sekolah.” (hal. 1).
·      Hotel
“..Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomer kamar dan sebuah jam pertemuan, Ibunya akan pulang terlambat,” (hal. 4).
·      Plaza
“..Setiap hari minggu, wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini dan plaza itu.” (hal. 3).
·      Ruang Depan
“..Di ruang depan, Ia muntah-muntah.” (hal. 3).
·      Tempat Tidur atau Ranjang
“..Botol-botol beresakan di meja bahkan sampai ke tempat tidur.” (hal. 1).
“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika dipindahkan di kolong ranjang.” (hal. 4).
“..Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhanya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang.” (hal. 4).

Ø Latar Waktu
·      60 menit “..Kalian punya waktu 60 menit.” (hal. 1)
·      10 menit “..Sepuluh menit segera berlalu.” (hal. 1)
·      15 menit “.. Lima belas menit telah berlalu.” (hal. 1)
·      20 menit “..Dua puluh menit telah berlalu.” (hal. 2)
·      30 menit “..Tiga puluh menit lewat tanpa permisi.” (hal. 2)
·      Malam
“..ia pernah terbangun malam-malam.” (hal 3)
“..Suatu malam wanita itu pulang merangkak karena mabuk.” (hal. 3).
“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong meja.” (hal. 4).
·      Hari Minggu
“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu.” (hal. 3).

Ø Latar Suasana
·      Hening atau Sepi
“..Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati.” (hal. 1)
“..Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayaap yang anggun.” (hal. 2).
·      Mencekam atau Menakutkan
Suasana dimana Sandra merasa takut
“..Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras.” (hal. 2).
·      Sedih
“..Sandra pernah terbangun malam-malam melihat wanita itu menangis sendirian, dan wanita itu menangis sambil memluk Sandra.” (hal, 3).
“.. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama..” Dan pipinya basah oleh air mata.” (hal. 4).
·      Haru
“..Kadang-kadang sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji manjadi anak baik-baik.” (hal. 3).
·      Gembira
Perasaan Senang yang dialami Sandra
“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau itu. Disana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng.” (hal, 3).
·      Serius
“..Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”. (hal. 1).
·      Bimbang
“.. Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang.” (hal. 1)
·      Resah
“..Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengeti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.” (hal. 1).

4.    Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam cerita fiksi. Nurgiantoro (1995) mengatakan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita fiksi dibedakan dalam beberapa jenis berdasarkan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan sudut pandangan dan tinjauan, seperti tokoh utama dan tambahan, tokoh protagonis, antagonis, tokoh sederhana dan tokoh bulat, tokoh statis dan tokoh berkembang serta tokoh tipikal dan tokoh netral.
Peranan dan fungsi tokoh menurut teori umum tentang novel, cerpen, dan drama sangat penting untuk memahami seluk beluk novel, cerpen dan drama tersebut (Laurenson dan Swingewood, 1972 : 1993).[9] Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini terdapat 5 tokoh yaitu : Sandra, Bu Guru Tati, Marti (Mama Sandra), Mami, dan anak-anak kelas V SD (teman-teman Sandra). Analisis masing-masing tokoh tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Sandra
Sandra merupakan seorang anak kelas V SD yang berumur 10 tahun yang terlahir sebagai anak seorang pelacur. Karakter Sandra aalah pendiam, lugu, sabar, patuh, penurut dan dia sangat sabar menghadapi sikap Mamanya.
 “..Tapi Sandra 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya.” (hal, 1).
“...Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh.” (hal. 3).
Tetapi Sandra juga membenci Ibu Tati.
“...Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci, Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang”. (hal, 1).

2.    Ibu Guru Tati
Ibu Guru Tati adalah guru Sandra di kelas V SD, Ibu Guru Tati seorang guru yang selalu memberikan materi tentang pelajaran mengarang yang dibenci oleh Sandra. Ibu Guru Tati pun seorang guru yang sabar, berkacamata tebal dan belum berkeluarga.
“...Dari balik kacamatanya yang tebal, Ibu Guru Tatni memandang 40 anak yang manis”. (hal. 1).
“...Di rumahnya, sambil menonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya”. (hal. 4).

3.    Marti (Mama Sandra)
Marti ini adalah Ibu Sandra yanng bekerja sebagai seorang pelacur, dia sangat cantik tetapi sering merokok dan mabuk-mabukan. Sifatnya dia adalah pemarah, tetapi juga sebenarnya ia memiliki rasa penyayang terhadap Sandra tetapi tidak setiap harinya juga Ia bersifat manis terhadap Sandra.
“...Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berfikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan kanana dan kaki kananya selalu naik keatas kursi.” (hal. 2).
“...Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa1 Taik Kucing dengan Papa!.” (hal. 2)
“...Tentu saja Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krrim sambil berbisik, “Sandra, Sandra...”Kadang-kadang Sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan sebuah cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya untuk berjanji menjadi anak baik-baik (hal. 3).

4.    Mami
Mami ini adalah seorang wanita yang wajahnya penuh keriput dan selalu merias dirinya dengan sapuan warna yang tebal
“...Sandra mencoba berfikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan Ke Rumah Nenek” dan yang masuk ke dalam benaknya adalah seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra”. (hal. 2).
Mami ini juga adalah orang yang dianggap Sandra sebagai Nenek, padahal Mami ini seorang germo atau mucikari. Sifat Mami ini adalah kasar, pemarah dan juga dia selalu mengancam Sandra.
“...Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempat kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!”. (hal. 2)
“...Ini titipan si Marti. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah. Diperkosa orang malah repot nanti.” (hal.2 )

5.    Anak-anak kelas V SD
Teman-teman Sandra tidak terlalu banyak diceritakan, tetapi Ibu Guru Tati memandang Anak-anak keas V SD itu atau murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
“...Di rumahnya sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.” (hal. 4).


5.    Sudut Pandang
Sudut Pandang adalah penempatan isi penceritaan dalam kisah. Sudut pandang merupakan cara dan pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi terhadap pembaca (Abrams, 1981 : 142).[10] Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan. Sebelum pengarang menulis cerita, mau tak mau harus telah memutuskan memilih sudut pandang tertentu.[11]
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah orang ketiga serba tahu, diamana pengarang sama sekali tidak ikut berperan dalam cerpen, namun dapat menceritakan dan menggambarkan dengan jelas situasi perasaan yang dimiliki pelaku. Penyebutan nama atau kata ganti “Ia, dia, mereka” merupakan sudut pandang orang ketiga.
“...Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar di tiup angin kencang. Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya.” (hal. 1).

6.    Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah gaya penulisan (dialek), pribahasa dan unsur-unsur lain yang terkandung dalam cerita. Gaya bahasa juga merupakan suatu cara untuk menuansakan dan menyelaraskan bahasa agar terjalin keindahan dan pertautan antara paragraf satu dengan yang lainnya.
Gaya bahasa dalam cerpen Pelajaran Mengarang yaitu :

a)    Hiperbola
“...Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”. (hal. 1)
Kutipan di atas menunjukan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan, seperti pada menulis dengan kepala hampir menyentuh meja, seharusnya cukup ditulis dengan anak-anak itu menulis dengan serius.



b)   Sarkasme
“...Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” (hal. 1).
Dari kutipan diatas penyebut Anak Setan dan Taik Kucing menunjukkan kekasaran dalam berbahasa, bahasa yang seharusnya tidak diucapkan untuk memaki. Meskipun gaya bahasa yang digunakan bersifat Hiperbola dan Sarkasme namun mayoritas gaya bahasa yang digunakan dalam menyampaikan gagasan dan ide pengarang bersifat lugas dan jelas, sehingga semua yang membaca dapat memahami isi cerita tersebut.[12]

7.    Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah bagaimana kita seharusnya bisa merawat anak dengan baik, kalau memang Orang Tua itu sudah terlanjur masuk ke dalam dunia yang tidak baik tetapi Orang Tua itu akan berfikir jangan sampai anak kita juga bernasib sama seperti Orang Tuanya. Memang Tekanan batin sangat dialami oleh Sandra tetapi seburuk-buruknya seorang Ibu dia tetaplah Ibu kita yang menyayangi kita dan melahrikan kita. Sikap yang ditunjukan Sandra adalah selalu patuh terhadap Ibunya walaupun tidak dipungkiri Ia sering mendapatkan kata-kata dan juga perlakuan kasar dari Ibunya.
Banyak nilai moral yang harus di petik dalam cerpen ini, seperti :
“...Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik.” (hal. 3).
dalam kutipan ini Mama Sandra menyuruh Sandra agar menjadi wanita yang baik yang tidak seperti Mamanya karena Mamanya tidak ingin kelak Sandra menjadi seperti dirinya, yang hidup di kehidupan malam yang penuh dengan musik-musik keras dan selalu di tonton dengan berjuta pasang mata lelaki.


BAB III
PENUTUP

1.    Simpulan
Dari cerpen Pelajaran Mengarang ini dapat disimpulkan bahwa kita bisa merasakan bagaimana kesedihan yang dialami Sandra yang hidup dalam lingkungan yang tidak baik, yang memiliki Ibu seorang pelacur. Setelah membaca cerpen ini pasti pembaca akan bisa merasakan simpatik terhadap Sandra karena sikap dan sifat Sandra yang selalu sabar dan tetap menghormati Ibunya walau kadang kala Ibunya itu mengeluarkan kalimat-kalimat yang kasar terhadapnya.
Keluarga merupakan pusat pendidikan utama yang di dapat seorang anak, perannya sangat kuat dalam pembentukan karakter anak, keadaan keluarga yang berantakan yang di alami Sandra membawa dampak yang negatif bagi perkembangannya, seperti ketika tiba pelajaran mengarang yang diberikan oleh Ibu Guru Tati tentang 3 judul tersebut, Sandra tidak mampu mengarang karena dia memang benar-benar tidak merasakan hal seperti itu di dalam kehidupannya.








DAFTAR PUSTAKA


Budianta, Melani dkk. 2003. Membaca Sastra. Magelang : Indonesia Tera.
Jufitasari, Makalah-analisis, http://jufitasari.wordpress.com, diakses pada 22 Juni 2012, 11:52.
Juhara, Erwan dkk. 2007. Cendikia Berbahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Jakarta : PT. Setia Purna.
Kajian.Cerpan-pelajaran-mengarang. //www.sastraindonesiaku.wordpress.com, diakses pada 21 juni 2012. 19:35.
Nugriantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pelajaran-Mengarang. 2008. http://www.duniasukab.com/2008/02/03/pelajaran-mengarang. diakses pada 22 Juni 2012, 12:12.
Seno-Gumira-Ajidarma. http://www.duniasukab.com. diakses pada 22 Juni 2012. 11:35.
Teori-Fiksi-Burhan-Nurgiyantoro. http://rumahterjemah.com/lainnya/Teori-fiksi-burhan-nurgiyantoro. diakses pada 23 Juni 2012, 16:29.
Toda, Dami. N. 2007. Apakah Sastra ?. Magelang : Indonesia Tera.






[1] Melani Budianta, dkk,  Membaca Sastra, (Magelang: Indonesia Tera, 2003), h.19
[5] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 23
[6] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengakajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 74
[7] Erwan Juhara, dkk, Cendikia Berbahasa, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Jakarta : PT. Setia Purna, 2007), h.165
[8] Melani Budianta,dkk, Membaca Sastra, (Magelang : Indonesia Tera, 2003), h. 86
[9] Dami.N.Toda, Apakah Sastra?, (Magelang: Indonesia Tera, 2005), hal 122.
[10] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), h. 248

2 komentar:

  1. Perhatikan Pelajaran Sejarah dengan Pelajaran Mengarang beda lho :)

    BalasHapus