Digital clock

Sabtu, 27 April 2013

TEORI DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK


TEORI DALAM KOMUNIKASI KELOMPOK

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Nilai Mata Kuliah Teknik Penyiaran
Dosen : Rerin Maulinda, Mpd.
 








Disusun Oleh  :
Mala Nopita Sari
(2011070012)
Maria Ulfa
(200110700
55)

FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2013
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya makalah Teknik Penyiaran yang berjudul “Teori-teori dalam komunikasi”
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.


                    


Pamulang, April 2013


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan(penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung atau tidak langsung dengan maksud memberikan dampak kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator atau komunikasi dapat diartikan sebagai proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.
Kelompok dalam masyarakat kita ada banyak. Misalnya, kelompok pengajian di masjid, kelompok paguyuban, kelompok bermain, kelompok dalam sebuah organisasi dan kelas belajar. Kelompok dapat diidentifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, suku bangsa, dan jenis pekerjaan. Dalam sebuah kelompok terjadi interaksi antar anggota kelompok. Maka dari itu, komunikasi kelompok lahir sebagai bentuk komunikasi. Komunikasi kelompok mengatur bagaimana komunikasi berjalan dengan anggota kelompok satu dengan yang lainnya, bagaimana interaksi yang terjadi di dalam kelompok itu sendiri. Komunikasi kelompok terjadi karena tujuan tertentu yang ingin disampaikan, sehingga pesan yang perlu diterima, ditanggapi, diolah dalam benak dan pikiran anggota kelompok.
2.    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian komunikasi kelompok ?
2.      Apa saja bentuk komunikasi kelompok ?
3.      Apa saja teori-teori komunikasi dalam kelompok ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian komunikasi kelompok
Komunikasi kelompok adalah interaksi tatap muka dari tiga individu atau lebih dengan tujuan yang sudah diketahui sebelumnya seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri, pemecahan masalah, yang anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota kelompok lainnya dengan tepat. Komunikasi kelompok terdapat berbagai informasi, pemecahan masalah, menjaga hubungan antar anggota. Seorang anggota kelompok bila telah bergantung dengan kelompok ia bukan sosok individu melainkan bagian dari kelompoknya.
Komunikasi kelompok memiliki karakteristik yang unik, dimana kepribadian seorang individu bisa berubah bila ia menjadi bagian dari kelompoknya. misalnya, sifat seorang yang sangat pendiam dan pasif bisa berubah menjadi seorang yang aktif dan agresif apabila berada di dalam kelompok keadaan suatu kelompok membuat seseorang bisa berbuat sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya bia sendirian.
B.  Bentuk komunikasi kelompok
Komunikasi kelompok terdiri atas dua bentuk, yaitu :
a. Komunikasi Kelompok Deskriptif
Dalam komunikasi kelompok deskriptif, pengelompokkan sejumlah orang terdiri atas kelompok tugas, kelompok pertemuan, dan kelompok penyadar.
b. Komunikasi Kelompok Perspektif
Dalam komunikasi kelompok perspektif akan dijelaskan bagaimana suatu kelompok dapat menyelesaikan suatu persoalan, menyelesaikan tugas, menyampaikan gagasan, dan hal-hal lain yang dapat dikomunikasikan antara sejumlah orang yang terlibat dalam kelompok tersebut. Berikut ini adalah format yang biasa dilakukan pada komunikasi kelompok perspektif, antara lain:
1.      Diskusi meja bundar adalah format berdiskusi dengan cara melingkar dimana tidak ada seorang moderator yang ditunjuk secara khusus.
2.      Forum ceramah adalah format diskusi yang dilakukan terutama sekali untuk saling berbagi informasi.
3.      Prosedur parlementer adalah format diskusi yang secara ketat mengatur peserta diskusi yang besar pada periode waktu yang tertentu ketika sejumlah keputusan harus dibuat.
4.      Seminar adalah seorang /kelompok ahli yang bertugas menjawab pertanyaan-pertanyaan hadirin/pers.


C.  Tipe Komunikasi Kelompok
Ronald B. Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem solving group). Masing-masing tipe kelompok tersebut akan kita bicarakan dengan lebih rinci, karena setiap kelompok memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda.

1.    Kelompok Belajar (Learning Group)
Ketika kita mendengar kata “belajar” atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning group, namun itu bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya. Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerirna pengetahuan.

2.    Kelompok Pertumbuhan (Growth Group)
Jika learning anggotanya group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan eksternal sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalahan pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1, serta kelompok yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousness raising group. Karakteristik yang terlibat dalam tipe kelompok growth group ini adalah tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membantu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi.

3.    Kelompok Pemecahan Masalah (Problem Solving Group)
Orang-orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara-cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan-pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak-anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana para warga yang tergabung dalam satu Rukun Tetangga (RT) berusaha mengorganisasi diri mereka sendiri guna mencegah tindak pencurian melalui kegiatan sistem keamanan lingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling. Problem solving dalam operasionalnya, melibatkan da aktivitas penting. Pertama, pengumpulan informasi (gathering information) : bagaimana suatu kelompok sebelum membuat keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut. Dan kedua adalah pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi.

D.  Teori-teori komunikasi kelompok
a)   Teori Perbandingan Sosial
Kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan kelompok kita dengankelompok lain. Hal-hal yang dibandingkan hampir semua yang kita miliki, mulai dari status sosial, status ekonomi, kecantikan, karakter kepribadian dan sebagainya. Konsekuensi dari pembandingan adalah adanya penilaian sesuatu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Melalui perbandingan sosial kita juga menyadari posisi kita di mata orang lain dan masyarakat. Kesadaran akan posisi ini tidak akan melahirkan prasangka bila kita menilai orang lain relatif memiliki posisi yang sama dengan kita. Prasangka terlahirketika orang menilai adanya perbedaan yang mencolok (Myers, 1999). Dalam masyarakat yang perbedaankekayaan anggotanya begitu tajam prasangka cenderung sangat kuat. Sebaliknya bila status sosial ekonomi relatif setara prasangka yang ada kurang kuat. Para sosiolog menyebutkan bahwa prasangka dan diskriminasi adalah hasil dari stratifikasi sosial yang didasarkan distribusi kekuasaan, status, dan kekayaan yang tidak seimbang diantara kelompokkelompok yang bertentangan (Manger, 1991).
Contoh kasus: Adanya perbedaan pendapat dan adanya perbedaan tujuan disebuah kantor ada sebuah perbedaan sosial yaitu antara atasan dan bawahan, manajer dan karyawan dengan ini biasanya sering terjadi konflik atau masalah dan juga kerjaan yang menumpuk , karyawan yang tidak disiplin dan adanya perbedaan gaji ini dapat menjadi suatu konflik perbandingan sosial dan dimana ada juga sama-sama karyawan tapi dibedakan gaji dan fasilitas ini juga salah satu perbandingan sosial yang jelas akan menimbulkan suatu konflik.



b)   Teori Percakapan Kelompok
Teori percakapan kelompok ini sangat berkaitan dengan produktivitas kelompok atau upaya-upaya untuk mencapainya melalui pemeriksaaan masukan dari anggota (member input), variable-variabel perantara (mediating variables), dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input yang berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai perilaku, interkasi dan harapan-harapan (expectation) yang bersifat individual.
Sedangkan variable-variabel perantara merujuk pada strukturstruktur formal dan struktur peran dari kelompok seperti status, norma, dan tujuan-tujuan kelompok. Yang dimaksud dengan output kelompok adalah pencapaian atau prestasi dari tugas atau tujuan kelompok. Produktivitas dari suatu kelompok dapat dijelaskan melalui konsekuensi perilaku, interaksi dan harapan-harapan melalui struktur kelompok. Dengan kata lain, perilaku, interaksi dan harapan-harapan (input variables) mengarah pada struktur formal dan struktur peran (mediating variables) sebaliknya variabel ini mengarah pada produktivitas, semangat dan keterpaduan (group achievement).
Contoh kasus : ketika ada suatu kelompok suku budaya yaitu budaya batak dan jawa yang membedakan antara bahsa dan konotasi dalam pengucapan kalau jawa terkenal dengan kelembutannya akan tetapi suku batak yang terkenal dengan suara keras dan lantang ini terkadang menjadi suatu problem karna pada dasar nya orang-orang di indonesia terlalu sensitif oleh karna itu dari kedua suku akan menimbulkan konflik apabila ada suatu percakapan yang sebenernya biasa saja tapi kalau ditanggapi dengan konotasi suara yang kencang akan menimbulkan seperti suatu emosi dan dengan kelmbutan di anggap tidak keseriusan dan ini dapat menjadi konflik antara suku-suku yang ada di indonesia.

c)    Teori Pertukaran Sosial
Teori pertukaran sosial ini didasarkan pada pemikiran bahwa seseorang dapat mencapai satu pengertian mengenai sifat kompleks dari kelompok dengan mengkaji hubungan di antara dua orang (dydic relationship). Suatu kelompok dipertimbangkan untuk kumpulan dari hubungan antara dua partisipan tersebut. Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi menusia melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan (reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respon dari individu-individu selama interaksi sosial. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri atau individu-individu yang terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apa pun yang mereka cari. Pendekatan pertukaran sosial ini penting karena berusaha menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep ekonomi dan perilaku mengenai biaya dan imbalan.
Contoh Kasus : Hubungan suami istri melalui sebuah ikatan pernikahan. Pola-pola perilaku dalam sebuah pernikahan, hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan. Banyak perceraian diantara pasangan suami istri terjadi karena salah satu di antara mereka merasa tidak terjadi kecocokan dengan pasangannya serta merasa dirugikan dengan ikatan pernikahan tersebut. Fenomena perceraian sangat sering kita saksikan melalui layar televisi, perceraian selebritis. Bahkan buntut dari perceraian tersebut adalah sebuah pertikaian dimana antara keduanya tidak ada yang mau mengalah. Yang awalnya mereka saling mengumbar kasih sayang tetapi setelah bercerai malah saling melempar caci maki dan kebencian. Sebuah ikatan antara suami istri dalam pernikahan harusnya dipandang sebagai sebuah ikatan suci dan sakral. Sebelum membangun komitmen dalam sebuah ikatan pernikahan seharusnya antara pria dan wanita harus saling mengenal satu sama lain. Alangkah baiknya jika sebuah pernikahan dilandasi oleh pemahaman agama yang baik. Dalam menjalani ikatan pernikahan seharusnya suami istri selalu berkomunikasi secara intens dan terbuka satu sama lain. Masing-masing pasangan juga harus saling memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pasangannya. Ketika pasangan tidak mampu dalam suatu hal maka alangkah bijaknya jika ia tidak menuntut hal tersebut diluar kesanggupan pasangannya. Komitmen-komitmen seperti inilah yang harus dikedepankan agar tidak terjadi perselisihan yang akan berakibat pada perceraian.



























BAB III
PENUPUT

1.    Simpulan
Banyak sekali cara-cara yang dapat kita temukan dan terapkan dari hasil penelitian banyak pakar komunikasi. Apa yang perlu kita perhatikan adalah kapan dan bagaimana menerapkannya dalam kondisi yang sesuai dengan yang kita hadapi sehari-hari. Menerapkannya pun bukan perkara yang mudah, banyak sekali perbedaan yang menjadi penghalang untuk suatu teori itu diterapkan begitu saja. Ada perbedaan kepribadian, kebiasaan, pendidikan, latar belakang bahkan kebudayaan yang bisa secara signifikan menghambat usaha-usah konstruktif. Namun semua itu adalah keterampilan yang terus menerus harus dikembangkan, karena kita tahu bahwa keterampilan berkomunikasi itu adalah sesuatu yang dilatih bukan dilahirkan begitu saja.
Dahulu, orang-orang mempelajari komunikasi sebagai suatu proses tatap muka bahkan ada waktu dan jarak yang menjadi kendala. Banyak peneliti mengemukakan cara-cara efektif berkomunikasi pada tataran ini. Pada era komunikasi tanpa batas seperti saat ini, channel lebih beragam lagi. Orang bisa berkomunikasi melalui telekonferensi dalam berbagai keperluan bahkan tidak hanya untuk interpersonal, kelompokpun bisa melakukannya.
 Itulah dinamika komunikasi. Hingga kapanpun fenomena-fenomena baru akan terus bermunculan. Sebuah jalan panjang yang akan kita tempuh sembari terus mencari-cari cara yang terbaik untuk mengatasi semua kelemahannya yang bergerak linier dengan kelebihannya.






DAFTAR PUSTAKA


West, Richard. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Hunaika.

Sarwona, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial, Psikologi Kelompok dan Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar