Digital clock

Sabtu, 27 April 2013

ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN SUKU SUNDA


ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN
SUKU SUNDA
 







Di Buat Oleh :
Mala Nopita Sari
(2011070012)


UNIVERSITAS PAMULANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya dan makalah ini berjudul “ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN, SUKU SUNDA”.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pohak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.



                                                                                                                                 Pamulang, April 2012

Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Sunda adalah sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke 8 sebagai lanjutan atau penerus kerajaan Tarumanegara. Pusat kerajaan berada di sekitar Bogor, sejarahnya sunda mengalami babak baru karena arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk ke kuasaan kompeni Belanda sejak 1610 dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram sejak 1625.
Suku sunda merupakan kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yaitu berasal dan bertempat tinggal di Jawa Barat. Daerah yang juga sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar Sunda. Masyarakat sunda mengartikan kata “sunda” menjadi beberapa pengertian (Hizhib: 2010) :
·      Sunda, dari kata “Saunda”, berarti Lumbung bermakna (subur dan makmur)
·      Sunda, dari kata “Sonda”, berarti bahagia
·      Sunda, dari kata “Sonda”, berarti sesuai dengan keinginan hati
·      Sunda, dari kata “Sundara”, berarti lelaki yang tampan
·      Sunda, dari kata “Sundari”, berarti wanita yang cantik
·      Sunda, dari kata “Sundara”, nama dewa kamaja (penuh rasa cinta kasih)
·      Sunda berarti indah
Jika dilihat dari arti Sunda diatas, tidak ada satupun arti yang kurang baik, hampir semua artinya baik. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan masyarakat sunda adalah pengharapan akan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.[1]

1.2.    Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu mempelajari suku sunda ini adalah agar kita dapat mengetahui seluk beluk kehidupan dari masyarakat sunda itu sendiri dan juga tidak terlepas dari bagaimana cara mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekeliling baik dalam satu suku maupun berbeda suku.
Kita juga dapat mengetahui bagaimana pola hidup dan juga pola pikir dalam suku sunda, selain itu pula kita dapat melihat hasil-hasil karya sastra yang terdapat di suku sunda yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sekarang telah menjadi ciri khas bagi masyarakat dan suku sunda tersebut. Saya akan membuat lebih rinci lagi apa saja yang akan menjadi bahasan-bahasan mengenai suku sunda, yang telah di buat dalam rumusan masalah sebagai berikut:

1.3.    Rumusan Masalah
1.3.1.      Bagaimana pola hidup suku sunda?
1.3.2.      Bagaimana 7 unsur kebudayaan suku sunda ?
1.3.3.      Apa kaitan 7 unsur kebudayaan suku sunda dengan etnografi ?
1.3.4.      Apa perbedaan dan persamaan pola hidup dan pola pikir dalam suku tersebut ?
1.3.5.      Unsur karya sastra apa saja yang terdapat di suku sunda ?


                     




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bagaimana Pola Hidup Suku Sunda
Pola hidup masyarakat suku sunda adalah berladang. Komunitas peladang ini hidupnya cenderung berpindah-pindah atau nomaden, dan budaya bersawah memang kemudian dikenal pada masa pajajaran. Namun area persawahan pada masa itu pun hanya berada di wilayah yang berdekatan dengan kota Pakuan. Sedangkan masyarakat sunda di luar Pakuan tetap bekerja sebagai peladang.
Para petani menggarap sawah mereka untuk keperluan orang-orang kota Pakuan semacam bangsawan, bukanlah untuk diri mereka pribadi. Masyarakat hanyalah patut dan tunduk oleh para bangsawan.
Selain bekerja sebagai peladang, masyarakat sunda juga ada yang bekerja sebagai penggali saluran untuk menangkap ikan, dan untuk masyarakat yang hidup di pesisir pantai atau pun laut mereka akan mencari nafkah dengan menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring. Pola hidup bertani dan berladang itu pasti dilakukan oleh masyarakat sunda, biasanya masyarakat peladang bertani di perbukitan dan masyarakat petani (persawahan) bertani di daerah yang lebih lembab.[2]

2.2. Bagaimana 7 Unsur Kebudayaan Suku Sunda
Unsur-unsur kebudayaan suku sunda adalah :

1.    Bahasa
Bahasa sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain, yaitu :
Ø Bahasa sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
Ø Bahasa sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya
Ø Bahasa sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian di Serang dan di Cilegon, lebih lazim menggunakan bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh teknik pendatang dari suku jawa.

2.    Religi/Agama
Sebagian besar masyarakat suku sunda menganut Agama Islam, namun ada pula yang beragama kristen, hindhu atau budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat karena bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya kekuatan ghaib. Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lain.

3.    Mata Pencaharian
Mata pencaharian pokok masyarakat sunda adalah :
·      Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet dan kina
·      Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran
·      Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau
·      Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, peternak.


4.    Organisasi Sosial
Sistem kekerabatan yang digunakan adalah sistem kekerabatan parental atau bilateral, yaitu mengikuti garis keturunan kedua belah pihak orang tua yaitu bapak dan ibu. Dalam keluarga sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku sunda.
Dalam bahasa sunda dikenal pula kosa kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sejarah adalah susun galur atau garis keturunan.
Pada saat menikah, orang sunda tidak ada keharusan menikah dengan keturunan tertentu asal tidak melanggar ketentuan agama. Setelah menikah, penggantin baru bisa tinggal di tempat kediaman istri atau suami tetapi pada umumnya mereka memilih tinggal di tempat baru atau neolokal.
Dilihat dari sudut ego, orang sunda mengenal istilah tujuh generasi keatas dan tujuh generasi ke bawah, antara lain yaitu :
Tujuh generasi keatas :
Kolot            Embah         Buyut           Bao           Janggawareng           Udeg-udeg
             Gantung Siwur

Tujuh Generasi Kebawah :
Anak          Incu           Buyut           Bao          Janggawareng         Udeg-Udeg
         Gantung Siwur

5.    Kesenian
Masyarakat sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat jenis kesenian diantaranya seperti :
v Seni tari : tari topeng, tari merak, tari sisingaan dan tari jaipong.
v Seni suara dan musik
ü Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi
ü Salah satu lagu daerah sunda antar lain yaitu Bubuy bulan, Es Lilin, Manuk dadali, Tokecang, dan Warung Pojok.
v Wayang Golek
v Senjata tradisonal yaitu kujang

6.    Sistem Peralatan dan Teknologi
Sistem peralatan masyarakat sunda terdapat pada senjata tradisionalnya yaitu kujang. Senjata seperti kujang ini disimpan sebagai pusaka yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkan di atas tempat tidur (Hazeu, 1904: 405-406). Menurut sebagian orang kujang mempunyai kekuatan tertentu yanng berasal dari dewa (Hyang), kujang juga dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa organisasi serta pemerintahan. Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat sunda, kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral.
Berdasarkan fungsi kujang terbagi menjadi empat antara lain, Kujang Pusaka ( lambang keagungan dan perlindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara), Kujang Pamangkas ( sebagai alat berladang).
Teknologi di masyarakat sunda pula saat ini sudah berkembang pesat, masyarakat saat ini sudah banyak mengenal dan bahkan memiliki benda-benda elektronik, tetapi adapula masyarakat sunda yang masih kental dengan adat dan menghindari tentang adanya teknologi dan unsur modern. Contohnya adalah masyarakat baduy. Mereka memang tidak begitu suka dengan perubahan teknologi, karena bagi mereka adat leluhur dari nenek moyang haruslah tetap dijalankan.[3]



7.    Sistem Pengetahuan
Pendidikan di suku sunda sudah dibilang sangat berkembang baik. Terlihat dari peran pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintah. Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundemental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, menginggat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karekteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku sunda memiliki potensi budaya dan karekteristik tersendiri, baik secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna yag sangat mendalam.


2.3. Apa Kaitan 7 Unsur Kebudayaan Suku Sunda Dengan Etnografi

Di dalam 7 unsur suku sunda itu yang di bahas pada halaman sebelumnya yang berupa : bahasa, agama, organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, mata pencaharian, sistem peralatan dan teknologi, merupakan hal-hal yang sangat berkaitan dengan etnografi. Unsur-unsur itu juga sangat bervariasi dalam etnografi, misalnya saja dalam berbahasa karena bahasa seperti bahasa sunda itu memiliki berbagai macam bahasa yang berbeda-beda, ada yang halus dan juga yang kasar. Dalam teknologi pula cara memproduksi, memakai dan memelihara segala peralatan hidup dalam karangan etnografi yang cukup membatasi diri terhadap teknologi yang tradisional.
Hubungan kekerabatan dan kehidupan masyarakat pun biasanya masing-masing sangat penting. Sistem kekerabatan bersangkutan dengan etnografi karena banyak memiliki aneka warna suku tersebut, misalkan dalam berbagai aktivitas kerjasama atau gotong royong. Dan dalam komunikasi pula soal hubungan dan sikap antara pemimpin dan pengikut harus seimbang dalam komunitas. Sistem pengetahuan pun merupakan ilmu yang harus dimiliki oleh masyarakat, seberapa kecil pun, tidak mungkin dapat hidup tanpa pengetahuan tentang alam sekeliling dan sikap-sikap dari peralatan yang dipakainya.
Jadi dari semua unsur-unsur itu etnografi bersifat sangat universal, etnografi itu sangat mencakup aktivitas adat istiadat, pranata-pranata sosial dan benda-benda kebudayaan. Dan etnografi merupakan pelengkap dari ke 7 unsur kebudayaan sunda tersebut.[4]

2.4. Apa Perbedaan & Persamaan Pola Hidup dan Pola Pikir Dalam Suku Sunda
A.   Perbedaan pola hidup & pola pikir
·      Masyarakat sunda tidak pernah tertinggal tentang berpikiran mengenai mitos-mitos yang telah mereka percaya sejak dulu, sedangkan pola hidupnya itu lebih banyak diakukan untuk bercocok tanam
·      Pola pikir masyarakat sunda pun terkadang juga selalu mementingkan masa depan atau pemikiran kedepan seperti apa, dan pola hidupnya pun sangat mudah untuk beradaptasi dengan baik antara sesama dengan menggunakan bahasa sunda ataupun dengan suku yang berbeda dan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
·      Pola pikir suku sunda pun adalah sangat mencintai hasil karya keseniannya, karena dari mencintai kesenian itu dapat menimbulkan rasa optimis, dan juga memiliki watak yang terbuka tetapi juga terkadang memiliki sifat yang sangat perasa, biasanya masyarakat sunda menyebutnya dengan sifat pundung.[5] Pola hidupnya juga mereka dapat beradaptasi dengan baik walaupun misalnya mereka sudah hidup merantau atau keluar dari wilayah suku sunda, dan hubungannya itu berjalan sangat positif.

A.   Persamaan pola hidup & pola pikir
·      Pola hidup dan pola pikir yang dijalani oleh masyarakat suku sunda itu memiliki sifat yang seimbang, contohnya saja dalam hal beradaptasi. Mereka harus bisa beradaptasi dengan baik apalagi bila mereka sudah tinggal di dalam lingkungan yang berbeda-beda suku secara otomatis mereka akan berpola pikir bahwa mereka harus bersifat ramah-tamah dan saling menghargai antara sesama.
·      Pola pikir yang telah mengalami perkembangan pada suku sunda ini sangat amat berdampak positif terhadap pola hidup mereka. Dengan pengetahuan dan juga pendidikan yang suduh cukup banyak didapat oleh masyarakat suku sunda tersebut dan juga dengan teknologi yang semakin berkembang menyebabkan pola hidup yang begitu baik bagi mereka, misalnya saja jika mereka bersekolah tinggi dan mendapat nilai yang baik dan bagus secara otomatis mereka akan bekerja dan di tempatkan pada posisi yang tinggi dan mendapatkan gaji cukup pula dan itu menyebabkan pola hidup mereka akan jauh lebih baik. Tetapi jika mereka hanyalah mengenyam pendidikan yang kurang baik maka pola hidup mereka pun akan serta-merta tidak baik pula. Jadi pada intinya pola hidup dan pola pikir itu sangatlah berpengaruh bagi kehidupan mereka.[6]
2.5. Karya Sastra yang Terdapat di Suku Sunda
Karya sastra merupakan karya yang memiliki nilai estetika. Karya sastra juga terdapat di berbagai daerah, seperti di suku sunda ini banyak sekali karya sastra yang dapat kita temui dari jaman dahulu. Kesusasteraan-kesusasteraan sunda itu bukan suatu unsur kebudayaan yang hanya dikenal di lingkungan yang kecil saja, akan tetapi dikenal secara luas dalam masyarakat. Dalam pertunjukan reog, permainan yang selalu dapat menyesuaikan dirinya di setiap zaman, tampaklah betapa bahasa dan sastra sunda itu merupakan bagian yang esensil dari kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat.
Di dalam suku sunda terdapat kesusastraan yang kaya. Bentuk sastra sunda yang tertua adalah pantun, yaitu cerita pahlawan-pahlawan nenek moyang sunda dalam bentuk puisi diselang-seling oleh prosa berirama seperti bentuk panglipurlaraan. Tukang-tukang pantun itu mendongengkan cerita-cerita pantunya diiringi dengan musik kecapi. Cerita itu biasanya menceritakan tentang pahlawan-pahlawan sunda dan juga raja-rajanya pada zaman dahulu. Bagi orang sunda cerita-cerita pantun itu menduduki tempat yang khas dalam hatinya.
Sesudah zaman pantun dikenal zaman wayang dan juga wawacan. Cerita-cerita wayang kebanyakan berasal dari epos Ramayana dan Mahabrata, tetapi sekarang sudah banyak karangan dari Ki Dalang sendiri. Wayang di sunda lebih merupakan hiburan, dan orang yang menyaksikannya biasanya tidak terlalu tertarik dengan lakonnya, melainkan oleh keterampilan sang dalang untuk memainkan wayangnya, atau lebih tertarik oleh nyanyian-nyanyian sindennya. Di dalam wayang itu sendiri terdapat unsur kesenian ialah seni sastra, seni tembang dan gamelan, dan pertunjukan wayang itu masih sering diadakan di daerah-daerah pedesaan maupun di kota-kota.
Cerita wawacan dalam bahasa sunda banyak diambil dari cerita-ceirta islam. Dahulu wawacan itu sering dinyanyikan, dan ini disebut beluk. Biasannya seorang membacakan satu kalimat dari wawacan itu yang berbentuk puisi tembang dari jawa, dan seorang yang lain menyanyikannnya. Orang yang membaca dan menyanyi duduk di tikar di bawah, atau tidur-tidruan, demikian pula yang mendengarkannya. Beluk itu biasa di perdengarkan sambil menunggui orang yang baru melahirkan. Lamanya hampir semalaman suntuk. Sekarang orang sunda sudah jarang mendengarkan beluk.
Disamping pantun, wayang dan wawacan, dalam kesusastraan sunda terdapat bermacam-macam cerita rakyat seperti: Sangkuriang yaitu cerita tentang terjadinnya Gunung Tangkubanprahu dan danau purba di dataran tinggi Bandung, serta varian-variannya mengenai terjadinya beberapa gunung dan danau di Jawa Barat. Satu macam cerita rakyat di sunda adalah cerita si Kabayan satu contoh sastra yang dilukiskan sebagai seorang yang malas dan bodoh, akan tetapi sering-sering tampak pula kecerdikannya.[7]
















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa suku sunda ini adalah suku yang memang sangat kental dengan unsur budayanya, selain itu juga suku sunda terkenal dengan kuliner dan hasil budaya yang memang masih disimpan baik di dalam suku sunda tersebut.
Saya sebagai seorang yang terlahir di dalam adat suku sunda sendiri pun merasa bangga dengan suku yang memang melekat pada dalam diri saya, karena yang saya tahu adalah suku sunda itu juga memiliki sifat yang ramah yang bisa saling menghargai walaupun kepada orang-orang yang belum di kenalnya, mereka juga sangat bersifat baik dalam bahasa sundanya itu adalah “someaah hade ka semah”. Dan itu lah yang menjadikan saya, dan mungkin seluruh masyarakat yang terlahir di dalam suku sunda bangga terhadap sukunya tersebut.

3.2. Saran
Saran yang dapat saya berikan adalah kita harus mengetahui bermacam-macam suku yang ada di Indonesia bukan hanya suku sunda tetapi masih banyak suku-suku yang lainya. Mengenai suku sunda sendiri kita harus bisa lebih mengembangkan suku yang kita miliki dari sejak lahir, contohnya saja dalam berbahasa, kita harus bisa menguasai bahasa dalam suku kita kalaupun misalkan kita tidak bisa menggunakan bahasa itu dengan baik, kita harus bisa memahami makna dan maksudnya sedikit saja.
Suku itu merupakan bagian pokok dari kebudayaan Indonesia. Tidak mungkin seseorang lahir tanpa adanya suku, pastilah merka memiliki suku yang telah dibawa oleh kedua orang tuanya jika suku-suku dari kedua orang tua berbeda kita tidak boleh condong terhadap satu suku saja tetapi alangkah lebih baiknya kita bisa mempelajari dan mengenal lebih dekat dari kedua suku-suku tersebut.




















DAFTAR PUSTAKA

Rosidi, Ayip. Revitalitas Dan Aplikasi Nilai-Nilai Budaya Sunda Dalam Pembangunan Daerah. Bandung. 2010
Ningrat, Koentja. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. 1982
Supriatna, Jatna. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2008










LAMPIRAN
 



















Ini adalah hasil-hasil kebudayaan dari suku sunda


[3] Ayip Rosidi. Revitalitas dan Aplikasi Nilai-Nilai Budaya Sunda Dalam Pembangunan Daerah. (Bandung : 2010), hal. 117
[5] Koentjaraningrat. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. (Jakarta: Djambatan, 1982). H, 303
[7] Koentjaningrat. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. (Jakarta: Djambatan, 1982). Hal, 301 & 302

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar